Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Jakarta, IDM – Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
Melansir dari catatan sejarah Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal), Rabu (21/10), Indonesia mendatangkan 12 unit pesawat pembom menengah Ilyushin Il-28 buatan Uni Soviet pada tahun 1961. Dari total selusin unit tersebut, mayoritas dikhususkan sebagai varian pengebom torpedo dengan sandi Ilyushin Il-28T (Il-28T), sementara dua unit sisanya disiapkan untuk varian latih berkode Il-28U.
Baca Juga: Menelusuri Jejak “Opleidings Centrum Pantsertroepen”, Gerbang Bersejarah Kavaleri TNI AD
Seluruh armada pembom torpedo tersebut ditempatkan di bawah komando Skuadron Udara 500. Kehadiran pesawat bermesin ganda berkecepatan tinggi ini sempat memicu keresahan di kalangan militer Blok Barat dan NATO. Sebab, varian Il-28T dirancang khusus untuk membawa muatan bom hingga 3.000 kilogram atau meluncurkan dua buah torpedo antikapal langsung dari udara.
Kombinasi kecepatan jelajah dan daya hancur torpedo bawah air membuat pesawat ini diproyeksikan untuk melumpuhkan kapal-kapal permukaan besar milik musuh. Dalam proyeksi strategis masa itu, armada tersebut disiapkan untuk menghadapi kapal induk lawan yang beroperasi di kawasan perairan sengketa.
Secara teknis, pesawat yang diperkenalkan secara global pada 1948 dan mendapat sandi Beagle dari NATO ini memiliki bentang sayap 21,5 meter dengan panjang bodi 17,6 meter. Pesawat ini mampu melesat hingga kecepatan 900 kilometer per jam dengan jangkauan operasional sejauh 1.177 kilometer.
Ruang kemudi pesawat diawaki oleh tiga personel, yakni pilot yang merangkap penembak depan, navigator atau pengebom di bagian hidung kaca, serta operator radio yang sekaligus mengendalikan senapan mesin di bagian ekor. Selain torpedo, persenjataan pertahanan pesawat ini diperkuat empat meriam jenis Nudelman NR-23 kaliber 23 milimeter pada bagian lambung dan menara ekor.
Baca Juga: Gugurnya Para Pahlawan
Namun, usia operasional armada pemusnah ini tergolong singkat. Perubahan konstelasi politik nasional dari Orde Lama ke Orde Baru serta keterbatasan suku cadang membuat aktivitas penerbangan Il-28T perlahan meredup hingga akhirnya resmi dinonaktifkan pada 1970.
Meski masa tugasnya telah usai, lembaran sejarah mencatat, kehadiran Ilyushin Il-28T pernah menjadi lembar penting dalam evolusi strategi pertahanan laut Indonesia yang mengandalkan kekuatan terpadu antara kapal perang dan armada udara.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
















































































