Kisah HNLMS De Ruyter, Kapal Perang Belanda di Surabaya yang Dulunya 'Hancur' Ditorpedo Jepang

Jakarta, IDM – Sebuah kapal perang berukuran raksasa bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Warnanya abu-abu khas militer, dengan nomor lambung F804 yang tercetak jelas. Namanya HNLMS De Ruyter, sebuah fregat tempur mutakhir milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda.
Namun bagi mereka yang paham sejarah maritim, nama "De Ruyter" yang tertulis di lambung kapal sepanjang 144 meter itu memicu sensasi berbeda. Fregat modern ini nyatanya merupakan reinkarnasi ketiga dari dinasti kapal perang Belanda yang punya sejarah panjang dengan perairan Nusantara.
Jauh sebelum fregat canggih ini datang sebagai tamu diplomasi, para leluhurnya sudah lebih dulu mengarungi laut Indonesia. Mulai dari menjadi penjaga selat di era kolonial, hingga kisah paling tragisnya saat sang pendahulu hancur lebur ditorpedo armada Kekaisaran Jepang dalam perang besar 84 tahun silam.
Baca Juga: B-25 Mitchell AURI dalam Operasi Trikora, Gempur Kapal Belanda di Pulau Gag
Jejak Atjeh-Class dan Galangan Kapal Ujung Surabaya
Jejak pertama nama legendaris ini di perairan Indonesia sebenarnya bermula pada akhir abad ke-19 melalui HNLMS De Ruyter versi tahun 1885. Kapal penjelajah (cruiser) dari Atjeh-class tersebut dibangun di galangan kapal Amsterdam, namun seluruh masa dinas operasinya dihabiskan di perairan Nusantara.
Dengan markas komando utama di Batavia, kapal uap bertenaga layar ini memegang peran vital dalam patroli maritim kolonial. Menariknya, sang leluhur pertama ini tercatat kerap kali masuk ke fasilitas galangan kapal dan drydock milik Marine Establishment di kawasan Ujung, Surabaya. Area bersejarah itulah yang kini telah bertransformasi menjadi kawasan industri pertahanan PT PAL Indonesia serta Markas Komando Armada (Koarmada) II. Setelah menyelesaikan masa baktinya yang panjang, kapal pertama ini resmi dipensiunkan pada tahun 1899.
Nostalgia Kelam Pertempuran Laut Jawa 1942
Nama besar tersebut kemudian diwariskan ke reinkarnasi kedua yang paling tersohor sekaligus tragis, yaitu HNLMS De Ruyter versi tahun 1935. Kapal penjelajah ringan (light cruiser) ini tiba di Indonesia pada tahun 1937 dan langsung didapuk menjadi kapal komando utama (flagship) Angkatan Laut Kerajaan Belanda.
Saat berkecamuknya Perang Dunia II di Pasifik, kapal tersebut memimpin konvoi armada gabungan sekutu yang tergabung dalam komando ABDACOM untuk menghalau laju invasi tentara Jepang yang ingin merebut Pulau Jawa. Puncaknya terjadi pada 27 Februari 1942 dalam peristiwa berdarah yang terkenal sebagai Pertempuran Laut Jawa (Battle of Java Sea).
Baca Juga: Bisa Gendong 6 Kapal Selam! Inilah KRI Ratulangi, Raksasa 9.000 Ton Pendukung Operasi Trikora
Nahas, dalam duel malam hari yang sengit di tengah laut, HNLMS De Ruyter versi 1935 lumpuh total setelah terkena hantaman torpedo dari kapal penjelajah berat Jepang, Haguro. Kapal kebanggaan Belanda itu akhirnya karam ke dasar laut bersama ratusan awaknya, termasuk sang komandan armada sekutu, Laksamana Muda Karel Doorman, yang memilih ikut tenggelam bersama kapal komandonya.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, nama besar penuh sejarah tersebut lahir kembali dalam wujud kapal fregat modern berpeluru kendali kelas De Zeven Provincien dan kembali mendatangi perairan tempat para leluhurnya pernah bertugas dan tenggelam.
Misi Diplomasi dan Latihan Bersama TNI AL
Sebelum meninggalkan Indonesia, kehadiran HNLMS De Ruyter versi modern ini membawa misi penguatan hubungan bilateral yang strategis. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali sempat bertemu Panglima Angkatan Laut Belanda Laksamana Madya Harold Liebregs di Surabaya untuk membahas kerja sama pertahanan, latihan operasi, hingga program pendidikan militer.
Sebagai penutup dari kunjungan empat hari tersebut, kapal perang Belanda ini langsung menggelar passing exercise (passex) dengan salah satu armada andalan TNI AL, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, pada Minggu (17/5).
Baca Juga: Rekam Jejak Lahirnya Sekolah Telegrafis Udara
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada II Kolonel Laut (P) Antonius Februar, menjelaskan kedua kapal langsung melahap sejumlah menu latihan komunikasi dan manuver taktis di lapangan begitu lepas jangkar dari Surabaya.
"Rangkaian latihan langsung dimulai begitu kedua kapal bertolak dari dermaga dengan simulasi keluar pelabuhan (leaving harbour). Setelah itu, personel kedua negara melanjutkan latihan operasi helikopter (flyex ruyter) serta menguji komunikasi isyarat bendera (flaghoist)," ungkap Antonius.
Koordinasi di tengah laut pun berjalan semakin intensif demi mengasah ketangkasan prajurit kedua negara. Kru dari kedua belah pihak mempraktikkan manuver taktis untuk menyamakan gerak lambung kapal, hingga simulasi pemindahan personel antarkapal yang sedang melaju (pax transfer). (at)
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































