POLKAM

Lepas KRI Wahidin Sudirohusodo ke Pasifik, Menko Polkam: Indonesia Hadir Bukan untuk Pamer Kekuatan

Menko Polkam
Lepas KRI Wahidin Sudirohusodo ke Pasifik, Menko Polkam Djamari Chaniago sebut Indonesia hadir bukan untuk pamer kekuatan pamer kekuatan. (Foto: Dok. Kemenko Polkam)

Jakarta, IDM – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago melepas keberangkatan KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 dalam misi Port Visit 2026 ke kawasan Pasifik dan Oseania.

Kapal Bantu Rumah Sakit TNI Angkatan Laut tersebut membawa misi kesehatan, kemanusiaan, dan diplomasi persahabatan dengan melibatkan ratusan personel gabungan.

Pelepasan Satgas Port Visit 2026 berlangsung di Dermaga 106 Tanjung Priok, Jakarta.

Misi yang mengusung tema Health, Humanity, and Diplomacy dengan semangat Bridging Nations, Serving Humanity itu menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat hubungan dengan negara-negara Pasifik melalui pendekatan kemanusiaan dan kerja sama lintas sektor.

Dalam arahannya, Djamari menegaskan bahwa keberadaan Indonesia di kawasan Pasifik tidak semata-mata berkaitan dengan aspek pertahanan dan keamanan.

Baca Juga: IKN Menuju Ibu Kota Politik 2028, Kemenko Polkam Soroti Empat Tantangan Pertahanan Strategis

Kehadiran KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 juga membawa pesan kepedulian, persahabatan, dan komitmen untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat negara-negara yang dikunjungi.

“Indonesia hadir di kawasan Pasifik bukan untuk menunjukkan kekuatan, melainkan menghadirkan kepedulian, membangun kepercayaan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Djamari kepada para personel yang akan bertugas.

Djamari menjelaskan, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 merupakan Kapal Bantu Rumah Sakit TNI AL yang mengemban misi kesehatan, kemanusiaan, dan persahabatan.

Dalam pelaksanaan Port Visit 2026, kapal tersebut tidak hanya membawa unsur militer, tetapi juga melibatkan berbagai elemen sipil dan kelembagaan.

Keterlibatan lintas unsur itu mencakup TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara, Polri, kementerian/lembaga, akademisi, mahasiswa, relawan, hingga jurnalis.

Menurut Djamari, komposisi tersebut menjadi pembeda penting dalam pelayaran kali ini. Misi Port Visit 2026 dirancang sebagai kegiatan bersama yang memadukan kemampuan pertahanan, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta diplomasi sosial dan budaya.

“Untuk pertama kalinya, yang berangkat sekarang tidak hanya TNI Angkatan Laut, tetapi kita bergabung. Di situ ada TNI Angkatan Darat, Kepolisian, mahasiswa, dan para relawan,” tambahnya.

Kehadiran unsur nonmiliter dalam satgas tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi Indonesia dapat dijalankan melalui pendekatan yang lebih luas.

Kapal rumah sakit menjadi sarana untuk menjangkau masyarakat, sementara personel gabungan membawa pengalaman, pengetahuan, dan kapasitas kerja sama dari berbagai bidang.

Baca Juga: Kemenko Polkam Perkuat Strategi Lindungi WNI dari Jerat Cyber Scam di Asia Tenggara

Satgas Port Visit 2026 dipimpin Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto. Pelayaran ini dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih 60 hari, mulai 14 September hingga 12 November 2026.
Adapun rute pelayaran meliputi Jakarta–Sorong–Vanuatu–Fiji–Kepulauan Solomon–Papua Nugini–Wanam–Sorong.

Selama menjalankan misi, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 akan mengunjungi sejumlah negara Pasifik, yakni Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini.

Kunjungan diarahkan untuk mempererat hubungan bilateral dan membangun kepercayaan melalui berbagai kegiatan di bidang kemaritiman, sosial, budaya, kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.

Dalam konteks hubungan Indonesia dengan kawasan Pasifik dan Oseania, misi ini memiliki arti strategis.

Pendekatan kemanusiaan dapat menjadi ruang pertemuan kepentingan bersama, khususnya dalam menghadapi tantangan kesehatan, pendidikan, kebencanaan, serta pembangunan masyarakat pesisir dan kepulauan.

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai platform pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi sarana diplomasi maritim yang mempertemukan unsur pertahanan dan kepentingan kemanusiaan.

Sebanyak 318 personel terlibat dalam Port Visit 2026. Mereka terdiri atas berbagai unsur TNI, Polri, kementerian/lembaga, relawan, akademisi, mahasiswa, dan jurnalis.

Adapun rinciannya, yakni 247 personel TNI Angkatan Laut, 21 personel TNI Angkatan Darat, 15 personel TNI Angkatan Udara, 4 personel Polri dan 31 personel gabungan dari kementerian/lembaga, relawan, akademisi, mahasiswa, dan jurnalis.

Unsur gabungan tersebut mencakup Kemenko Polkam, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pendeta dan dosen relawan, serta mahasiswa dari Universitas Pertahanan, Universitas 17 Agustus 1945, dan UPN.

Turut terlibat mahasiswa orang asli Papua. Kehadiran mereka memberikan dimensi sosial dan pendidikan tersendiri dalam misi, sekaligus memperluas ruang partisipasi generasi muda Indonesia dalam diplomasi luar negeri.
Keterlibatan jurnalis juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan perspektif publik terhadap perjalanan misi kemanusiaan dan diplomasi maritim Indonesia.

Sebelum melepas keberangkatan satgas, Djamari menyampaikan empat pesan utama kepada seluruh personel yang akan menjalankan misi selama kurang lebih dua bulan.

Baca Juga: Koridor Andaman-Aceh jadi Kunci Strategis Perkuat Kemitraan Maritim India-Indonesia

Pertama, seluruh personel diminta menjaga kesehatan selama pelayaran. Kedua, menjaga tata krama serta mematuhi ketentuan dan disiplin yang berlaku di atas KRI.

Ketiga, menjaga kehormatan Indonesia sekaligus menunjukkan kepedulian kepada masyarakat di negara-negara tujuan. Keempat, mengutamakan keselamatan hingga seluruh personel kembali ke Tanah Air.

“Pada saat kalian berada di negara-negara tujuan, tunjukkan bahwa kalian adalah orang Indonesia dan prajurit Indonesia. Tunjukkan bahwa kita peduli kepada mereka dan berkeinginan memiliki hubungan yang erat dengan negara-negara di Pasifik Selatan,” tegas Djamari.

Ia juga mengingatkan keberangkatan tersebut membawa tanggung jawab besar, bukan hanya bagi setiap individu, tetapi juga bagi institusi TNI, Polri, dan bangsa Indonesia.

“Kalian juga ditunggu keluarga, bangsa ini, TNI, Polri, dan masyarakat untuk kembali dengan selamat,” pungkasnya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.