Sekolah Rakyat Akebono Jatinegara 1944 Ternyata jadi Alat Propaganda Jepang

Jakarta, IDM – Jatinegara menyimpan riwayat kelam pendidikan di masa pendudukan Jepang. Berdasarkan arsip sejarah Jakarta, pada 1944 muncul sebuah sekolah bernama Sekolah Rakyat (SR) Akebono atau Akebono Kokumin Gakko. Di balik gedung sekolah tersebut, militer Jepang ternyata menyisipkan misi besar untuk mencetak loyalis demi memenangkan perang Pasifik.
Sejumlah literatur sejarah mencatat Jepang menggunakan nama "Akebono" yang berarti Fajar. Nama ini merujuk pada simbol matahari terbit sebagai identitas Kekaisaran Jepang. Namun, catatan sejarah nasional justru mengungkap fakta keseharian di dalam sekolah ini jauh dari kesan indah.
Baca Juga: Tiga Tokoh yang Memperjuangkan Papua Masuk NKRI
Hapus Kasta demi Kepentingan Perang
Militer Jepang saat itu melakukan langkah radikal dengan menghapus sistem sekolah Belanda yang membedakan kelas sosial. Jepang memperkenalkan sistem Kokumin Gakko atau sekolah rakyat selama enam tahun. Kebijakan ini menyatukan anak-anak rakyat jelata dan bangsawan di bangku yang sama.
Namun, Jepang memiliki motif tersembunyi di balik keseragaman ini. Mereka membutuhkan tenaga muda dalam jumlah masif untuk membantu menghadapi tentara sekutu. Sekolah Rakyat Akebono di Jatinegara pun berubah fungsi menjadi mesin indoktrinasi bagi anak-anak Indonesia.
Ritual Wajib Membungkuk ke Tokyo
Setiap pagi, para guru di SR Akebono memandu murid melakukan Seikerei. Ritual ini mewajibkan murid membungkuk sedalam 90 derajat ke arah matahari terbit atau Istana Kaisar di Tokyo sebagai bentuk kesetiaan mutlak.

Berdasarkan dokumentasi kegiatan sekolah zaman Jepang, murid-murid juga wajib mengikuti Taiso atau senam pagi militer. Bunyi peluit instruktur memaksa tubuh-tubuh kecil yang kekurangan gizi itu bergerak lincah. Mereka juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafal lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo) dan berbagai lagu propaganda lainnya di bawah pengawasan ketat.
Belajar di Atas Batu karena Krisis
Memasuki 1944, kondisi ekonomi Jakarta memburuk. Jepang menyedot hampir seluruh sumber daya Indonesia untuk mesin perang mereka. Dampaknya, SR Akebono mengalami kelangkaan kertas dan buku tulis yang parah.
Pihak sekolah membekali murid dengan sabak (papan tulis dari batu tipis) dan grip sebagai alat tulis utama. Arsip sejarah juga mencatat banyak murid terpaksa mengenakan pakaian dari karung goni yang kasar karena kelangkaan tekstil. Rasa lapar menjadi teman setia di dalam kelas karena krisis pangan hebat yang menghantam ibu kota kala itu.
Baca Juga: Kisah HNLMS De Ruyter, Kapal Perang Belanda di Surabaya yang Dulunya ‘Hancur’ Ditorpedo Jepang
Bahasa Indonesia Jadi Pemenang
Meskipun Jepang menekan dengan budaya mereka, satu kebijakan Jepang justru menjadi "senjata makan tuan". Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.
Guru-guru di SR Akebono wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap pelajaran. Langkah ini tanpa sengaja menyatukan anak-anak Jatinegara dari berbagai latar belakang suku. Penggunaan satu bahasa yang sama ini justru mematangkan kesiapan rakyat Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan hanya setahun kemudian.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































