Pusat Komando Maritim Pulau Penyengat

Pulau Penyengat menjadi bagian penting dalam sejarah maritim Kepulauan Riau, khususnya sebagai basis pertahanan dan pusat komando wilayah laut di era Kesultanan Riau-Lingga. Banyak bukti sejarah yang tersisa di pulau ini, mulai dari Gedung Mesiu, Benteng Bukit Kursi, hingga persenjataan artileri. Indonesia Defense Magazine berkesempatan menjelajahi pulau ini dan membagi kisahnya untuk Anda.
Jakarta, IDM – Bagi siapapun yang mendekati jungpinang, siluet pulau berdarah biru di Kepulauan Riau ini selalu menjanjikan narasi pertahanan maritim masa lalu yang cukup megah. Lembaran sejarah maritim seolah terbuka kembali saat menaiki pompong, perahu bermesin kayu khas setempat, di bawah terik matahari siang bolong, tepat pukul 13.00 WIB. Pelayaran membelah ombak selama 15 menit itu berakhir begitu kaki menginjakkan pelabuhan pulau seluas 3,5 kilometer persegi tersebut. Kawasan ini merupakan mahar pernikahan pemberian Sultan Mahmud untuk sang permaisuri, Engku Putri Raja Hamidah, pada 1805.
Namun, daya tarik utama pulau ini melampaui kekaguman terhadap keanggunan tata kota lama kesultanan. Langkah kaki menyusuri pedalaman pulau akan membawa ingatan pada sisa-sisa rantai suplai logistik serta pangkalan pertahanan maritim hilir milik Kerajaan Melayu Johor-Riau-Lingga yang tangguh.
Rantai Amunisi di Balik Dinding 40 Sentimeter
Sebelum mendaki ke benteng utama, rute jalan setapak di area masjid raya mengarahkan langkah ke sebelah kanan. Melewati kompleks makam Yang Dipertuan Muda Abdurrahman, pandangan langsung tertumbuk pada sebuah bangunan tunggal berwarna kuning khas Melayu yang mencolok di tengah rimbunnya pepohonan. Itulah Gedung Mesiu, tempat yang oleh masyarakat lokal zaman dulu kerap disebut sebagai Gedung Obat Bedil.
"Gedung ini mengemban peran vital sebagai tulang punggung logistik amunisi," ujar Ketua RT setempat, Raden Zailani, saat menemani Indonesia Defense Magazine mengamati bangunan cagar budaya tersebut, pada Senin (2/3) lalu. "Konon, awalnya terdapat empat gedung serupa yang berdiri saling berdekatan untuk mempermudah mobilitas prajurit menyuplai bahan peluru meriam maupun senapan di bentengbenteng pertahanan Pulau Penyengat. Namun, pasang surut sejarah dan kendala pemeliharaan menyisakan satu bangunan ini yang tegak berdiri setelah pemugaran," sambungnya.
Secara arsitektural, Gedung Mesiu menyimpan keunikan taktis. Sepintas, bentuk atapnya yang berkubah menyerupai arsitektur rumah ibadah, namun strukturnya justru mengadopsi gaya Eropa yang sangat kokoh dengan denah empat persegi berukuran 13 x 12 meter.
Raden Zailani kemudian menunjuk ke arah struktur dinding penahan ba-ngunan. "Ruangan ini dirancang khusus demi melindungi bubuk mesiu yang sangat sensitif terhadap kelembapan udara dan risiko percikan api. Seluruh bangunan terbuat dari beton murni dengan ketebalan dinding mencapai 40 sentimeter. Bagian langit-langit menggunakan cor beton, dikelilingi tembok luar setinggi 1,65 meter, serta mengandalkan jendela berjeruji besi dengan sirkulasi udara yang mengalir lewat lubang angin di keempat sisinya," jelasnya secara terperinci.
Baca Juga: Bakal Diangkat ke Film, Ini Alasan Pelabuhan Cilacap Pernah Dibumihanguskan
Benteng Bukit Kursi: Mahakarya Taktis Berbahan Bauksit
Meninggalkan keteduhan Ge-dung Mesiu, poros pengamatan bergeser menuju mahakarya arsitektur militer Melayu yang berada di puncak bukit, yakni Benteng Bukit Kursi. Situs ini merupakan salah satu dari tiga basis pertahanan utama di Penyengat, bersama Benteng Tanjung Nibung dan Benteng Bukit Penggawa, yang berfungsi sebagai pangkalan komando untuk mengantisipasi agresivitas kapal-kapal asing, terutama dari Vereenigde Oostindische Compag-nie (VOC) dan pemerintah kolonial Belanda.
Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki mendaki bukit melewati area bekas Pasar Warisan. Perjalanan menanjak selama 10 menit terasa cukup nyaman lantaran jalurnya telah tertata rapi menggunakan ubin, memudahkan langkah hingga tiba di gerbang selatan benteng.
"Benteng Bukit Kursi mengusung denah berbentuk segi empat yang khas. Material utamanya mengandalkan susunan batu bauksit yang terpahat rapi, lalu diperkuat gundukan tanah dari hasil galian parit yang mengelilingi seluruh area pertahanan," urai Raden Zailani, begitu menapakkan kaki di area dalam benteng.

Menurut penjelasannya, benteng seluas hampir 7.000 meter persegi tersebut berdiri menyatu dengan topografi dataran tinggi pulau demi efektivitas strategi. "Dengan luas area tersebut, benteng ini mampu menampung detasemen personel dalam jumlah besar saat kondisi darurat. Ditambah lagi, parit sedalam kurang lebih 3 meter yang mengelilinginya berfungsi sebagai lapisan pertahan-an pasif (anti-personnel ditch) untuk menghalau pergerakan infantri mu-suh," tambahnya.
Membaca Gelar Artileri pada Bastion
Sebagai instalasi pertahanan pesisir (coastal defense), kekuatan pemu-kul utama Benteng Bukit Kursi bertumpu pada persenjataan artileri yang menempati sudut-sudut benteng yang menonjol keluar, atau dikenal dengan istilah bastion (selokoh). Desain bastion sengaja dibuat menonjol untuk memberikan sudut pandang visual yang luas sekaligus memaksimalkan ruang tembak meriam tanpa menyisakan celah buta (blind spot).
"Pola penggelaran delapan unit meriam di benteng ini sangat mem-perhitungkan arah datangnya ancam-an," jelas Raden Zailani lebih lanjut. "Pada bastion di sisi barat daya, barat laut, dan timur laut, masing-masing memuat dua buah meriam untuk menghasilkan daya pukul ganda (overlapping fields of fire). Sementara untuk bastion di sisi tenggara dan bagian tengah benteng yang menghadap langsung ke arah utara, masing-masing mengandalkan satu buah meriam," katanya.

Dari atas bukit ini, konfigurasi seluruh moncong meriam tersebut mengarah langsung menyapu permukaan laut. Penempatan strategis ini memastikan setiap kapal asing yang mencoba menerobos masuk ke jalur perdagangan maritim di sekitar Tanjungpinang dan Selat Riau akan langsung terjebak dalam jarak tembak efektif (effective firing range) artileri kesultanan.
Baca Juga: Rekam Jejak Pembentukan Skadron Udara 32: Dari Antonov hingga Hercules
Diplomasi, Pengkhianatan, dan Pre-emptive Strike ke Malaka
Ketatnya konseptualisasi pertahanan di Pulau Penyengat sebetulnya mengakar pada dinamika geopolitik maritim yang memanas antara Kerajaan Melayu dan Belanda sejak abad ke-17. Merujuk pada buku Sejarah Perjuangan Raja Haji Fisabilillah dalam Perang Riau Melawan Belanda (1782-1784) karya M. Amin dkk. (1989), salah satu pemantik utama pecahnya perang terbuka adalah kasus perampasan kapal Inggris bernama Betsy pada 1782. Kala itu, VOC se-cara sepihak merebut kapal bermuatan seribu peti candu tersebut dari perairan Riau dan membawanya ke Malaka tan-pa membagi hasil rampasan dengan kesultanan, sebuah pelanggaran hukum laut yang fatal.
Konflik terbuka mulanya sempat mereda ketika posisi Belanda yang terdesak memaksa mereka menawarkan gencatan senjata. Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji Fisabilillah bersedia menyetujui tawaran perdamaian tersebut, namun beliau mengajukan satu syarat mutlak: kapal perang Belanda tidak boleh sekali-kali memasuki kawasan perairan Pulau Penyengat. Sebuah klausul tegas dalam menjaga kedaulatan teritorial maritim.
Namun, lembaran sejarah mencatat pihak Belanda kembali ingkar janji. Buku tersebut memaparkan, kapal-kapal milik Belanda tidak hanya melanggar batas wilayah kedaulatan laut yang disepakati, tetapi juga melakukan tindakan provokatif dengan membunuh warga lokal di Pulau Penyengat. Pelanggaran fatal ini seketika menyulut kemarahan besar kesultanan.
Melihat eskalasi ancaman yang semakin membahayakan eksistensi kerajaannya, Raja Haji Fisabilillah mengambil keputusan militer yang sangat berani. Alih-alih memilih doktrin defensif pasif dengan menung-gu musuh mengepung Penyengat, beliau melancarkan strategi serangan mendahului (preemptive strike). Pasukan maritim kesultanan bergerak masif menyeberangi selat untuk menggempur langsung pusat kekuatan dan pangkalan utama Belanda di Malaka.
Meskipun dalam pertempuran dahsyat di Malaka tersebut Raja Haji Fisabilillah akhirnya gugur, kegigihan dan prinsip teguh dalam mempertahankan kedaulatan teritorial maritim inilah yang membuatnya menyandang gelar Pahlawan Nasional. Penguatan instalasi militer di Penyengat pun terus berlanjut secara masif pada abad berikutnya, termasuk di masa pemerintahan Raja Ali bin Raja Ja'far (Yang Dipertuan Muda Riau VIII, 1845-1857).
Hari ini, moncong-moncong meriam tua di Benteng Bukit Kursi me-mang sudah membisu, dan Gedung Obat Bedil kini berdiri teduh di bawah rindangnya pepohonan cagar budaya. Namun, berdiri di atas bastion pertahanan Penyengat sembari memandang hamparan laut lepas, Indonesia Defense Magazine disuguhkan bukti otentik bahwa sejak ratusan tahun lalu, para pendahulu telah mempraktikkan doktrin pertahanan maritim yang matang, kedaulatan wilayah adalah harga mati yang harus dibela, bahkan hingga ke seberang lautan.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































