HISTORY

Pertempuran Leuwiliang Menguak Misteri 25 Bunker dan Tugu Veteran Jepang

Pertempuran Leuwiliang Menguak Misteri 25 Bunker dan Tugu Veteran Jepang
Kendaraan melintasi jembatan Cianten di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)
Pertempuran Leuwiliang merupakan salah satu sejarah konflik Perang Dunia II. Pertempuran ini menjadi saksi detik-detik peralihan kekuasaan dari tangan Belanda ke Jepang. Pertempuran yang berlangsung dari 3-5 Maret 1942 itu menimbulkan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak. Walaupun Belanda sudah mendapatkan bantuan dari tentara Sekutu hingga peralatan-peralatan canggihnya, nyatanya wilayah Hindia Belanda tetap jatuh ke tangan Jepang hanya dalam waktu 48 jam. Berikut kisah lengkapnya?

Jakarta, IDM – Gemuruh riuh lalu lintas di Jembatan Cianten, Kabupaten Bogor Barat, Jawa Barat, seolah menyamarkan sebuah fragmen sejarah besar yang pernah bergejolak di bawah alirannya. Di balik tenangnya riak sungai dan hijaunya lanskap Situs Pasir Angin, kawasan ini merupakan saksi bisu palagan sengit Perang Dunia II yang mempertemukan ambisi ekspansi tentara Jepang dengan ketahanan baris belakang pasukan Sekutu.

Menurut Saifuloh, Juru Pelihara Situs Pasir Angin, jembatan tersebut hari ini bukan hanya sekadar urat nadi transportasi, namun menyimpan memori tentang pertempuran, taktik umpan serdadu Kamikaze, hingga keberadaan benteng pertahanan sekutu ABDACOM (American-British-Dutch-Australia Command) yang pernah kokoh berdiri di atas bukit. “Pertempuran tersebut terjadi dua hari dua malam yang mencekam di tahun 1942,” kata Saifuloh, saat ditemui Indonesia Defense Magazine, pertengahan Juni 2026.

Ia mengisahkan Jembatan Cianten sudah melewati tiga masa perombakan, yakni sejak zaman Belanda, pendudukan Jepang, hingga dipugar pada tahun 1981 oleh pemerintah Indonesia.

Tim redaksi Indonesia Defense Magazine bersama Saifuloh mencoba menelusuri pesisir sungai Cianten. Aliran air cukup tenang walaupun sesekali meluap besar jika hujan turun. Tampak beberapa warga sekitar sedang memancing. Jembatan Cianten yang berlokasi di wilayah Bogor Barat—tepatnya di jalan lintas utama yang menghubungkan Kecamatan Leuwiliang dan Kecamatan Cibungbulang—memiliki lebar sekitar 7 meter, yang cukup untuk dilalui dua kendaraan roda empat dari arah berlawanan.

Baca Juga: Kisah Ryamizard Ryacudu Bersama Marinir Bebaskan Tawanan di Kamboja

Pertempuran 48 Jam di Leuwiliang

Menurut Saifuloh, kronologi pertempuran Leuwiliang (1942) berawal dari mobilisasi pasukan Jepang yang melakukan invasi ke Jawa setelah menempuh long march berjalan kaki dari tempat pendaratan di Merak selama satu hari satu malam.

“Namun saat akan memasuki kawasan Leuwiliang, pasukan Jepang sempat tertahan karena jembatan utama sudah diputus oleh Sekutu dan aliran sungai sedang mengalami banjir besar,” kata Saifuloh.

pertempuran Leuwiliang
Infografis pertempuran Leuwiliang yang dipamerkan di Museum Situs Pasir Angin, Cibubulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
(IDM/Faisal Ramadhan)

Karena terkendala kondisi alam tersebut, pasukan Jepang menerapkan taktik khusus untuk menembus pertahanan musuh. Pasukan Jepang, kata Saifuloh, menggunakan taktik Kamikaze yaitu menggunakan strategi pembagian tugas; pasukan garda depan dijadikan umpan, sementara pasukan lainnya bergerak mengitari wilayah sekitar mulai dari Kurasida, Karacak, hingga Bantar Kambing dan Ciampea.

Strategi pengepungan musuh dengan cara memutar tersebut terbukti efektif. Pergerakan ini berhasil membuat pasukan Jepang mengurung rapat basis pertahanan tentara Sekutu—yang terdiri dari KNIL Belanda dan Australia—di Bukit Pasir Angin.

Baca Juga: Kisah Ryamizard Ryacudu Bersama Marinir Bebaskan Tawanan di Kamboja

Siasat pengepungan ini memicu bentrokan skala besar yang menentukan jalannya kendali wilayah di Bogor Barat.

“Durasi pertempuran sengit berlangsung selama dua hari dua malam. Pasukan Sekutu akhirnya kocar-kacir dan mundur melarikan diri ke arah Bogor dan Jakarta. Perang ini dimenangkan oleh pihak Jepang,” kata Saifuloh.

Museum
Museum Situs Pasir Angin di Cibubulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)

Bentrokan Detasemen Nasu vs Black Force Australia

Kisah yang dituturkan Saifuloh ini sejalan dengan catatan sejarah dalam buku “Konflik Bersejarah: Runtuhnya Hindia Belanda” karya Nino Oktorino. Pasukan Jepang yang menyerang Leuwiliang merupakan Detasemen pimpinan Mayor Jenderal Nasu dan Resimen Pengintai ke-2 yang mendapatkan perintah langsung dari Letnan Jenderal Imamura Hitoshi, Panglima Tentara ke-16 Jepang yang ditugaskan menaklukkan Jawa. Misi utama nya adalah menduduki titik penyeberangan di Sungai Tjoedjoeng (Ciujung) secepat mungkin, lalu merebut Buitenzorg (Bogor) guna memotong jalur penarikan mundur pasukan musuh dari Batavia (Jakarta) menuju Bandung.

Setelah merebut Sungai Tjoedjoeng, Detasemen Nasu tiba di pinggiran Djasinga (Jasinga) dan Tangerang pada malam 2 Maret, lalu mencapai pinggiran Leuwiliang keesokan harinya. Di sana, mereka mendapati Jembatan Leuwiliang telah dihancurkan dan tepi timurnya dipertahankan oleh pasukan Black Force Australia. Tidak seperti pasukan KNIL Belanda yang dianggap lemah, militer Jepang menaruh rasa hormat khusus terhadap ketangguhan Black Force Australia karena reputasi bertarung mereka yang hebat saat memerangi pasukan Jepang di Malaya. Kini, di Leuwiliang, pasukan Jepang akan segera mencicipi kembali pertempuran dengan Black Force.

Baca Juga: Benteng Kuto Besak, Warisan Perjuangan Rakyat Palembang Melawan Penjajah

Jepang memulai serangan pukul 04.00 pagi pada 3 Maret atas perintah Mayor Jenderal Nasu. Kemudian Resimen Infanteri ke-16 Jepang melancarkan serangan malam terhadap posisi pertahanan Australia di Tjibatok, sementara Resimen Pengintai ke-2 menyusuri Sungai Tjikaniki menggunakan perahu. Hujan deras yang membuat sungai meluap sempat menghambat operasi, sehingga saat menyeberang, mereka dipergoki dan dihujani tembakan gencar. Komandan penyerbu Jepang, Kolonel Hiroyasu, terluka; hanya sedikit prajurit Jepang yang berhasil menyeberang dan mereka segera dihalau oleh serangan balasan Black Force.

Tak hanya itu, pada tengah hari, Jepang juga melakukan serangan tank. Total lima tank ringan Jepang bergerak mendekati jembatan yang rusak, tetapi tembakan senapan antitank Sekutu berhasil menghentikan mereka dan merusak dua tank di antaranya. Gagap dengan serangan tank tersebut, Jepang pun mengerahkan pasukan infanteri lanjutan. Di bawah perlindungan tembakan mortir, mereka menyeberangi sungai sekitar 300 yard dari jembatan, namun pasukan terdepan Australia kembali berhasil menghentikan mereka.

Komandan Black Force, Brigadir Blackburn, kemudian memerintahkan artilerinya yang terdiri dari prajurit Amerika untuk beraksi. Mereka menyapu habis posisi mortir, konsentrasi pasukan, dan kendaraan musuh di tepi barat sungai, sementara tembakan balasan mortir dan meriam Jepang meleset.

Dalam laporan pertempuran di Leuwiliang ini, tercatat sebanyak 500 orang prajurit Jepang tewas, sementara pasukan Australia kehilangan 150 orang prajurit. Walaupun begitu, keberhasilan pasukan Sekutu menahan musuh di Leuwiliang ini berbanding terbalik dengan front Belanda lainnya di Jawa Barat. Wilayah pertahanan Sekutu yang lain mulai terancam oleh pendaratan Jepang yang lebih ke utara, yaitu di Eretan Wetan, Indramayu, hingga membuat pasukan Belanda-Sekutu kocar-kacir.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.