TEKNOLOGI

Drone Ambara: Mata Angkatan Laut dari Udara

Ambara
Pesawat nirawak (drone) Ambara jenis vertical take-off & landing (VTOL) (IDM/Septo Kun Wijaya)
Drone VTOL Ambara adalah drone intai dengan desain hybrid multicopter VTOL dan fixed wing dan merupakan buatan dalam negeri oleh PT Sapta Cakra Manunggal. Teknologi pada drone VTOL Ambara terdiri dari kamera beresolusi tinggi yang mampu merekam dan mentransmisikan video secara berkala sehingga diklaim ideal untuk misi pengawasan, pemantauan wilayah, serta operasi keamanan dan tanggap darurat. Mari kenal lebih jauh dengan Drone Ambara ini, yang kehadirannya mengukuhkan pencapaian penting dalam kemandirian teknologi pertahanan nasional.

Jakarta, IDM – Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Laut (Dislitbangal) jadi saksi lahirnya “Ambara”, drone karya anak bangsa yang kini mulai mengudara untuk misi pengawasan maritim.

Berawal pada tahun 2022, saat itu tim Dislitbangal masih berkutat dengan drone berjenis VTOL (Vertical Take-Off and Landing) untuk latihan target sasaran. Namun kebutuhan operasional berkembang. Mereka membutuhkan drone yang tidak hanya bisa terbang, tapi mampu melihat, merekam, dan mengawasi hingga area perbatasan Nusantara.

“Awalnya ini pengembangan dari tahun 2022, VTOL juga. Tapi ini (lebih fokus) untuk surveillance dengan memanfaatkan kamera yang resolusi tinggi,” ungkap Mayor Laut (E) Milchias Supriyandono, Sub Dinas Indera dan Pengendalian Senjata Dislitbangal kepada Indonesia Defense Magazine.

Milchias menyebut nama Ambara dipilih sebagai simbol ketinggian dan kemampuan terbang. Namun kemampuan itulah yang justru menjadi tantangan, terkait bagaimana membuat drone bertenaga baterai yang tetap stabil, kuat angin laut, dan mudah dioperasikan dari atas kapal.

Ketika awal pengembangannya, kata Milchias, desain rangka drone Ambara diubah berkali-kali agar bisa sempurna. Kamera dan telemetri menjadi titik yang paling sering dibongkar-pasang supaya drone Ambara tak ‘mogok’ di udara. Milchias membeberkan VTOL Drone Ambara ini dibuat untuk meningkatkan surveillance dengan memantapkan kamera yang memiliki kualitas tinggi. Pasalnya, drone Ambara sudah menggunakan baterai dan memiliki kemampuan 42 menit mengudara hingga jangkauan atau radius mencapai 15 kilometer.

Salah satu keunggulan lain Ambara adalah fixed-wing yang memungkinkan drone lepas landas secara vertikal layaknya multicopter, namun tetap mampu terbang jauh dan hemat energi seperti pesawat sayap tetap.

Baca Juga: Fregat Merah Putih Kapal Tempur Raksasa Buatan Anak Bangsa

Dengan konfigurasi tersebut, Ambara dapat dioperasikan dari berbagai platform termasuk geladak kapal perang, kapal patroli, pelabuhan kecil, maupun landasan darat terbatas. Fleksibilitas tersebut menjadikannya ideal untuk operasi laut yang menuntut kemampuan mobilitas tinggi.

Secara fisik, Ambara memiliki bentang sayap sekitar 4 meter dan panjang badan lebih dari 2 meter. Beberapa komponen dapat dilipat untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan di kapal.

Ambara
Personel Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut bersiap jelang melakukan Uji coba pesawat nirawak (drone) Ambara jenis vertical take-off & landing (VTOL) (Foto: Dok. Puspenerbal)

TNI AL, lanjut Milchias, membekali Ambara dengan paket sensor lengkap untuk misi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance). Teknologi seperti kamera elektro-optik dengan 210× mixed optical zoom, hingga sistem thermal imaging untuk operasi malam hari ada di dalam drone Ambara.

Ambara juga dibekali laser range finder untuk pengukuran jarak target, sistem deteksi dan pelacakan otomatis berbasis AI serta transmisi video real-time beresolusi tinggi. Milchias menyebut drone Ambara dikendali kan melalui Ground Control Station (GCS) modern dengan antarmuka layar sentuh ganda dan sistem navigasi yang mendukung pemantauan penuh selama misi.

“Ambara dirancang untuk mampu memantau kapal, aktivitas maritim, serta potensi ancaman di laut termasuk penyelundupan, illegal fishing, dan pelanggaran ZEE,” tegasnya.

Baca Juga: Spesifikasi USV Kamikaze yang Tampil dalam Latihan Terintegrasi TNI 2026, Adopsi Sistem KSOT

Uji Coba Sebelum Masuk Skuadron

Wahana udara nirawak buatan dalam negeri yang digadang-gadang menjadi aset strategis maritim Indonesia ini juga telah diuji kehebatannya. Uji coba berlangsung di Lapangan Terbang TNI AL Grati, Pasuruan, Jawa Timur, dengan melibatkan tim teknis dari Dislitbangal serta perwakilan industri pengembang, PT Sapta Cakra Manunggal.

Kegiatan uji coba tersebut ditinjau langsung oleh Kadislitbangal Laksamana Pertama Mulyatna, didampingi Komandan Wing Udara 2 Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah, dan Direktur Operasi Puspenerbal Kolonel Laut (P) Catur Sigit.

Ambara
Petugas bersiap jelang melakukan Uji coba pesawat nirawak (drone) Ambara jenis vertical take-off & landing (VTOL) (Foto: Dok. Puspenerbal)

Mulyatna membeberkan, Dislitbangal sebagai instansi terkait mendemonstrasikan pengembangan drone Ambara sekaligus memastikan kelaikan pesawat tanpa awak tersebut. “Pengembangan drone di lingkup TNI AL terus berjalan dengan berbagai desain dan teknologi yang diusung sesuai dengan perkembangan zaman,” ungkap Mulyatna, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal.

Uji coba drone Ambara jadi bagian dari rangkaian pengujian bertahap yang telah dimulai sejak awal 2025 untuk memastikan kesiapan operasional drone tersebut sebelum resmi masuk ke struktur Skuadron 700 Puspenerbal. “Nantinya, drone yang merupakan buatan dalam negeri ini ditempatkan dan memperkuat Skuadron Udara 700 Wing Udara 2 Puspenerbal Juanda,” paparnya.

Ambara dirancang khusus untuk operasi maritim yang menuntut kemampuan fleksibel dan efisien. Dengan desain hybrid yang memungkinkan lepas landas vertikal namun tetap memiliki sayap untuk meningkatkan efisiensi jelajah, drone ini dinilai cocok diterapkan dalam skenario patroli laut jarak menengah, hingga pemantauan zona ekonomi eksklusif (ZEE).

Baca Juga: Tank Boat Antasena Perkuat Pertahanan Perairan Dangkal Indonesia

drone ambara

Tak cuma itu, drone Ambara juga sanggup untuk mendukung operasi intelijen dan pengintaian, pemantauan wilayah pesisir, serta operasi darurat seperti pencarian dan pertolongan (SAR). Ukuran yang compact namun efisien memudahkan drone Ambara dibawa oleh kapal patroli atau unit pesisir. Hal ini memberikan keunggulan bagi TNI AL yang harus mengawasi wilayah maritim yang luas dan kompleks.

Pengembangan Drone Ambara tak hanya memperkuat kemampuan TNI AL, tetapi juga menjadi bukti bahwa industri pertahanan nasional memiliki kapasitas untuk menghasilkan wahana udara canggih. Kerja sama antara Puspenerbal dan PT Sapta Cakra Manunggal diharapkan menjadi katalisator bagi pengembangan UAV generasi berikutnya.

Ambara juga mempertegas langkah modernisasi alutsista TNI AL, khususnya dalam menghadapi dinamika keamanan maritim yang semakin kompleks, seperti pelanggaran wilayah, penyelundupan, dan aktivitas ilegal di kawasan perairan Indonesia.

Dengan uji coba yang berjalan lancar dan menunjukkan performa menjanjikan, Drone Ambara berada selangkah lebih dekat untuk menjadi bagian integral dari armada pengawasan maritim TNI AL.

Jika semua tahapan pengujian selesai dan drone dinyatakan laik operasi, Indonesia akan memiliki salah satu UAV maritim hybrid paling adaptif di kawasan, sekaligus mengukuhkan pencapaian penting dalam kemandirian teknologi pertahanan nasional.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.