25 Titik Bunker Pertahanan Pasir Angin

Jakarta, IDM – Keberhasilan pasukan sekutu ABDACOM yang disebut Black Force pimpinan Brigadir Blackburn di Leuwiliang—yang diklaim menewaskan banyak tentara Jepang—tidak lepas dari keberadaan Bukit Pasir Angin. Berada di ketinggian 210 mdpl, bukit yang terletak di seberang timur Jembatan Cianten ini menjadi lokasi sangat strategis bagi pasukan Sekutu untuk membombardir pergerakan Jepang.
Menurut Saifuloh, dahulu bukit ini terbentang luas berbentuk segi empat dengan banyak pepohonan yang tumbuh subur, serta sudah lama menjadi basis pertahanan bagi pasukan Belanda sejak dahulu.
Berdasarkan data ulang dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, kata Saifuloh, total terdapat 25 titik bunker (pillbox) yang tersebar dari Bukit Pasir Angin hingga ke area pemukiman warga di sebelah selatan dan timur. Saat ini, kondisi fisik sisasisa pertahanan tersebut sebagian masih utuh, namun banyak pula yang sudah rusak berat atau beralih fungsi menjadi bagian dari rumah warga, dapur, pemakaman, hingga area perkebunan.
Baca Juga: Benteng Kuto Besak, Warisan Perjuangan Rakyat Palembang Melawan Penjajah
“Dari total keseluruhan sebaran tersebut, terdapat 9 bunker yang terkonsentrasi di Bukit Pasir Angin dan menjadi pusat titik pertahanan utama bagi tentara Sekutu dalam menghadapi laju invasi,” kata Saifuloh yang sudah menjadi juru pelihara Museum Pasir Angin sejak tahun 1995.

Lebih lanjut kata Saifuloh, bunker-bunker ini awalnya dibangun secara rahasia dan menggunakan tenaga masyarakat setempat pada tahun 1930—jauh sebelum kedatangan pasukan Jepang—sebagai langkah persiapan menghadapi potensi invasi di masa depan, dengan bahan baku semen yang didatangkan langsung dari Australia.
“Dulunya, antara satu bunker dengan bunker lainnya saling terhubung oleh jaringan parit yang rapi dan diberi alas batu-batu kecil untuk menjaga mobilitas tentara saat bertukar posisi. Namun demi alasan keamanan pascaperang, parit-parit penghubung tersebut diuruk dan dikubur tanah oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, sehingga jejak sejarah paritnya kini telah menghilang dari permukaan,” kata Saifuloh.
Baca Juga: Pertempuran Leuwiliang Menguak Misteri 25 Bunker dan Tugu Veteran Jepang
Tim redaksi mencoba menelusuri langsung keberadaan bunker tersebut, dan benar saja kondisinya tetap kokoh meskipun bangunan atapnya sudah tidak terlihat lagi. Total ada beberapa bunker yang berada di sudut-sudut wilayah, di mana titik-titiknya diletakkan sangat strategis karena mengarah langsung ke aliran air Sungai Cianten. Struktur bunker tersebut terbuat dari campuran pasir, semen, dan kerikil sungai yang dikuatkan dengan struktur tulang penyangga besi di dalamnya.
Menurut Saifuloh, uniknya keberadaan Bukit Pasir Angin ini selain pernah berfungsi sebagai benteng pertahanan pasukan Sekutu, juga menjadi tempat ditemukannya berbagai situs dari zaman prasejarah. Karena alasan historis yang kuat inilah, keberadaan tempat ini akhirnya diubah menjadi museum yang dikelola oleh pemerintah untuk tujuan edukasi. Di Bukit Pasir Angin, kita dapat melihat langsung peninggalan dari masa Logam Awal, sekitar 1000 Sebelum Masehi hingga artefak Perang Dunia II, termasuk menhir, arca Hindu, dan alat perunggu.
“Salah satu temuan penting dari kawasan ini adalah topeng emas yang kini tersimpan di BRIN Cibinong. Topeng emas yang ditemukan di sini memberikan gambaran tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat di masa lalu yang ada di sekitar bukit Pasir Angin ini,” tutup Saifuloh.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































