Delegasi TNI AU Dalami Pengembangan Kekuatan Antariksa di AS

Jakarta, IDM – Delegasi Space Distinguished Visitor Orientation Team TNI Angkatan Udara (TNI AU) melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Space System Command (SSC) pada akhir Oktober 2026.
Satuan tersebut merupakan salah satu komando di bawah United States Space Force (USSF) yang berlokasi di Los Angeles Air Force Base, California, Amerika Serikat (AS).
Kunjungan tersebut menjadi sarana bagi delegasi TNI AU untuk mendalami sejumlah hal yang terkait dengan pengembangan antariksa. Sejalan dengan itu, delegasi dapat memperoleh bekal untuk merumuskan kebutuhan serta prioritas bagi satuan antariksa TNI AU.
Baca Juga: Di Tengah Misi Perdamaian di Kongo, Tim Patroli TNI Jalan Kaki 15 Km untuk Salat Jumat
"Bagi Satuan Antariksa TNI AU, kunjungan ini memberikan pemahaman mengenai pembangunan kekuatan antariksa secara menyeluruh, mulai dari akses ke orbit, pengoperasian satelit, komunikasi dan navigasi, pengolahan informasi, hingga infrastruktur pendukung," tulis TNI AU dikutip dari siaran pers Dispenau, Senin (2/11).
Dengan demikian, selama berada di AS, delegasi TNI AU yang berada di bawah pimpinan Kaskoopsudnas Marsda TNI Purwoko Aji Prabowo mempelajari perihal sistem peluncuran satelit hingga komando dan pengendalian operasi antariksa.
Pada kesempatan yang sama, delegasi turut menerima paparan mengenai akses peluncuran ke orbit (Space Access), pemanfaatan data komersial, komunikasi satelit (Satellite Communications/Satcom), serta navigasi dan penentuan waktu (Positioning, Navigation, and Timing/PNT).

Paparan juga membahas kemampuan komando, pengendalian, komunikasi, dan intelijen antariksa (Battle Management Command, Control, Communications and Intelligence/BMC3I) yang mendukung pengenalan ancaman, pengolahan informasi, dan pengambilan keputusan.
Selain itu, delegasi mendalami infrastruktur antariksa, termasuk sistem kendali satelit, jaringan pendukung operasi, serta sarana pelatihan dan simulasi.
"Seluruh kemampuan tersebut saling terintegrasi untuk memastikan satelit dapat beroperasi secara andal, menyediakan jalur komunikasi dan navigasi, serta mendukung pengolahan informasi dalam menghadapi perkembangan ancaman di domain antariksa," jelas TNI AU.
Baca Juga: TNI dan Warga Resmikan Gereja di Jayapura Setelah Delapan Tahun tak Punya Tempat Ibadah Layak
Pembentukan Satuan Antariksa TNI AU
TNI Angkatan Udara telah memiliki satuan antariksa yang diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono di Mabesau pada 29 Januari 2026
Pembentukan Satuan Antariksa itu tidak terlepas dari dinamika ancaman modern yang terus berkembang, termasuk domain antariksa, yang kemudian menuntut TNI Angkatan Udara untuk terus berdaptasi
Di sisi lain, langkah yang sama sekaligus menjadi bagian strategis dari perluasan dan penguatan operasi udara TNI AU.
“Antariksa kini menjadi domain strategis dalam mendukung keunggulan informasi, efektivitas komando dan kendali, serta pengambilan keputusan operasi,” tegas KSAU dikutip dari siaran pers Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau).
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.






































































