HISTORY

Sekolah Rakyat Akebono Jatinegara 1944 Ternyata jadi Alat Propaganda Jepang

Murid SR Akebono tahun 1944
Murid SR Akebono tahun 1944 saat menyanyikan lagu propaganda Jepang (Tangkapan Layar/Dok. YouTube WISPAS)

Jakarta, IDM – Jatinegara menyimpan riwayat kelam pendidikan di masa pendudukan Jepang. Berdasarkan arsip sejarah Jakarta, pada 1944 muncul sebuah sekolah bernama Sekolah Rakyat (SR) Akebono atau Akebono Kokumin Gakko. Di balik gedung sekolah tersebut, militer Jepang ternyata menyisipkan misi besar untuk mencetak loyalis demi memenangkan perang Pasifik.

Sejumlah literatur sejarah mencatat Jepang menggunakan nama "Akebono" yang berarti Fajar. Nama ini merujuk pada simbol matahari terbit sebagai identitas Kekaisaran Jepang. Namun, catatan sejarah nasional justru mengungkap fakta keseharian di dalam sekolah ini jauh dari kesan indah.

Baca Juga: Tiga Tokoh yang Memperjuangkan Papua Masuk NKRI

Hapus Kasta demi Kepentingan Perang

Militer Jepang saat itu melakukan langkah radikal dengan menghapus sistem sekolah Belanda yang membedakan kelas sosial. Jepang memperkenalkan sistem Kokumin Gakko atau sekolah rakyat selama enam tahun. Kebijakan ini menyatukan anak-anak rakyat jelata dan bangsawan di bangku yang sama.

Namun, Jepang memiliki motif tersembunyi di balik keseragaman ini. Mereka membutuhkan tenaga muda dalam jumlah masif untuk membantu menghadapi tentara sekutu. Sekolah Rakyat Akebono di Jatinegara pun berubah fungsi menjadi mesin indoktrinasi bagi anak-anak Indonesia.

Ritual Wajib Membungkuk ke Tokyo

Setiap pagi, para guru di SR Akebono memandu murid melakukan Seikerei. Ritual ini mewajibkan murid membungkuk sedalam 90 derajat ke arah matahari terbit atau Istana Kaisar di Tokyo sebagai bentuk kesetiaan mutlak.

Murid SR Akebono tahun 1944
Murid SR Akebono dilatih ketangkasan militer menggunakan senjata kayu untuk membantu Jepang dalam perang. (Tangkapan Layar/Dok. YouTube WISPAS)

Berdasarkan dokumentasi kegiatan sekolah zaman Jepang, murid-murid juga wajib mengikuti Taiso atau senam pagi militer. Bunyi peluit instruktur memaksa tubuh-tubuh kecil yang kekurangan gizi itu bergerak lincah. Mereka juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafal lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo) dan berbagai lagu propaganda lainnya di bawah pengawasan ketat.

Belajar di Atas Batu karena Krisis

Memasuki 1944, kondisi ekonomi Jakarta memburuk. Jepang menyedot hampir seluruh sumber daya Indonesia untuk mesin perang mereka. Dampaknya, SR Akebono mengalami kelangkaan kertas dan buku tulis yang parah.

Pihak sekolah membekali murid dengan sabak (papan tulis dari batu tipis) dan grip sebagai alat tulis utama. Arsip sejarah juga mencatat banyak murid terpaksa mengenakan pakaian dari karung goni yang kasar karena kelangkaan tekstil. Rasa lapar menjadi teman setia di dalam kelas karena krisis pangan hebat yang menghantam ibu kota kala itu.

Baca Juga: Kisah HNLMS De Ruyter, Kapal Perang Belanda di Surabaya yang Dulunya ‘Hancur’ Ditorpedo Jepang

Bahasa Indonesia Jadi Pemenang

Meskipun Jepang menekan dengan budaya mereka, satu kebijakan Jepang justru menjadi "senjata makan tuan". Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.

Guru-guru di SR Akebono wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap pelajaran. Langkah ini tanpa sengaja menyatukan anak-anak Jatinegara dari berbagai latar belakang suku. Penggunaan satu bahasa yang sama ini justru mematangkan kesiapan rakyat Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan hanya setahun kemudian.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.