POLKAM

Menko Polkam Dudung: TNI-Polri Sudah All Out, Karhutla Tak Semudah Dibayangkan

Dudung Abdurachman.
Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman. (IDM/Yakub Pryatama

Jakarta, IDM – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menegaskan pemerintah telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung lebih dari dua bulan.

Keterlibatan TNI, Polri, petugas pemerintah daerah, hingga masyarakat menjadi bagian dari upaya terpadu untuk mengendalikan kebakaran di wilayah terdampak.

Dudung mengatakan penanganan karhutla membutuhkan upaya besar karena luasnya wilayah hutan yang harus ditangani serta kompleksitas kondisi di lapangan.

Menurutnya, pelbagai unsur telah bekerja maksimal, termasuk dengan mengerahkan personel, alat utama sistem persenjataan (alutsista), dan teknologi pendukung pemadaman.

Baca Juga: Karhutla Belum jadi Bencana Nasional, Menko Polkam: Negara Masih Sanggup

“Prajurit-prajurit TNI kita, kemudian kepolisian, kemudian dari Manggala, dan petugas-petugas lain dari pemerintah daerah bahkan melibatkan masyarakat ini sudah all out lah, ya, untuk menangani kebakaran hutan,” ujar Dudung.

Hal itu diungkapkan Dudung usai mengunjungi Sumatra Selatan beberapa hari sebelumnya. Dalam kunjungan itu, ia mengaku menyaksikan langsung proses penanganan kebakaran, bahkan mempraktikkan sejumlah langkah penanganannya.
Pengalaman tersebut, menurut Dudung, memperlihatkan pemadaman karhutla tidak semudah yang dibayangkan.

Luasnya kawasan hutan, karakteristik wilayah, serta tantangan teknis di lapangan membuat penanganan membutuhkan pengerahan sumber daya secara berkelanjutan.

Ia menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kebakaran yang berlangsung berlarut-larut. Berbagai peralatan dan teknologi telah dimanfaatkan, termasuk teknologi dari Brasil serta hasil pengembangan dan temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Penanganan-penanganan ini tidak seperti apa yang kita bayangkan, seakan-akan pemerintah ini tidak berbuat. Upaya-upaya itu sudah dilaksanakan,” katanya.

Dudung juga mengungkapkan pengerahan kekuatan udara menjadi salah satu bagian penting dalam operasi penanganan karhutla.

Pesawat Hercules dan helikopter, baik yang disewa maupun milik sendiri, telah dikerahkan untuk mendukung upaya pemadaman sesuai kebutuhan operasi.

Baca Juga: Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Usung Diplomasi Inklusif

Di sisi personel, TNI dan Polri bekerja bersama petugas dari berbagai instansi serta masyarakat setempat. Pelibatan masyarakat dinilai penting mengingat luasnya wilayah yang harus dijangkau dan kebutuhan akan dukungan di tingkat lokal.

Meski pelbagai upaya telah dilakukan, Dudung mengakui penanganan karhutla masih menghadapi kesulitan besar.

Ia juga menyebut adanya korban di antara pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran, meski tidak merinci jumlah maupun identitasnya dalam pernyataan tersebut.

“Sudah dikerahkan secara maksimal. Termasuk personel dari TNI-Polri, termasuk yang lain pun, bahkan masyarakat-masyarakat, tenaga-tenaga masyarakat sudah dilibatkan,” ujarnya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.