Pesawat OV-10 Bronco, ‘Kuda Liar’ Andalan TNI AU untuk Misi Anti-Gerilya

Jakarta, IDM – OV-10 Bronco pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kekuatan TNI Angkatan Udara (TNI AU) di era 1970-an. Pesawat yang dikenal dengan julukan ‘Kuda Liar’ atau ‘Si Kampret’ ini dirancang khusus untuk misi counter-insurgency atau anti-gerilya.
Julukan tersebut mencerminkan karakteristik pesawat yang tangguh, agresif, serta mampu bermanuver lincah dan gesit pada ketinggian rendah dalam menjalankan misi tempur taktis.
OV-10 Bronco pertama kali masuk ke jajaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU sebagai pengganti P-51D Mustang. Indonesia mendatangkan 16 unit OV-10 Bronco secara bertahap pada periode 1976 hingga 1977. Seiring dengan pengadaannya, TNI AU juga mengirim para penerbang serta teknisi ke Amerika Serikat (AS) untuk menempuh pendidikan dan pelatihan.
Baca Juga: B-25 Mitchell AURI dalam Operasi Trikora, Gempur Kapal Belanda di Pulau Gag
Pada awal pengoperasiannya, OV-10 Bronco menggunakan kode registrasi ‘S’ atau ‘Serang’. Namun, pada tahun 1979, kode tersebut diubah menjadi 'TT 'atau 'Tempur Taktis' untuk menyesuaikan dengan peran pesawat.
OV-10 Bronco terlibat dalam berbagai operasi dan latihan di sepanjang masa tugasnya. Pesawat ini resmi di-grounded pada 2007 karena faktor usia. Perannya kemudian digantikan oleh pesawat EMB-314 Super Tucano.
Home Base OV-10 Bronco
Dalam perjalanannya, OV-10 Bronco menjadi tulang punggung Skadron Udara 3 yang saat itu berlokasi di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pesawat kemudian ditetapkan sebagai unit OV-10 Bronco pada 1 Mei 1990, setelah kehadiran F-16 Fighting Falcon pada 1989.

Pada 18 Desember 1990, OV-10 Bronco menjadi kekuatan Skadron Udara 1 hingga kedatangan pesawat Hawk 100 dan 200 pada 1999. Selanjutnya, pada 18 Agustus 2004, pimpinan TNI AU melikuidasi unit OV-10 Bronco dan mengaktifkan kembali Skadron Udara 21 dengan pesawat tersebut sebagai kekuatan utamanya.
Lincah dan Responsif
Melansir keterangan Dinas Sejarah TNI AU melalui unggahan Instagram @sejarah_tniau, Minggu (3/5), OV-10 Bronco dikenal memiliki karakteristik yang lincah, responsif, mampu menjangkau jarak yang relatif jauh, dan andal dalam berbagai kondisi operasi.
Kemudian, pesawat juga mampu beroperasi di landasan pendek, termasuk landasan rumput. Dengan biaya operasional yang relatif rendah, OV-10 Bronco sangat fleksibel untuk berbagai misi.
Baca Juga: Bisa Gendong 6 Kapal Selam! Inilah KRI Ratulangi, Raksasa 9.000 Ton Pendukung Operasi Trikora
OV-10 Bronco merupakan pesawat tempur ringan bermesin ganda dan baling-baling buatan North American Rockwell. Didukung dengan visibilitas kokpit yang luas, pesawat ini memiliki kecepatan sekitar 560 kilometer per jam, daya jelajah lebih dari tiga jam, serta daya angkut hingga tiga ton.
Dari sisi persenjataan, OV-10 Bronco dilengkapi dengan empat senapan mesin kaliber 7,62 milimeter dan mampu membawa persenjataan eksternal hingga sekitar 750 kilogram, mulai dari bom 100 sampai 250 kilogram hingga peluncur roket FFAR.
Indonesia kemudian meningkatkan kemampuan tempurnya dengan mengganti senapan mesin M60 kaliber 7,62 milimeter menjadi 12,7 milimeter, sehingga daya gempur pesawat ini semakin optimal. (yas)
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.






































































