HISTORY

Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe Sejarah yang Hidup di Ujung Surabaya

Museum Pusat TNI AL
Gedung Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)
Museum Pusat Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe memiliki konsep museum pintar. Tempat ini telah mengadopsi teknologi 4.0 dimana semua perangkat elektronik, multimedia, tata cahaya dan pengaturan daya listrik sudah saling terkoneksi dan dapat diatur secara otomatis karena menggunakan artificial intelligence, juga dapat dikendalikan dari tempat jauh. Museum ini dibekali ratusan sensor interaktif, perangkat layar sentuh, proyeksi dengan lumens tinggi untuk menghadirkan pengalaman menjelajah museum yang memukau dan berkesan.

Jakarta, IDM – Mulai dari Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista), tradisi khas, pahlawan, sejarah dan berbagai hal mengenai TNI AL dari masa lampau hingga saat ini. Dengan keberadaan Museum Pusat TNI Angkatan Laut ini, menjadi warisan yang sangat berharga untuk para generasi penerus TNI AL dan bangsa Indonesia guna membentuk mindset dan karakter maritim menuju Jalesveva Jayamahe.

“Untuk membentuk seseorang, dia harus dikenalkan dulu sejarahnya. Supaya punya pride,” kalimat itu meluncur tenang dari Kepala Museum Pusat TNI AL (Muspusal) Jalesveva Jayamahe, Letkol Laut (P) Yudho Ponco Ari, di antara cahaya layar interaktif, suara audio sejarah, dan langkah pengunjung yang hilir-mudik. Bagi Ponco, museum bukan semata ruang pamer benda lama, melainkan alat pembentuk kesadaran bahwa apa yang dinikmati hari ini adalah buah dari perjuangan panjang para pendahulu.

Gagasan itulah yang menjadi roh Muspusal. Sejarah tidak bisa ditempatkan sebagai deretan tahun dan nama, tetapi cerita berkelanjutan yang menghubungkan masa lalu dengan generasi sekarang. Di museum ini, teknologi hanyalah sarana; tujuan utamanya adalah menanamkan kebanggaan, baik kepada prajurit angkatan laut maupun masyarakat sipil yang berkunjung.

Museum Pusat TNI AL
Koleksi tombak dan bambu runcing asli milik pejuang kemerdekaan yang ada di Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Di sudut utara Surabaya, Jawa Timur, anggapan lama tentang museum sebagai ruang sunyi dan membosankan sengaja dipatahkan. Muspusal hadir sebagai ruang hidup yang mengajak pengunjung menyentuh, mendengar, dan merasakan denyut sejarah maritim Indonesia.

Berlokasi di kawasan Komando Armada (Koarmada) II, tak jauh dari Markas Komando Daerah Angkatan Laut (Mako Kodaeral) V, Muspusal berdiri di bawah pembinaan Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal). Sejak diresmikan pada September 2023, museum ini menjadi etalase utama perjalanan panjang Angkatan Laut Indonesia, dari masa kerajaan maritim hingga kekuatan laut modern yang dikemas dengan pendekatan smart museum.

Baca Juga: Bukan Beli Baru, Ini Asal-usul Tank Pertama yang Dipakai Kavaleri TNI-AD

Taman Mini Angkatan Laut

“Museum Pusat TNI AL ini ibaratnya taman mininya angkatan laut,” ujar Ponco saat ditemui di sela kunjungan, Sabtu (6/12). Maksudnya sederhana namun penting: seluruh sejarah dan satuan utama TNI AL, seperti armada, marinir, akademi, hingga lembaga pendidikan angkatan laut diwakili dan dirangkum dalam museum tersebut.

Berbeda dengan museummuseum di komando utama (kotama) yang memiliki fokus tematik sendiri, Muspusal dirancang sebagai simpul besar narasi. Sejak berdiri pada 2023, museum ini terus berkembang dan pada tahun keduanya mencatat kunjungan sekitar 5.000-8.000 orang per bulan, mulai dari pelajar, keluarga TNI AL, masyarakat umum, hingga wisatawan mancanegara.

Museum Pusat TNI AL
Pengunjung membaca profil Pahlawan Nasional dari TNI Angkatan Laut dari perangkat layar sentuh di Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Sejarah yang Dieksplor, Bukan Sekadar Dilihat

Konsep smart museum menjadi kunci utama. Alih-alih mengandalkan pemandu atau teks panjang, Muspusal memaksimalkan audio visual, layar sentuh, sensor interaktif, dan tata suara. Pengunjung dipersilakan mengeksplorasi sendiri alur cerita sejarah dengan menekan layar, membuka buku virtual, atau mengikuti suara narasi yang mengalir di ruang pamer.

“Sekarang informasi itu ada di jari. Jadi, kami mainkan rasa ingin tahu mereka,” kata Ponco. Museum ini bahkan dirancang agar tetap dapat dinikmati tanpa pemandu. Teknologi dihadirkan sesederhana mungkin sehingga ramah bagi semua kalangan, termasuk difabel. Dalam berbagai uji coba, pengunjung tunanetra mampu menikmati koleksi melalui deskripsi audio dan menceritakan kembali pengalaman mereka.

Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Laut, Letkol Laut (P) Yudho Ponco Ari
Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Laut, Letkol Laut (P) Yudho Ponco Ari.(IDM/Muhammad Hidayat)

Tiga Gedung, Satu Alur Cerita

Secara umum, Muspusal terdiri atas tiga gedung utama. Kunjungan diawali di gedung teater, tempat pengunjung diperkenalkan pada sejarah angkatan laut melalui film naratif, mulai dari kejayaan kerajaan maritim, masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga TNI AL masa kini.

Dari sana, alur berlanjut ke gedung heritage, jantung utama museum. Di ruang ini, sejarah disusun seperti labirin cerita. Pengunjung diajak menelusuri alasan lahirnya kerajaan maritim, kedatangan bangsa Eropa karena rempah-rempah, masa belajar di kapalkapal Belanda dan Jepang, hingga perjuangan mendirikan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Zona ini ditutup dengan area alutsista yang menampilkan persenjataan dari berbagai era.

Gedung ketiga berbentuk replika kapal perang KRI Raden Eddy Martadinata-331. Di sinilah narasi TNI AL era kekinian disajikan dengan pendekatan simulatif. Anjungan kapal, monitor, dan panel kendali dirancang menyerupai suasana kapal perang. Pengunjung seolah menjadi bagian dari kru yang sedang berlayar atau menjalankan operasi, pengalaman yang terasa seperti game, namun sarat muatan sejarah dan teknologi.

Baca Juga: Tenggelamnya RI Hang Tuah: Kesiapan Tempur Melawan Semangat Tempur

Koleksi yang Menyimpan Jejak Pertempuran

Hampir seribu benda fisik tersimpan di Muspusal, di antaranya sejumlah koleksi unggulan memiliki nilai historis yang kuat karena terkait langsung dengan peristiwa pertempuran. Salah satunya adalah senapan Arisaka rampasan dari tentara Jepang, lengkap dengan marking bunga sakura yang masih utuh, penanda bahwa senjata itu benar-benar direbut di medan laga.

Ada pula bambu runcing asli, senjata rakitan, hingga jimat para pejuang. Jimat-jimat tersebut, yang diperoleh dari keluarga pejuang, menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tak hanya bertumpu pada senjata modern, tetapi juga pada keyakinan dan keberanian.

Koleksi lain yang mencuri perhatian adalah peralatan selam yang digunakan prajurit Komando Intai Para Amfibi (KIPAM) KKO saat mengangkat jenazah pahlawan revolusi 1965, di Lubang Buaya, Jakarta. Benda-benda ini tak sekadar dipamerkan, melainkan dihadirkan sebagai penghubung emosional dengan masa lalu.

Museum Pusat TNI AL
Senapan Arisaka 99 rampasan dari tentara Jepang yang ada di di Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Dari Surabaya ke Dunia

Letaknya yang berada di luar basis militer membuat Muspusal terbuka bagi pengunjung mancanegara. Seluruh informasi pameran disajikan secara bilingual. Respons wisatawan mancanegara pun beragam, sering kali bersifat personal dan nostalgia.

Ponco menceritakan salah satu pengunjung asal Rusia yang terkesan menemukan kembali alutsista buatan negaranya, tank PT-76, helikopter, hingga pesawat pembom Ilyushin yang di Rusia sendiri sudah tak lagi dijumpai. “Di sini masih dirawat,” kata Ponco menirukan komentar mereka. Kemudian, ada cerita dari pengunjung asal Belanda, museum ini bahkan memunculkan kisah-kisah keluarga yang pernah terkait dengan Surabaya pada masa kolonial.

Museum yang Keluar dari Dindingnya

Bagi Muspusal, museum tidak selalu diam di tempat. Melalui program Living History, museum dibawa keluar ke ruang publik, seperti kafe, sekolah, konser musik jazz, hingga acara pemerintah kota. Bersama komunitas sejarah Roodebrug Soerabaia, koleksi direka ulang dalam peragaan langsung, lengkap dengan kostum dan demonstrasi penggunaan.

Sejarah juga dipadukan dengan musik lewat gelaran tahunan Jazz Tanjung Perak. Empat panggung dibangun di antara tank, pesawat, dan rel kereta, mengingatkan bahwa Jazz pertama kali masuk ke Indonesia lewat pelabuhan Tanjung Perak bersama para pelaut Belanda.

Baca Juga: Sejarah ALRI Gunung: Taktik Gerilya Angkatan Laut Indonesia Melawan Belanda

Merawat Masa Lalu, Menyongsong Masa Depan

Dengan 30 personel, sebagian besar prajurit TNI AL, museum ini dikelola secara digital. Sistem pameran dapat dikendalikan jarak jauh dan rutin diperiksa setiap pekan. Namun bagi Ponco, museum bukan proyek yang selesai ketika pintu dibuka. Muspusal justru dipahami sebagai ruang yang terus tumbuh mengikuti kebutuhan cerita sejarah yang belum sepenuhnya terajut.

Salah satu pengembangan yang tengah digagas adalah pembangunan wahana khusus sejarah Pasukan Perdamaian Indonesia. Wahana ini direncanakan berdiri di gedung baru, memanfaatkan sisa lahan Muspusal yang totalnya hampir tiga hektar. Konsepnya berupa labirin naratif yang menuntun pengunjung menelusuri keterlibatan Indonesia, termasuk TNI AL dalam misi perdamaian dunia, sejak pengiriman pasukan pertama ke Mesir hingga misi terakhir di Lebanon.

“Pasukan perdamaian ini kan jarang diceritakan secara utuh dan berurutan,” ujar Ponco. “Padahal Indonesia sudah lama terlibat, membantu banyak negara. Nah, itu yang ingin kami museumkan, dari ceritanya, reliknya, dan memorabilianya,” tambahnya.

Museum Pusat TNI AL
Peralatan selam yang digunakan personel Komando Intai Para Amfibi (KIPAM) KKO saat mengangkat jenazah Pahlawan Revolusi 1965 di Lubang Buaya yang dipamerkan di Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Wahana tersebut dirancang mengandalkan audio visual imersif yang dipadukan dengan bendabenda bersejarah yang memiliki kisah personel, meliputi perlengkapan tugas, dokumen, hingga artefak yang pernah menyertai prajurit dalam misi perdamaian. Menurut Ponco, pendekatan ini penting agar publik tak sekadar tahu Indonesia pernah mengirim pasukan, tetapi memahami konteks, risiko, dan nilai kemanusiaan di balik keputusan itu.

“Biar orang paham, ngirim pasukan perdamaian itu bukan sekadar keputusan politik,” katanya. “Ada cerita perjuangan, pengorbanan, dan kebanggaan di situ,” lanjutnya.

Harapan Ponco tetap berpulang pada satu hal: tumbuhnya rasa bangga yang berangkat dari pemahaman sejarah. “Untuk membentuk seseorang, dia harus dikenalkan dulu sejarahnya,” ujarnya. “Supaya dia tahu, apa yang dia jalani hari ini bukan dimulai dari nol,” pungkasnya.

Di Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe, sejarah tidak dibiarkan membeku. Ia dirawat, disusun ulang, dan diproyeksikan ke masa depan, agar jejak para pendahulu tetap hidup dalam kesadaran generasi berikutnya.

Di Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe, sejarah tidak dibiarkan membeku. Ia bergerak, bersuara, dan mengajak setiap pengunjung ikut berjalan di dalamnya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.