Bisa Gendong 6 Kapal Selam! Inilah KRI Ratulangi, Raksasa 9.000 Ton Pendukung Operasi Trikora

Jakarta, IDM – TNI AL memiliki sejarah panjang dalam mengoperasikan alutsista raksasa yang disegani di kawasan. Salah satu yang paling legendaris adalah KRI Ratulangi, sebuah kapal tender kapal selam yang menjadi tulang punggung kekuatan bawah laut Indonesia di era Orde Lama hingga Orde Baru.
Melansir informasi resmi dari Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal), Selasa (24/3), KRI Ratulangi merupakan kapal buatan Uni Soviet dari kelas Don. Menariknya, Indonesia menjadi satu-satunya negara di luar blok Timur yang mengoperasikan kapal spesialis pendukung armada selam ini pada masanya.
Baca Juga: Rekam Jejak Lahirnya Sekolah Telegrafis Udara
Raksasa Logistik Penjaga Whiskey-Class
KRI Ratulangi bukan sekadar kapal pengangkut biasa. Kapal dengan bobot mencapai 9.000 ton ini mengemban peran strategis sebagai 'rumah apung' bagi armada kapal selam TNI AL. Berdasarkan catatan sejarah, kapal ini memiliki kapasitas untuk melayani dan mendukung operasional hingga 6 kapal selam kelas Whiskey sekaligus.
Sebagai kapal tender, KRI Ratulangi menyuplai seluruh kebutuhan logistik cair maupun padat. Kapal ini membawa bahan bakar, air bersih, hingga suplai makanan untuk menjaga daya tahan tempur awak kapal selam di garis depan. Tak hanya itu, raksasa ini juga mengusung torpedo kendali listrik SAET-50 yang sangat canggih di zamannya untuk mempersenjatai kembali armada selam RI.
Baca Juga: Pertempuran Selat Sunda: Kisah Dua Kapal Sekutu Dikepung Armada Jepang
Bengkel Terapung dengan Fasilitas Medis Lengkap
Mengutip detail spesifikasi teknisnya, KRI Ratulangi menjalankan fungsi sebagai bengkel perawatan bawah laut berjalan. Kapal ini memiliki fasilitas perbaikan yang mampu menangani kerusakan teknis di tengah laut.

Salah satu fitur unik yang menonjol adalah keberadaan katrol khusus berkapasitas 300 ton. Fasilitas ini memungkinkan kru melakukan perbaikan berat pada komponen kapal selam tanpa harus kembali ke pangkalan utama. Selain urusan mesin, KRI Ratulangi juga menjamin keselamatan personel melalui fasilitas kesehatan lengkap yang tersedia di atas geladak.
Setara Kapal Perusak dan Aktif di Berbagai Operasi
Meski berfungsi sebagai kapal pendukung, KRI Ratulangi memiliki "taring" yang mematikan. TNI AL membekali kapal ini dengan persenjataan yang setara dengan destroyer (kapal perusak) ringan. Tercatat, ada 4 pucuk meriam kaliber 100 mm dan 8 pucuk meriam kaliber 57 mm yang siap menyalak, plus kemampuan menebar ranjau laut.
Baca Juga: Monumen Ngoto, Mengenang Gugurnya Perintis TNI AU dalam Tragedi Pesawat Dakota 1947
Kiprahnya di medan laga pun tak main-main. Bersama KRI Thamrin, kapal ini tiba di tanah air tak lama setelah konflik Irian Barat mereda. KRI Ratulangi kemudian terlibat aktif dalam berbagai operasi militer besar, mulai dari Operasi Trikora, masa konfrontasi Indonesia-Malaysia, hingga dukungan logistik pada Operasi Seroja.
Hingga kini, nama KRI Ratulangi tetap abadi dalam catatan sejarah militer Indonesia sebagai simbol kejayaan maritim yang pernah membuat Indonesia memiliki armada bawah laut terkuat di belahan bumi selatan. (at)
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































