HANKAM

Hadapi Dinamika Indo-Pasifik, TNI AL Perkuat Pertahanan di Perbatasan

Peta jalur maritim
Peta jalur maritim dan jarak strategis Kepulauan Natuna yang berada di jalur perlintasan internasional Laut Cina Selatan. Wilayah terdepan ini menjadi titik krusial dalam proyeksi kekuatan pertahanan laut nasional menghadapi dinamika kawasan. (Foto: Dok. Sekretariat Kabinet)

Jakarta, IDM – Dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik memicu langkah antisipasi dari TNI AL untuk memfokuskan penguatan pertahanan di wilayah perbatasan guna merespons potensi ancaman nyata terhadap kedaulatan negara.

Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksma TNI Salim membedah kerawanan tersebut dalam seminar daring yang dihelat Komunitas Peduli Hankam, Sabtu (31/10). Ia menekankan, modernisasi alat utama sistem persenjataan mutlak diarahkan untuk merespons ketegangan regional.

Baca Juga: Kaji Proyeksi KRI Sriwijaya-100, TNI AL Soroti Kesiapan SDM dan Doktrin Kapal Induk

"Modernisasi alutsista TNI AL diarahkan untuk memperkuat kemampuan deteksi, daya tangkal, proyeksi kekuatan, serta respons terhadap berbagai tantangan keamanan maritim, khususnya di kawasan Indo-Pasifik," tegas Salim.

Penguatan pertahanan di perbatasan ini berjalan seiring dengan transisi postur militer nasional. TNI AL saat ini mematangkan peta jalan transformasi dari armada kawasan yang beroperasi di wilayah teritorial (Green Water Navy) menuju kekuatan samudera yang mampu memproyeksikan kekuatan secara global (Blue Water Navy).

Dalam transisi besar ini, Salim mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh, termasuk saat TNI AL mengkaji proyeksi pengadaan alutsista strategis skala masif seperti kapal induk KRI Sriwijaya-100. Menurutnya, ambisi memperkuat armada global tidak boleh sekadar mengejar kebanggaan fisik semata.

"Kehadiran kapal induk tersebut menjadi salah satu aspek penting yang perlu dikaji secara komprehensif, tidak hanya dari sisi platform dan teknologi," ujar Salim.

Baca Juga: Transformasi Kekuatan Laut, TNI AL Godok Strategi Menuju Blue Water Navy

Ia menambahkan, pengoperasian armada strategis juga menuntut kesiapan ekosistem pendukung yang matang agar seluruh misi pertahanan berjalan efektif di lapangan.

"Tetapi juga terkait kesiapan sumber daya manusia, sistem pendukung, interoperabilitas, doktrin, serta konsep operasi TNI AL di masa mendatang," pungkasnya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.