Bukan Beli Baru, Ini Asal-usul Tank Pertama yang Dipakai Kavaleri TNI-AD

Jakarta, IDM – Keberadaan tank-tank di Indonesia punya sejarah panjang termasuk di Kavaleri TNI AD. Bukan dari hasil belanja alutsista bernilai fantastis, kekuatan lapis baja pertama Indonesia tersebut justru lahir dari nekatnya para pejuang merebut kendaraan tempur musuh di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan 1945.
Dilansir dari keterangan Penpussenkav, Kamis (3/9), dijelaskan bahwa pada masa perjuangan kemerdekaan 1945, para pejuang Indonesia mengandalkan segala cara dan perlengkapan yang tersedia untuk mengusir penjajah. Selain senjata ringan dan semangat juang, ada fakta penting: penggunaan kendaraan tempur hasil rampasan.
Baca Juga: Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Riwayatmu Kini
"Di pertempuran-pertempuran besar—termasuk pertempuran Surabaya November 1945—para pejuang sudah mengerahkan panser Marmon-Herrington dan sejumlah tank ringan CTLS yang pernah menjadi aset tentara Jepang dan Belanda. Kendaraan-kendaraan tadi memberi keuntungan taktis yaitu mobilitas lebih besar, perlindungan bagi awak, dan daya tembak yang menambah kemampuan serangan serta pertahanan," tulis keterangan Pussenkav.
Awal Lahirnya Kavaleri TNI AD
Ketika Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, pada November 1949, mereka meninggalkan puluhan kendaraan tempur.
Baca Juga: Tenggelamnya RI Hang Tuah: Kesiapan Tempur Melawan Semangat Tempur
Menurut Pussenkav total ada sekitar 100-an tank dan panser yang kemudian menjadi inti kemampuan awal Korps Kavaleri TNI Angkatan Darat. Peralatan eks-Belanda itu segera dipakai Kavaleri TNI-AD untuk operasi-operasi penting pada awal 1950-an: penumpasan pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan; operasi melawan pemberontak PRRI/Permesta di Sumatra dan Sulawesi; penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku; serta operasi melawan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
"Pengalaman medan tempur menggarisbawahi satu hal: kavaleri bukan sekadar pamer senjata berat; ia adalah kekuatan yang mengombinasikan daya gerak, daya tembak, dan daya kejut," tutup Pussenkav.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































