TEKNOLOGI

Fregat Merah Putih Kapal Tempur Raksasa Buatan Anak Bangsa

KRI Balaputradewa-322
KRI Balaputradewa (322) TNI Angkatan Laut. (Foto: Dok. PT PAL INDONESIA)
Indonesia saat ini punya visi menjadi poros maritim dunia. Sehingga kekuatan armada laut modern menjadi syarat mutlak. Salah satu simbol paling nyata dari ambisi tersebut adalah program Fregat Merah Putih, kapal kombatan berat generasi baru TNI Angkatan Laut yang dibangun di dalam negeri dengan dukungan teknologi Inggris.

Jakarta, IDM – Program Fregat Merah Putih berakar dari desain Arrowhead 140, sebuah platform fregat modern yang dikembangkan oleh Babcock International dan menjadi dasar dari Type 31 frigate milik Angkatan Laut Inggris. Di Indonesia, kapal ini dikenal sebagai kelas Balaputradewa-class frigate, dinamai dari kapal pertama seri tersebut, KRI Balaputradewa (322).

Lebih dari sekadar pengadaan kapal perang baru, proyek ini merupakan langkah strategis untuk membangun kemandirian industri pertahanan maritim Indonesia sekaligus meningkatkan daya gentar TNI AL di kawasan Indo-Pasifik.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan wilayah laut yang jauh lebih luas dibanding daratan. Jalur perdagangan global melintasi perairan Nusantara, mulai dari Selat Malaka hingga Laut Natuna.

Tantangan keamanan di kawasan juga meningkat. Sengketa wilayah, kehadiran kapal militer asing, serta ancaman nontradisional seperti penyelundupan dan perompakan menuntut armada laut yang lebih modern dan responsif.

Sehingga TNI AL menjalankan program modernisasi armada, termasuk pembangunan fregat generasi baru yang mampu menjalankan berbagai misi. Fregat Merah Putih menjadi salah satu pilar utama dari strategi tersebut.

Baca Juga: Cara Kerja Radar Surveillance dalam Sistem Pertahanan Udara

Arrowhead 140

Kepada Indonesia Defense Magazine, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menjelaskan pemilihan desain Arrowhead 140 dilakukan melalui pertimbangan strategis yang matang. Menurutnya, faktor utama yang menjadi perhatian pemerintah adalah manfaat jangka panjang bagi industri pertahanan nasional. “Pemilihan desain ini memberikan nilai tambah yang signifikan dalam aspek transfer teknologi kepada industri galangan kapal nasional, khususnya PT PAL,” jelasnya.

Melalui kerja sama ini, Indonesia tidak hanya memperoleh kapal perang modern, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kemampuan nasional dalam desain kapal, integrasi sistem tempur, serta manajemen pembangunan kapal perang berukuran besar.

Rico menegaskan pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Kemudian, kata Rico, pertimbangan kedua adalah faktor keandalan desain.

Platform Arrowhead 140 dikembangkan dari fregat Denmark kelas Iver Huitfeldt-class frigate, yang telah terbukti operasional di Royal Danish Navy. Dengan menggunakan desain yang sudah teruji dalam operasi nyata, risiko pengembangan dapat ditekan secara signifikan. “Penggunaan desain yang telah terbukti memungkinkan proses pembangunan kapal menjadi lebih efisien, sekaligus menjamin reliabilitas platform,” ujar Rico.

KRI Balaputradewa-322
KRI Balaputradewa (322) TNI Angkatan Laut. (Foto: Dok. PT PAL INDONESIA)

Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa kapal dapat segera dioperasikan tanpa menghadapi kendala teknis yang sering muncul pada desain yang sepenuhnya baru.

Tonggak Penting

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menilai pembangunan fregat menjadi tonggak penting bagi kemajuan industri pertahanan nasional.

Tunggul menegaskan pembangunan fregat berbasis desain Arrowhead 140 punya arti strategis bagi Indonesia. Menurutnya, kapal ini merupakan fregat terbesar yang pernah dibangun oleh industri pertahanan dalam negeri.

“Pada dasarnya Indonesia dalam pembangunan kapal ini menggunakan basic design fregat Arrowhead 140, yang merupakan kapal jenis fregat terbesar yang pernah dibuat oleh industri pertahanan dalam negeri,” ujar Tunggul kepada Indonesia Defense
Magazine
.

Lebih jauh, ia menilai pembangunan kapal ini sekaligus menegaskan langkah strategis Indonesia dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. “Dalam konteks ini, pembangunan fregat tersebut juga dapat dipandang sebagai sebuah loncatan teknologi bagi industri pertahanan dalam negeri,” tambahnya.

Baca Juga: Spesifikasi USV Kamikaze yang Tampil dalam Latihan Terintegrasi TNI 2026, Adopsi Sistem KSOT

Penguatan Postur Maritim

Terpisah, Junior Analyst dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (KERIS) Hanif Rahadian menilai keputusan Indonesia mengadopsi desain Arrowhead 140 merupakan terobosan penting dalam modernisasi pertahanan maritim.

Hanif membeberkan penguatan armada fregat tidak hanya menghadirkan platform tempur baru, tetapi juga membuka peluang peningkatan kapasitas industri galangan kapal nasional melalui transfer teknologi dan pembangunan lokal.

Secara strategis, pembangunan fregat kelas Merah Putih berkaitan erat dengan upaya Indonesia memperkuat postur pertahanan maritim di kawasan Indo-Pasifik, wilayah yang saat ini menjadi pusat dinamika geopolitik global.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan platform militer yang mampu menjaga wilayah laut yang sangat luas sekaligus memastikan keamanan jalur perdagangan internasional yang melintasi perairan nasional,” terang Hanif kepada Indonesia Defense Magazine.

Arrowhead 140
Desain Arrowhead 140 oleh Babcock International. (Foto: Dok. BABCOCKINTERNATIONAL.COM)

“Penguatan armada fregat berkapabilitas tinggi memberikan daya tangkal yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kehadiran operasional Angkatan Laut di wilayah perairan strategis Indonesia,” tambahnya.

Selain meningkatkan kemampuan militer, kata Hanif, program tersebut juga memberikan dampak penting bagi penguatan industri pertahanan nasional. Melalui pembangunan kapal secara lokal di fasilitas PT PAL, Indonesia tidak hanya memperoleh platform tempur baru, tetapi juga meningkatkan kemampuan industri dalam desain, konstruksi, dan pemeliharaan kapal perang modern.

Bagi Indonesia, keberadaan fregat modern memiliki nilai strategis yang sangat besar. Sebagai negara maritim dengan wilayah laut yang luas, Indonesia membutuhkan kapal perang berukuran besar yang mampu beroperasi di laut lepas dalam waktu lama.

Sebagian armada TNI AL saat ini terdiri dari kapal yang telah berusia cukup tua. Di sisi lain, kapal kombatan utama seperti R.E. Martadinata-class frigate memiliki tonase sekitar 2.000 ton, yang relatif terbatas untuk operasi laut dalam jangka panjang.

Sementara itu, kapal kombatan dengan tonase lebih besar masih sangat terbatas jumlahnya. Salah satu contohnya adalah KRI Brawijaya (320), kapal patroli kombatan multiguna yang baru didatangkan dari Italia. Hanif juga mengemukakan kebutuhan akan kapal dengan tonase besar menjadi semakin mendesak.

“Indonesia membutuhkan kapal perang dengan tonase yang lebih besar, yang memiliki endurance dan resilience lebih kuat saat beroperasi dilaut lepas. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan terhadap ocean-going platforms menjadi semakin penting bagi TNI AL,” katanya.

Kapal dengan ukuran dan daya jelajah yang lebih besar memungkinkan operasi patroli dilakukan lebih lama serta menjangkau wilayah yang lebih luas.

Baca Juga: Langit yang Belum Utuh: Menguji Ketahanan Radar GCI Indonesia

Relevansi Geopolitik di Laut China Selatan

Modernisasi armada fregat Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari dinamika keamanan di kawasan Laut China Selatan. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik ketegangan geopolitik yang dipengaruhi rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina.

Dalam konteks ini, kehadiran fregat modern dinilai dapat meningkatkan daya tangkal Indonesia sekaligus memperkuat kehadiran Angkatan Laut di wilayah strategis.

“Kehadiran kapal fregat penting untuk meningkatkan kehadiran Angkatan Laut, khususnya dalam memperkuat pengawasan dan perlindungan di pulau-pulau terluar Indonesia,” kata Hanif.

Namun, ia menekankan efektivitas kapal tidak hanya bergantung pada jumlah platform yang dimiliki.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.