HISTORY

Tenggelam di Sungai Barito 1859, Jejak Kapal Onrust Belanda Ditemukan Kembali

Bangkai Kapal Onrus
Bangkai Kapal Onrus Belanda yang ditemukan di Sungai Barito. (Foto: Dok. Humas BP Kebudayaan Kalimantan Tengah)

Jakarta, IDM – Kapal Onrust adalah kapal perang uap milik Belanda yang ditenggelamkan pada 26 Desember 1859 oleh laskar pejuang di bawah pimpinan Tumenggung Surapati selama Perang Banjar atau Perang Barito. Kini kapal tersebut ditemukan kembali di Sungai Barito, Kota Muara Teweh, Kalimantan Tengah.

Dilansir dari keterangan Humas Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Tengah, Selasa (25/8), Kadis Disbudparpora Barito Utara, Pariadi AR, SKM, yang mendampingi perwakilan Kementerian Kebudayaan RI meninjau sisa Kapal Onrust di Sungai Barito, Sabtu (22/8). Ia memastikan dokumentasi kapal berusia 167 tahun itu segera dilaporkan ke Bupati Barito Utara untuk tindak lanjut sebagai pelestarian cagar budaya.

Baca Juga: TNI AU Ungkap Kronologi Sukhoi Su-30 MK2 Tergelincir di Bandara Sultan Hasanuddin

Bangkai Kapal Onrus
(Foto: Dok. Humas BP Kebudayaan Kalimantan Tengah)

Selain bangkai kapal, juga ditemukan jangkar kuno pada 9 Agustus 2026 oleh anggota pengamanan Airud BKO Polda Kalteng bersama Tim Security A5. Diduga kuat, jangkar ini merupakan peninggalan kapal Belanda abad ke-19.

"Saat ini, tim masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan usia dan statusnya sebagai cagar budaya," kata Pariadi.

Bangkai Kapal Onrus
(Foto: Dok. Humas BP Kebudayaan Kalimantan Tengah)

Sejarah Kapal Onrust

Dilansir dari kajian jurnal BRIN, Kapal Onrust berkaitan dengan perang untuk mempertahankan wilayah Tanah Banjar dari cengkraman Pemerintah Hindia Belanda. Awal mula Perang Banjar bermula dari rencana monopoli Pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan terkait perdagangan lada dan karet karena tingginya permintaan. Ambisi tersebut meluas hingga ke industri batu bara. Belanda membangun dan meresmikan tambang batu bara Oranje Nassau di wilayah Pengaron pada 21 September 1849 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Russchen.

Baca Juga: Bikin Bangga! Tuntaskan Misi di Papua, 3 Prajurit Brigif 6/TSB Disambut Upacara Khusus

Penolakan terhadap aktivitas tambang ini memicu terjadinya perlawanan dengan meletusnya Perang Banjar pada 28 April 1859. Belanda mengirimkan Kapal Onrust ke Hulu Sungai Barito dengan tujuan politis untuk membujuk Tumenggung Surapati, seorang pimpinan adat Dayak pada masa pemerintahan Belanda untuk menangkap Pangeran Antasari. Diskusi mengenai tawaran kerja sama tersebut berlangsung di atas Kapal Onrust pada 26 Desember 1859 namun tidak membuahkan hasil.

Belanda kembali mengirimkan Kapal Onrust untuk kedua kalinya, namun secara mendadak Tumenggung Surapati bersama anak buahnya menyerang kapal tersebut. Pada saat penyerangan para perwira tidak bersenjata karena telah terjadi penjarahan isi kapal dan sudah banyak orang terbunuh dengan kondisi geladak kapal terendam air sehingga kapal dengan mudahnya ditenggelamkan. Lokasi tenggelamnya Kapal Onrust di Kampung Lontontur, Sungai Barito telah menjadi bukti arkeologis terjadinya perlawanan yang dilakukan untuk melawan imperialisme.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.