Operasi Trisula: Menangkap Gerilyawan PKI

Jakarta, IDM – Slogan “Vira Cakti Yudha” (Ksatria yang Tangguh di Medan Laga) terpampang di pintu masuk Museum Divisi Infanteri 2 Kostrad. Menurut pengurus museum, Sersan Mayor (Serma) Rio Handoko, slogan ini bukan hanya tulisan belaka namun sudah dibuktikan para prajurit. “Keberhasilan operasi Trisula hingga Timor-Timur menjadi bukti slogan itu melekat di dada para prajurit Divif 2 Kostrad,” kata Rio saat ditemui di Museum Divisi Infanteri 2 Kostrad. Di dalam museum, Rio mengisahkan salah satu keberhasilan operasi yang terus melekat dan menjadi pemantik nasionalisme para prajurit adalah Operasi Trisula. Operasi ini digelar di periode tahun 1968 untuk menumpas sisa-sisa gerilyawan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disinyalir ingin menghancurkan kedaulatan NKRI. “Operasi Trisula digelar pada tahun 1968, di Blitar, Jawa Timur untuk menumpas PKI. Operasi ini dijalankan oleh Brigif 18 Trisula dan dipimpin oleh Komandan Satuan Penugasan, Kolonel Infanteri Witarmin,” kata Rio sambil menunjuk diaroma operasi Trisula yang terpampang di museum.
Baca Juga: Museum Divisi Infanteri 2 Kostrad 55: Jendela Waktu Dan Jejak Perjuangan Menjaga Kedaulatan NKRI
Lebih lanjut Rio mengatakan saat itu ada beberapa tokoh dan anggota PKI yang tertangkap dan dipilah-pilah sesuai peran mereka dalam pergerakan PKI. Mereka ditangkap di dalam gua alam maupun lubang buatan yang biasa disebut ruba (rumah bawah tanah atau rumah baru). “Jadi di operasi ini tidak semuanya ditangkap. Jadi ada beberapa orang yang dipisahkan. Dipisahkan dalam arti, dia ini sebagai apa? Apakah tokohnya langsung atau hanya ikut-ikutan? Jadi tidak semuanya yang tertangkap ini dijadikan tersangka,” kata Rio.
Selain itu, kata Rio dalam operasi ini ada beberapa senjata serbu dan peledak yang diamankan. Total ada 37 pucuk dan 4 buah granat. “Dalam operasi ini rampasan senjata yang berhasil disita saat Operasi Trisula tersebut ada senapan serbu “jaren” atau sejenis Senapan Mesin Ringan (SMR) Bren, senjata ikonik yang digunakan di banyak kawasan konflik,” kata Rio.
Penerjunan di Operasi Seroja
Selain Operasi Trisula, prajurit Divif 2 Kostrad juga mengambil peran penting dalam Operasi Seroja. Adalah prajurit Lintas Udara (Linud) Brigif 18 yang terlibat langsung penerjunan yang dipusatkan di Kota Dili pada tahun 1975. “Operasi Seroja untuk mempertahankan daerah Timor Timur pada tahun 1975 dari Fretilin,” kata Rio.
Baca Juga: Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe Sejarah yang Hidup di Ujung Surabaya
Ia menjelaskan operasi ini lebih fokus di penerjunan, karena yang dikerahkan adalah Linud yang disebar di beberapa wilayah. Titik pusatnya di Ibu Kota Timor Timur yaitu Dili. Dalam operasi ini, lanjut Rio, banyak memakan korban gugurnya para pahlawan Brigif 18. Hal ini lantaran saat penerjunan, para prajurit ini langsung disambut tembakan. Menurut Rio, saat itu para penerjun masih menggunakan parasut model lama.
“Ada beberapa yang turun, saat penerjun belum sampai di tempat pendaratan sudah diserbu dari bawah. Banyak yang gugur,” kata Rio.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































