HISTORY

Gugurnya Para Pahlawan

Museum Vira Cakti Yudha
Personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) melaksanakan kegiatan di Museum Vira Cakti Yudha Divisi Infanteri 2 Kostrad, Malang, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Jakarta, IDM – Kisah mempertahankan wilayah Timor Timur dalam Operasi Seroja terus terpatri di benak para prajurit Divif 2 Kostrad, termasuk gugurnya para prajurit dalam operasi tersebut. Menurut Serma Rio Handoko, ada tiga nama yang punya kisah heroik dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Mereka gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa.

Adalah Serda Anumerta (Anm) Molilamasi dan Serda Anumerta (Anm) Mahlidin L. Talo yang gugur sebagai prajurit Batalion Armed (Yonarmed) 12/76 Para. Mereka gugur saat berpatroli pada 15 Desember 1976 pukul 03.00 Wita. Mereka berpatroli bersama satu regu didaerah Home Komplek, Lospalos.

“Pada saat pasukan patroli melewati daerah perbukitan yang memang di sana sudah diperkirakan sebagai markas dari pasukan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Pasukan patroli melihat seorang anggota GPK melintas menggunakan kuda dan ditembak. Saat itu terjadi kontak senjata namun ternyata itu hanyalah jebakan. Pasukan patroli sudah dikepung,” kata Rio. Ia melanjutkan saat itu, secara tidak disangka munculah satu pleton pasukan GPK yang berada diatas dua bukit sebelah kiri dan kanan. Pasukan patroli TNI yang menggunakan “formasi gunting” (killing ground) terjebak di tengah-tengah kepungan. Kontak senjata pun tak terelakkan dan berlangsung gencar dan cepat.

Baca Juga: Operasi Trisula: Menangkap Gerilyawan PKI

“Namun karena sudah terlatih dengan baik, pasukan patroli berhasil menguasai pertempuran dan memukul mundur pasukan GPK ke dalam hutan. Pasukan patroli berhasil menewaskan lima orang pasukan musuh,” jelas Rio.

Namun sayang, karena tidak mengusai medan pertempuran, dua prajurit TNI juga berhasil ditangkap GPK dan dibawa ke dalam hutan. Para prajurit mengejar namun kehilangan jejak.

Untuk mengantisipasi agar tidak jatuh banyak korban, kata Rio, maka komandan patroli meminta bantuan satuan Yonif 305/Linud selaku induk pasukan untuk membantu melaksanakan pencarian dan penyelamatan.

“Namun sayangnya saat menemukan markas GPK pada 18 Desember 1976, dua prajurit tersebut telah gugur. Hal ini lantaran ditemukan bekas pakaian mereka dan ikat kepala merah putih yang semuanya dipenuhi noda darah dan lubang bekas tembakan peluru dan ceceran otak,” kata Rio.

Helm tempur milik Sersan Mayor Anumerta Sandoyo
Helm tempur milik Sersan Mayor Anumerta Sandoyo yang dipajang di Museum Vira Cakti Yudha Divisi Infanteri 2 Kostrad, Malang, Jawa Timur. (IDM/Muhammad Hidayat)

Pada hari itu juga langsung diadakan upacara pemakaman militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Lospalos.. “Walaupun jasad mereka tidak ditemukan dan tubuh mereka tercabik-cabik namun jasa pengorbanan mereka akan tetap dikenang oleh Batalion Armed 12 dan bangsa Indonesia. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan mereka, nama mereka diabadikan di dalam Ksatrian Batalion Armed 12,” kata Rio.

Helm Sersan Mayor Anumerta Sandoyo

Salah satu koleksi menarik di Museum Divif 2 Kostrad adalah helm tempur dari Sersan Mayor Anumerta Sandoyo. Menurut Rio, Sandoyo gugur saat Operasi Seroja. “Saat itu almarhum ikut dalam Operasi Seroja, terlibat dalam Operasi Seroja. Ada beberapa peninggalan termasuk salah satunya helm tersebut. Helm ini milik pribadi dari almarhum,” kata Rio.

Baca Juga: Museum Divisi Infanteri 2 Kostrad 55: Jendela Waktu Dan Jejak Perjuangan Menjaga Kedaulatan NKRI

Kronologi saat itu, kata Rio, Sandoyo ditembak di kepalanya. Walaupun menggunakan helm tempur tapi tetap tembus dari kepala belakang kedepan. “Coba perhatikan, ada beberapa lubang di helm ini sampai tembus kebelakang,” kata Rio.

Namun saat tertembak tersebut, walaupun terkena kepala tetapi Sandoyo tidak menyerah, ia belum gugur. Ia terkapar dan tidak berdaya (gugur) setelah pasukan Fretilin menyeretnya. “Menurut cerita dari kawan-kawannya, meninggalnya bukan karena ditembak tapi karena diseret dari kendaraan,” jelas Rio.

Kini nama Sandoyo dikenang menjadi salah satu tokoh pahlawan Operasi Seroja. Nama dan patungnya terpampang di Divif 2 Kostrad, yaitu Gedung Sandoyo. “Jadi saat itu almarhum ini berpangkat Prada, sampai akhirnya diberikan kenaikan pangkat untuk mengenang jasa beliau, jadi akhirnya pangkat Sersan Mayor Anumerta, “kata RIo.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.