Purna Tugas Bukan Akhir! Menko Polkam Djamari: Sumpah Prajurit Tak Pernah Dicabut

Jakarta, IDM – Masa pensiun bukanlah garis akhir pengabdian seorang prajurit kepada bangsa dan negara.
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago saat menerima kunjungan silaturahmi Perhimpunan Purnawirawan TNI Angkatan Udara (PPAU) di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta.
Djamari menegaskan, status purnawirawan tidak menghapus sumpah dan tanggung jawab kebangsaan yang pernah diikrarkan seorang prajurit. Menurutnya, semangat pengabdian harus tetap melekat sepanjang hayat.
“Artinya, pengabdian kita kepada negara tidak ada batas berhentinya. Kita akan berhenti ketika tembakan salvo mengantar kita sampai ke liang lahat,” ujar Djamari.
Baca Juga: Menko Polkam Djamari: Pangkat Tinggi, Tanggung Jawab Makin Besar! Pemimpin Harus jadi Teladan
Djamari menegaskan bahwa memasuki masa purna tugas bukan berarti seorang prajurit berhenti memikirkan kepentingan bangsa.
Justru, lanjut Djamari, pengalaman panjang selama berdinas dapat menjadi modal strategis untuk memberikan perspektif dan masukan dalam menghadapi berbagai persoalan nasional.
Djamari melihat para purnawirawan memiliki pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman terhadap persoalan pertahanan dan keamanan yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa.
Kapasitas ini dinilai tetap relevan di tengah perubahan lingkungan strategis yang berlangsung cepat.
Perkembangan geopolitik global, transformasi teknologi, hingga dinamika politik dan keamanan nasional menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan pemikiran lintas generasi.
Menurutnya, pengalaman para purnawirawan dapat menjadi salah satu sumber masukan dalam membaca perubahan dan menentukan langkah yang tepat.
Baca Juga: Menko Polkam Djamari Sebut Ruang Digital sebagai Padang Kurusetra: Siapa Menguasai, Dia Menang
“Tentunya kita harus terus berpikir, apa yang masih bisa kita abdikan kepada bangsa. Maka itu, kita perlu ada forum seperti ini, berkomunikasi, dan terus mengikuti perkembangan apa yang terjadi di negara ini,” kata Djamari.
Djamari menyebut silaturahmi antara pemerintah dan purnawirawan bukan sekadar ajang menjaga hubungan emosional sesama keluarga besar TNI.
Lebih dari itu, forum dapat menjadi ruang pertukaran gagasan untuk melihat persoalan bangsa secara lebih komprehensif.
“Kita pernah mengemban tugas kebangsaan ini sehingga pengalaman dan pemahaman kita tetap dapat memberikan manfaat,” ujarnya.
Djamari juga membuka ruang komunikasi yang luas bagi para purnawirawan untuk menyampaikan pandangan, pemikiran, maupun masukan sesuai dengan bidang tugas dan kompetensi masing-masing.
Baca Juga: Menko Polkam: Kalau TNI-Polri Tak Kompak, Negeri Ini Tak akan Tegak dan Kokoh
Keterlibatan itu menjadi penting karena tantangan pertahanan dan keamanan nasional saat ini semakin kompleks.
Ancaman tidak hanya muncul dalam bentuk konvensional, tetapi juga bersinggungan dengan perkembangan teknologi, geopolitik, informasi, serta perubahan lingkungan strategis.
Adapun rombongan PPAU dipimpin Marsdya TNI (Purn.) Wieko Syofyan selaku Plt. Ketua Umum PPAU. Ia didampingi Marsekal TNI (Purn.) Herman Prayitno, Marsekal TNI (Purn.) I.B. Putu Dunia, serta jajaran PPAU lainnya.
Sementara itu, Menko Polkam didampingi Wamenko Polkam Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta para deputi di lingkungan Kemenko Polkam.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































