Tank Boat Antasena Perkuat Pertahanan Perairan Dangkal Indonesia

Industri pertahanan nasional kembali menunjukkan inovasinya melalui pengembangan Tank Boat Antasena, kapal tempur berkonsep unik yang menggabungkan daya gempur kendaraan lapis baja dengan mobilitas kapal cepat. Apa saja spesifikasi keunggulannya?
Jakarta, IDM – Tank boat Antasena dikembangkan oleh PT Pindad (Persero) bekerja sama dengan PT Lundin Industry Invest, serta melibatkan PT Len Industri dan PT Hariff Daya Tunggal Engineering dalam integrasi sistem elektronik dan persenjataan. Prototipe tank boat Antasena telah menjalani uji coba laut di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai bagian dari tahapan pengembangan menuju kesiapan operasional.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Prima Kharisma menyebut Antasena dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan operasi di wilayah rawa, sungai, laut, dan pantai (Ralasuntai). “Konsep tank boat ini disiapkan untuk menghadapi karakter geografis Indonesia yang didominasi perairan dangkal dan sungai. Mobilitas tinggi dan daya tembak kuat menjadi keunggulan utamanya,” ujarnya.
Secara teknis, Antasena memiliki panjang sekitar 18,7 meter dan lebar 7,5 meter dengan bobot sekitar 43 ton. Desain lambung menggunakan model catamaran (double hull) yang memberikan stabilitas lebih baik saat melaju dalam kecepatan tinggi maupun ketika melakukan manuver.
Draft kapal yang hanya sekitar 0,9 meter memungkinkan operasional di perairan dangkal yang tidak dapat dijangkau kapal perang konvensional. Untuk sistem propulsi, Antasena menggunakan dua mesin diesel bertenaga tinggi yang dikombinasikan dengan sistem waterjet. Konfigurasi tersebut memungkinkan kecepatan maksimum mencapai sekitar 40–50 knot. Selain cepat, sistem waterjet juga meningkatkan kelincahan saat bermanuver di wilayah sempit seperti sungai.
Baca Juga: Langit yang Belum Utuh: Menguji Ketahanan Radar GCI Indonesia
Salah satu ciri khas Antasena terletak pada sistem persenjataannya. Kapal ini mengadopsi turret modular produksi perusahaan Belgia, John Cockerill Defense, seri Cockerill 3000.
Varian yang diperkenalkan menggunakan meriam kaliber 30 mm yang dilengkapi sistem kendali tembak modern dan stabilisasi, sehingga tetap akurat meski kapal bergerak. Selain itu, tersedia pula senapan mesin berat kaliber 12,7 mm sebagai persenjataan pendukung. Konsep modular ini memungkinkan peningkatan konfigurasi persenjataan sesuai kebutuhan operasional.
Selain sebagai platform tempur, Antasena juga mampu mengangkut sekitar 60 personel pasukan dengan lima awak inti kapal. Kapasitas tersebut membuka kemungkinan penggunaan sebagai kapal pendukung operasi amfibi maupun mobilisasi cepat pasukan di wilayah pesisir dan sungai.

Simbol Kemandirian Alutsista Indonesia
Pengembangan Antasena juga mencerminkan peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri. Kolaborasi antara BUMN strategis dan industri galangan kapal nasional menunjukkan upaya memperkuat kemandirian alutsista.
Dengan uji coba yang telah dilakukan dan evaluasi lanjutan yang terus berjalan, Tank Boat Antasena diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam memperkuat pertahanan maritim Indonesia di masa mendatang.
Baca Juga: Spesifikasi USV Kamikaze yang Tampil dalam Latihan Terintegrasi TNI 2026, Adopsi Sistem KSOT
Terpisah, Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog Kasal), Laksamana Muda TNI Mulyatna, mengemukakan bahwa tank boat Antasena ini dirancang untuk beroperasi di perairan dangkal, sungai, dan wilayah pesisir dengan kemampuan tempur jarak dekat yang andal.
Hal itu, kata Mulyatna, bisa terlihat saat tank boat Antasena menunjukkan performa dan ketangguhannya tampil dalam Sailing Pass peringatan HUT ke-80 TNI di Teluk Jakarta.

Kehadiran Antasena dalam parade laut tersebut menjadi simbol kesiapan operasional sekaligus wujud nyata kemajuan teknologi pertahanan nasional.
Dengan desain yang dirancang untuk perairan dangkal, sungai, dan pesisir, tank boat ini diproyeksikan sebagai unsur bantuan pertempuran jarak dekat di wilayah maritim.
“Fungsi utama tank boat Antasena adalah sebagai unsur bantuan pertempuran jarak dekat di perairan. Dengan hasil pengujian yang sangat baik, alutsista ini siap memperkuat jajaran Kodaeral III,” ucapnya.
Baca Juga: Fregat Merah Putih Kapal Tempur Raksasa Buatan Anak Bangsa
Sementara itu, Komandan Kodaeral III, Laksamana Muda TNI Uki Prasetia, menegaskan penempatan Antasena di bawah komandonya jadi bentuk amanah dan kepercayaan pimpinan TNI Angkatan Laut.

Menurutnya, keberadaan tank boat tersebut akan memberikan nilai tambah signifikan dalam mendukung pengamanan wilayah perairan yang menjadi tanggung jawab Kodaeral III.
“Kami berkomitmen untuk mengoptimalkan pemanfaatan tank boat Antasena, baik dari sisi pengoperasian taktis maupun pemeliharaan dan perawatannya. Alutsista ini merupakan aset negara yang sangat berharga,” tegas Laksda TNI Uki Prasetia.
Ia menambahkan kesiapan personel dan sistem pendukung akan menjadi prioritas agar tank boat Antasena dapat beroperasi maksimal sesuai doktrin dan kebutuhan lapangan.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.






































































