Sejarah ALRI Gunung: Taktik Gerilya Angkatan Laut Indonesia Melawan Belanda

Jakarta, IDM – Gelombang laut dan gemuruh mesin kapal perang biasanya menjadi medan laga utama para pelaut. Namun, lembaran sejarah revolusi Indonesia mencatat kisah unik ketika para penjaga samudra justru menjejakkan kaki di puncak pegunungan dan lebatnya hutan demi mempertahankan kedaulatan republik.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, kekuatan armada laut lawan melumpuhkan pertahanan pantai Indonesia. Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Cirebon, Tegal, Semarang, hingga Lampung jatuh ke tangan musuh. Penyusutan kekuatan kapal tempur yang terbatas, seperti tenggelamnya kapal patroli Gadjah Mada-408 dalam pertempuran laut di Cirebon, makin mempersempit ruang gerak para pejuang bahari. Kondisi terdesak ini memaksa pimpinan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) mengubah strategi tempur secara radikal.
Baca Juga: Tenggelamnya RI Hang Tuah: Kesiapan Tempur Melawan Semangat Tempur
Menanggapi Perintah Siasat Nomor 1 dari Jenderal Soedirman tentang sistem pertahanan wilayah (Wehrkreise), para perwira dan anggota ALRI menanggalkan seragam putih khas mereka. Mereka memanggul senapan rampasan eks-Jepang, menyusup ke daerah pedalaman, dan melebur bersama rakyat. Fenomena bertahannya para pelaut di medan darat inilah yang melahirkan julukan historis "ALRI Gunung".
Menyebar di Hutan Jawa, Kalimantan, hingga Sumatra
Jejak gerilya ALRI Gunung terbentang luas di pelbagai mandala pertempuran nusantara. Di Jawa Tengah, prajurit ALRI membentuk Resimen Samodra yang bertempur di wilayah berbukit di bawah kendali taktis Divisi Diponegoro untuk menghadang konvoi kendaraan lapis baja lawan. Di Jawa Timur, Mayor Abdullah memimpin Batalion Y yang bergerilya di kaki gunung dan menjadi ancaman konstan bagi pos-pos pertahanan Belanda.
Kisah heroik serupa terjadi di pulau Kalimantan di bawah kepemimpinan Letkol Hasan Basry. Pasukan yang tergabung dalam Divisi IV ALRI menolak perintah hijrah pasca-Perjanjian Renville. Mereka memilih bertahan di Pegunungan Meratus, hingga akhirnya mengumandangkan Proklamasi 17 Mei 1949 di Kandangan untuk menegaskan bahwa Kalimantan merupakan bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Sementara di Sumatra Selatan, Abu Bakar Sidiq mengonsolidasikan 90 personel ALRI yang terisolasi usai jatuhnya Pelabuhan Panjang untuk membentuk Laskar Beruang Hitam, lalu menembus perbukitan Lampung Selatan guna melancarkan serangan malam.
Baca Juga: Bukan Beli Baru, Ini Asal-usul Tank Pertama yang Dipakai Kavaleri TNI-AD
Cikal Bakal Pasukan Pemukul dan Marinir
Dinamika perang darat ini turut mendorong pimpinan ALRI menata ulang organisasinya pada awal tahun 1948 dengan membentuk Corps Armada dan Corps Mariniers. Satuan pendarat yang cikal bakalnya telah tumbuh di Pangkalan IV ALRI Tegal sejak 15 November 1945 ini menjadi kekuatan pemukul utama di darat. Pemerintah kemudian menyempurnakan unit tersebut menjadi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) pada 9 Oktober 1948, yang di kemudian hari berkembang menjadi Korps Marinir.
Turun Gunung Kembali Menguasai Laut
Peta pertempuran berubah total setelah pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949. Era perang di pedalaman berakhir, memanggil kembali para prajurit ALRI Gunung dari rimba dan pegunungan untuk menjalani re-edukasi kebahariaan. Mereka kembali mengawasi wilayah perairan nasional dengan mengoperasikan kapal-kapal penyerahan eks-Belanda. Tempaan perang asimetris di pedalaman hutan dan puncak gunung tidak hanya menyelamatkan eksistensi matra laut saat krisis, tetapi juga memperkokoh fondasi doktrin Eka Sasana Jaya dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































