HISTORY

Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Riwayatmu Kini

Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali
Bangunan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. (IDM/Septo Kun Wijaya)
Di tepian Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, angin laut berembus membawa aroma khas. Kapal-kapal penyeberangan hilir-mudik menghubungkan Pulau Jawa dan Bali, seolah tak pernah lelah menjalankan ritme hariannya. Di antara denyut aktivitas itu, berdiri Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali yang kerap luput dari perhatian pelintas bahkan masyarakat sekitar. Bagaimana eksistensinya kini?

Jakarta, IDM – Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali dibangun di Gilimanuk, Jembrana untuk mengenang operasi militer yang dipimpin oleh Kapten Markadi pada tahun 1946–1947. Operasi tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut dalam menghadapi ancaman terhadap kedaulatan Indonesia di wilayah perairan.

Pantauan langsung Indonesia Defense Magazine di lokasi, monumen ini menyuguhkan sejumlah perlengkapan militer autentik yang pernah digunakan dalam masa perang. Di area depan monumen terdapat dua unit tank. Sementara di depan pintu masuk monumen terpajang dua ranjau laut.

Tak hanya itu, di bagian depan monumen juga terdapat dua ranjau tambahan serta sebuah rudal. Seluruh perlengkapan dan senjata yang dipamerkan merupakan benda asli, bukan replika. Sebelum menaiki bagian atas monumen yang berbentuk patung jangkar kapal sebagai simbol kekuatan maritim, pengunjung bisa menyaksikan gambar-gambar sejarah pertempuran yang terpahat pada dinding-dinding monumen.

Dinding tersebut dipagari ornamen patung senjata serta bambu runcing, yang merepresentasikan semangat perlawanan rakyat Indonesia pada masa revolusi.

Di bagian belakang monumen, berdiri sebuah prasasti besar yang memuat sedikitnya 290 nama pejuang yang terlibat dalam operasi tersebut. Deretan nama itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan banyak individu, bukan hanya segelintir tokoh.

Baca Juga: Pusat Komando Maritim Pulau Penyengat

Sejarah Operasi Lintas Laut Jawa-Bali tidak hanya diabadikan melalui monumen, tetapi juga dalam literatur. Kisah perang laut pertama yang dipimpin Markadi terdokumentasi dalam buku berjudul Buku Kenangan Operasi Lintas Laut Jawa-Bali 1946–1947 oleh Pasukan TKR Laut Pimpinan Markadi, Bermain dengan Maut Demi Nusa dan Bangsa.

Buku ini disusun oleh Samekto dan Abdul Madjid, yang merangkum perjuangan pasukan TKR Laut dalam menghadapi berbagai risiko di perairan Selat Bali. Dokumentasi tersebut turut memperkuat posisi operasi sebagai bagian penting dari sejarah militer Indonesia.

Kepala Dinas Sejarah TNI Angkatan Laut (Kadisjarahal) Laksma TNI I Made Wirawan Hady menegaskan, operasi ini memiliki arti strategis bagi perkembangan militer nasional, khususnya kekuatan laut Indonesia yang saat itu masih dalam tahap awal pembentukan.

Rudal
Rudal milik pasukan belanda yang dipajang di depan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.
(IDM/Septo Kun Wijaya)

“Operasi Lintas Laut Jawa-Bali 4 April 1946 merupakan peristiwa yang memiliki arti strategis bagi militer Indonesia karena merupakan operasi gabungan pertama angkatan perang Indonesia,” ujar Kadisjarahal kepada Indonesia Defense Magazine.

Menurutnya, dalam operasi tersebut Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) mampu menunjukkan kapasitasnya dalam pengawalan dan transportasi laut bagi pasukan.

“ALRI mampu memberikan pengawalan dan transportasi laut, serta berhasil menenggelamkan dua unsur patroli Belanda pada pertempuran Selat Bali,” lanjutnya.

Baca Juga: Jejak Sejarah Markas Besar Angkatan Laut dari Masa ke Masa

Keberhasilan tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah revolusi fisik Indonesia. Di tengah keterbatasan persenjataan dan armada, pasukan Indonesia mampu melaksanakan operasi terkoordinasi serta memberikan perlawanan signifikan terhadap kekuatan Belanda di wilayah perairan strategis Selat Bali.

Butuh Renovasi

Sementara itu, penjaga kawasan Monumen Operasi Lintas Laut JawaBali, Margio, jadi saksi bagaimana monumen ini bertahan dan perlahan menua.

Margio menjelaskan, terdapat bagian-bagian monumen yang kondisinya memperihatinkan. Salah satunya wan tilan atau balai terbuka yang dahulu digunakan untuk menyimpan piagam-piagam penghargaan. Namun kini kondisinya memprihatinkan.

Meriam antipesawat AZP S-60 kaliber 57 mm
Meriam antipesawat AZP S-60 kaliber 57 mm buatan Uni Soviet yang dipajang di area Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. (IDM/Septo Kun Wijaya)

“Atapnya sudah roboh. Wan tilan-nya sudah parah sekali. Mungkin tonggaknya juga ada sedikit kerusakan,” ungkapnya kepada Indonesia Defense Magazine. Tak hanya itu, patung utama monumen juga memerlukan perbaikan.

Margio turut menceritakan bahwa dahulu monumen tidak pernah sepi. Setiap bulan April, sempat digelar kegiatan rutin bernama Apel Operasi Lintas Laut. Upacara tahunan itu menjadi momentum mengenang perjuangan sekaligus menghidupkan kembali semangat kebangsaan.

Baca Juga: Tenggelamnya RI Hang Tuah: Kesiapan Tempur Melawan Semangat Tempur

Namun sejak 2021, kegiatan tersebut berhenti. Pergantian kepemimpinan daerah disebut menjadi salah satu titik perubahan. Sejak itu, kawasan monumen semakin jarang disentuh aktivitas resmi.

Kini pengelolaan monumen disebut telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Margio pun berharap pemerintah setempat lebih peduli dan melakukan perawatan terhadap monumen yang sarat akan sejarah. “Kalau bisa minimal ada untuk uang perawatan. Mari kita sama-sama menjaga, merawat. Yang rusak harus segera direnovasi,” tegas Margio.

Ia juga berharap masyarakat kembali ramai datang seperti dulu, bukan sekadar melintas. “Ramai lagilah seperti sedia kala ada kegiatan,” ujarnya.

Baginya, merawat monumen bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. “Tergantung kitanya mau menjaga atau tidak,” pungkas Margio.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.