HISTORY

Tenggelamnya RI Hang Tuah: Kesiapan Tempur Melawan Semangat Tempur

Ri Hang Tuah
Ilustrasi. (AGUNG WAHYUDI)
Sejarah adalah pelajaran terbaik bagi militer, karena tidak ada strategi yang benar-benar bisa menjanjikan sebuah kemenangan. Sejarah mengajarkan kita untuk mengambil nilai dari setiap peristiwa. Jika benar maka hal tersebut untuk dilestarikan, jika salah maka jadikan pelajaran untuk tidak terulang kembali.

Oleh: Letkol Laut (P) Yudho Ponco Ari, Kepala Museum Pusat Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe

Jakarta, IDM – Dinas Sejarah TNI AL telah mengirim sebuah tim riset sejarah yang menggali data tentang tenggelamnya RI Hang Tuah, kapal jenis Corvette milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang terbilang canggih pada saat itu. Kapal perang tersebut tenggelam akibat duel dengan pesawat Pembom B-26 Aurev. Saya menuturkan dalam tulisan ini, termasuk fakta terbaru terkait siapa sebenarnya pilot yang menerbangkan Bomber tersebut, apa sebenarnya yang menjadi sasaran utamanya, benarkan cerobong kapal yang pernah tampak di perairan alur pelabuhan Semayang adalah milik RI Hang Tuah, dimanakah sebenarnya lokasi tenggelamnya RI Hang Tuah?

Riset Sejarah

Dinas Sejarah TNI AL adalah salah satu organisasi TNI AL yang memiliki tugas menggali, meluruskan, menyelamatkan serta memublikasikan sejarah yang berkaitan dengan TNI AL serta kemaritiman. Pada Oktober 2025, saya ditugaskan untuk melaksanakan riset sejarah terkait Shipwreck RI Hang Tuah yang berada di perairan alur masuk pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sesuai prosedur yang ada, sebelum meneliti tentang Shipwreck, saya selalu ingin tahu tentang bagaimana Kapal Perang tersebut bisaterbaring di dasar perairan alur pelabuhan Semayang. Beruntung kami diterima baik oleh Komandan Lanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Topan Agung Yuwono beserta Staf Intel dan Potmar yang siap membantu saya menelusuri masa lampau.

Hari pertama, kami dipertemukan dengan para penggiat sejarah dari komunitas Balikpapan Tempoe Doeloe. Saya bertemu dengan M. Asran, Rosa, dan Rafael. Ketiganya memiliki data dukung terkait peristiwa yang ingin saya ketahui tentangtenggelamnya RI Hang Tuah.

Baca Juga: Tenggelam di Sungai Barito 1859, Jejak Kapal Onrust Belanda Ditemukan Kembali

Operasi RI Hang Tuah

Dalam buku Laksamana R.E. Martadinata yang ditulis oleh Drs. Masfar R. Hakim dan Zamzulis Ismail B.A. dijelaskan juga bahwa kapal perang hasil hibah, buah dari kesepakatan perundingan Konferensi Meja Bundar yang semula bernama HMS Morotai ini telah banyak diterjunkan di perairan Sulawesi. Tercatat sebagai komandan pertamanya yakni Mayor R Eddy Pada tahun 1957, pecah pemberontakan yang dilakukan oleh Permesta yang berhasil menguasai sebagian besar Sulawesi. Operasi militer besar-besaran pun digelar oleh Pemerintah RI yang masih baru berdiri. Termasuk dalam hal ini ALRI menurunkan RI Hang Tuah yang di komandani oleh Mayor Ayub Laya untuk melaksanakan blokade laut, bombardemen ke darat serta mendukung pendaratan TNI AD. Setelah berlayar di perairan Kulawi dan Peringgi, RI Hang Tuah mengalami kerusakan mesin, ditambah dengan minimnya bahan bakar serta menipisnya persediaan bahan makanan dan air minum maka pada 20 April 1958 komandan memutuskan untuk membawa RI Hang Tuah menuju Balikpapan. Dengan kondisi satu mesin, pada 25 Martadinata pada tahun 1950 pernah mendaratkan pasukan yang dipimpin Panglima Operasi Kolonel A.E. Kawilarang yang akan menumpas pemberontakan Andi Azis di Makasar. April 1958 atau lima hari berikutnya RI Hang Tuah dapat bersandar di pelabuhan Semayang, Balikpapan.

Kesempatan ini segera digunakan untuk melaksanakan perbaikan, mengisi persediaan bahan makanan dan air minum termasuk mengisi BBM, mengingat Balikpapan dari dulu sudah kaya akan minyak. Hal ini juga yang menjadikan Balikpapan sebagai pangkalan terpilih untuk melaksanakan bekal ulang bagi RI Hang Tuah selain pertimbangan jarak tempuhnya yang tidak terlalu jauh dari daerah operasi. Hal ini tercantum dalam buku sejarah TNI AL periode 1950-1959 jilid dua ditambah beberapa referensi dari rekan-rekan penggiat sejarah Balikpapan Tempoe Doeloe.

MT San Flaviano
MT San Flaviano yg ditembak pesawat Permesta. (Foto: Dok. Istimewa)

Temuan Fakta

Banyak yang mengatakan bahwa dahulu di depan pelabuhan Semayang masih bisa terlihat cerobong asap dari RI Hang Tuah pada saat air surut. Dari keterangan ini, orang berasumsi bahwa RI Hang Tuah tenggelam tidak jauh dari pelabuhan Semayang. Namun temuan fakta dari beberapa foto dan literasi asing sangat berbeda dengan berita verbal tersebut.

Baca Juga: Jejak Sejarah Markas Besar Angkatan Laut dari Masa ke Masa

Sebagai seorang perwira TNI AL korp Pelaut, saya tertarik untuk melihat peta laut alur pelabuhan Balikpapan. Segera peta laut nomor 157 saya gelar untuk melihat dimana saja titik shipwreck berada. Dan benar, ada dua spot di mana terdapat dua kerangka kapal. Di sekitar Bouy MHMD terdapat dua kerangka dan di Bouy 3 terdapat dua kerangka. Tapi manakah di antara empat kerangka tersebut yang merupakan RI Hang Tuah? Saya yakin apa yang pernah dikatakan orang terkait cerobong asap yang pernah terlihat saat air surut di depan pelabuhan Semayang itu adalah milik kerangka kapal yang berada pada Bouy MHMD karena melihat letaknya yang dekat dengan pelabuhan Semayang.

Selanjutnya, kami menganalisa sebuah foto lama dari literatur asing tentang ditembaknya kapal tanker oleh pesawat Bomber B-26 pada 28 April 1958, di mana terdapat foto yang menunjukkan dua kepulan asap membumbung dari dua kapal yang sebagian badannya sudah tenggelam. Setelah kami amati lebih dalam, terbaca nama kapal tersebut adalah MV San Flaviano, kapal tanker milik perusahaan minyak Inggris Eagle Oil and Shipping Company. Asumsi kami saat itu berarti kepulan asap satunya adalah RI Hang Tuah. Melihat foto hitam putih tersebut rasa penasaran kami muncul, saya lalu keluar dari halaman Mako Lanal Balikpapan dan melihat ke arah pelabuhan. Mata saya tertuju pada sebuah bangunan yang eye catching, identik dengan foto hitam putih yang barusan saya lihat. Saya pastikan, itu adalah gudang yang ada dalam foto tersebut. Meski bentuknya sudah di renovasi sedikit dan ada penambahan tapi lokasi dan luasnya masih sama. Kami pun mengeceknya. Benar, gudang tersebut peninggalan Belanda. Dari titik gudang ini kami identifikasi bersama. Mulai dari dari garis air laut serta tampilan daratan wilayah Penajam dapat disimpulkan bahwa foto tersebut diambil oleh seseorang yang berdiri tidak jauh dari Lanal Balikpapan. Setelah kami lihat lagi, ternyata tepat di sebelah Lanal Balikpapan adalah bukit tempat sumur gas Mathilda, sumur gas yang pertama kali ditemukan di Balikpapan. Kami datangi, sayangnya bangunan tua tersebut sudah dipenuhi tanaman liar. Kembali saya cek peta laut dengan menghubungkan titik-titik antara sumur Mathilda, gudang dan kepulan asap. Hasilnya, benar bahwa kepulan dua asap tersebut tepat titiknya dengan dua Shipwreck yang tenggelam di Bouy MHMD depan pelabuhan Semayang. Kesimpulannya, dua kerangka kapal yang tenggelam tersebut salah satunya milik MT San Flaviano termasuk cerobong yang pernah terlihat saat air laut surut. Lalu siapa pemilik kepulan asap di sebelahnya, apakah RI Hang Tuah?

Dalam literasi lain yaitu Feet to the Fire CIA Covert Operations in Indonesia, 1957-1958 karya Kenneth Conboy dan James Morrison mengatakan bahwa B-26 Invader Aurev menembak RI Hang Tuah dengan cara terbang sangat rendah, tepat pada cerobongnya hingga tenggelam pada 28 April 1958 pukul 08.00. Hal ini mematahkan keterangan bahwa cerobong yang sempat terlihat disaat air surut adalah milik RI Hang Tuah. Karena pada kenyataannya RI Hang Tuah tertembak hancur pada cerobongnya dan tenggelam setelah 90 menit bertolak dari pelabuhan Semayang. Dalam artikel ini juga menjelaskan siapakah penerbang B-26 Aurev tersebut. Saat berbicara tentang Pesawat Bomber Permesta, kita selalu tergiring kepada Allan Lawrence Pope. Namun pada kenyataannya, pesawat B-26 Intruder Aurev tersebut diterbangkan oleh pilot CIA bernama William J Bea-
le. Dalam keterangannya, Beale menjelaskan bahwa tugas utamanya adalah menghancurkan kapal-kapal tanker yang berada di pelabuhan Balikpapan yaitu MV San Flaviano dan MV Daronia. Sehingga kesimpulannya dua foto tersebut sudah sangat jelas menunjukkan kepulan asap pertama adalah milik MT San Flaviano yang tulisan nama kapalnya masih terbaca dengan jelas dan sebelahnya yang sudah hampir tenggelam adalah MV Daronia. Artinya titik pertama lokasi shipwreck di Bouy MHMD bukan merupakan kerangka RI Hang Tuah.

Pesawat B-26 Intruder Aurev
Pesawat B-26 Intruder Aurev yang melaksanakan penembakan terhadap Ri Hang Tuah, MT San Flaviano dan MV Daronia. (Foto: Dok. Istimewa)

Keterangan lain mengatakan bahwa RI Hang Tuah meninggalkan dermaga Semayang pada 28 April 1958 pukul 06.30 dengan satu mesin berkecepatan 4-5 knot untuk menuju Surabaya guna melaksanakan perbaikan lebih lanjut, karena di Balikpapan tidak mendukung kelengkapan terkait dengan kerusakan mesin yang ada. Di padukan dengan keterangan Pilot William J Beale yang menembak RI Hang Tuah pada pukul 08.00 dimana terdapat selisih waktu tempuh 90 menit dari dermaga pelabuhan Semayang. Yang artinya saat itu RI Hang Tuah sudah menempuh jarak sekitar 7 mil laut. Setelah kami ukur jarak peta antara titik shipwreck di Buoy 3 tersebut berjarak 7 mil laut dari pelabuhan Semayang.

Yang artinya RI Hang Tuah tertembak dan tenggelam di sekitar Bouy 3 alur pelabuhan Balikpapan, bukan di Bouy MHMD depan pelabuhan dan bukan kapal yang pernah terlihat cerobongnya saat air surut.

Baca Juga: Pusat Komando Maritim Pulau Penyengat

Analisa Sejarah

Jika William J Beale menyatakan bahwa sasaran utamanya adalah kapal tanker yang bersandar di pelabuhan Semayang Balikpapan, lalu bagaimana dengan RI Hang Tuah? Menurut keterangan M Asran selaku Sejarawan Balikpapan dari Komunitas Balikpapan Tempoe Doeloe, berdasarkan saksi mata dari masyarakat setempat pada saat kejadian pada 28 April 1958. Pesawat Bomber B-26 tersebut datang dan langsung menjatuhkan bom kedua kapal tanker yang sedang lego jangkar di perairan pelabuhan Semayang. Setelah memastikan keduanya tertembak dan proses tenggelam, pesawat tersebut bersiap untuk kembali ke pangkalan. Pada saat kejadian ini, RI Hang Tuah berada pada jarak 7 mil laut keluar alur pelayaran menuju laut bebas dari lokasi tertembaknya MT San Flaviano dan MV Daronia.

Dalam buku sejarah TNI AL periode 1950-1959 jilid dua, mengatakan bahwa melihat hal ini RI Hang Tuah melancarkan serangan tembakan kepada pesawat B-26 Aurev yang sedang terbang kembali menuju pangkalan. Sampai akhirnya dia terbang berbalik arah, menurunkan ketinggian serendah rendahnya untuk mempermudah menembak RI Hang Tuah. Pada saat melaksanakan perlawanan RI Hang Tuah berada dalam kondisi yang terbatas olah geraknya dikarenakan berlayar dengan satu mesin. Tentu saja hal ini memengaruhi performa manuver RI Hang Tuah itu sendiri. Namun semangat perlawanan mendorong Komandan untuk terus mengobarkan semangat tempur anak buahnya meskipun dia paham akan kesiapan kapalnya. Serangan udara dari B-26 ini mengakibatkan tertembak dan gugurnya komandan RI Hang Tuah Mayor Ayub Laya, sementara kendali diambil alih oleh Perwira Satu Letnan Teguh Santoso yang memerintahkan seluruh ABK untuk melaksanakan peran peninggalan kapal.

Pada saat itu seorang komandan kapal perang dihadapkan pada dua pilihan, diam dan membiarkan B-26 berlalu atau peran tempur melaksanakan perlawanan meski dalam kondisi terbatas. Seringkali semangat juang dan perlawanan mengalahkan ambang batas kemampuan yang dimiliki.

Di sinilah sejarah menjadi guru terbaik bagi militer, agar dapat belajar bagaimana kesiapan tempur menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan selain semangat tempur yang dimiliki oleh pengawaknya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.