Rekam Jejak Pembentukan Skadron Udara 32: Dari Antonov hingga Hercules

Jakarta, IDM – Di balik kekuatan angkut strategis TNI Angkatan Udara (TNI AU), Skadron Udara 32 menjadi salah satu satuan yang memegang peranan penting. Dengan pesawat C-130 Hercules sebagai kekuatan utamanya, Skadron Udara 32 tidak hanya mendukung mobilitas pasukan dan logistik, tetapi juga menjadi andalan dalam pelaksanaan berbagai operasi militer selain perang (OMSP).
Salah satu penugasan yang menunjukkan peran strategis tersebut berlangsung pada masa pandemi COVID-19. Pada Maret 2020, TNI AU mengerahkan pesawat C-130 Hercules nomor registrasi A-1333 milik Skadron Udara 32 menuju Shanghai, Cina, untuk mengangkut sekitar 9 ton bantuan logistik kesehatan bagi penanganan pandemi di Indonesia.
Setibanya di Tanah Air, bantuan tersebut diterima langsung oleh Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Saat itu, Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia.
Baca Juga: Tugu Memorial Serdadu Jepang
Misi saat pandemi COVID-19 hanyalah satu dari sekian banyak penugasan yang pernah diemban oleh Skadron Udara 32. Selama puluhan tahun, satuan ini telah hadir dalam berbagai operasi yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kesiapsiagaan, menjadikan pesawat Hercules sebagai salah satu tulang punggung mobilitas udara TNI Angkatan Udara.
Semangat tersebut diwujudkan dalam motto "Any Time, Anywhere", sebuah komitmen yang menggambarkan kesiapan satuan untuk melaksanakan tugas kapan saja dan di mana saja, sebagai cerminan dari dedikasi, ketangguhan, dan kesiapsiagaan yang telah teruji oleh waktu.
Sejarah Pembentukan Skadron Udara 32
Jejak pengabdian Skadron Udara 32 bermula pada 20 Juli 1965. Saat itu, Skadron Udara 32 resmi dibentuk di bawah Komando Operasi dengan mengoperasikan pesawat Antonov AN-12B. Kehadiran satuan tersebut menandai awal lahirnya salah satu kekuatan angkut strategis TNI AU. Namun, perjalanan tersebut sempat terhenti pada tahun 1974 akibat keterbatasan suku cadang yang memengaruhi kesiapan operasional armada.

Beberapa tahun berselang, Kepala Staf Angkatan Udara meresmikan pengaktifan kembali Skadron Udara 32 yang berkedudukan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang pada 11 Juli 1981. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Skadron Udara 32.
Dalam upacara militer yang digelar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Letkol Pnb Tjokong Tarigan Sibero turut dikukuhkan sebagai Komandan Skadron Udara 32 pertama.
Baca Juga: 25 Titik Bunker Pertahanan Pasir Angin
Pengaktifan kembali satuan ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/21/V/1981 tanggal 20 Mei 1981 tentang reaktivasi Skadron Udara 32 dalam jajaran Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara).
Seiring perkembangan kebutuhan operasi, Skadron Udara 32 kini mengoperasikan pesawat Lockheed C-130 Hercules dalam berbagai varian, termasuk varian tanker, untuk mendukung operasi angkutan udara strategis, taktis, serta operasi udara khusus.
“Dengan kekuatan awal pesawat Lockheed C-130B Hercules, Skadron Udara 32 kembali mengemban peran sebagai ujung tombak angkutan udara strategis TNI Angkatan Udara, menjangkau berbagai wilayah Indonesia untuk mendukung mobilitas pasukan, logistik, dan pelaksanaan operasi udara,” tulis Dinas Sejarah TNI Angkatan Udara dalam unggahan Instagram @sejarah_tniau, dikutip Selasa (14/7).
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































