POLKAM

Koridor Andaman-Aceh jadi Kunci Strategis Perkuat Kemitraan Maritim India-Indonesia

Koridor Andaman-Aceh
Koridor Andaman-Aceh jadi kunci strategis perkuat kemitraan maritim India-Indonesia. (Foto: Dok. Setpres/BPMI)

Jakarta, IDM – Koridor Andaman-Aceh dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat kerja sama maritim India dan Indonesia, mulai dari konektivitas perdagangan hingga keamanan kawasan.

Potensi tersebut menjadi sorotan dalam webinar yang diselenggarakan Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) bersama National Maritime Foundation (NMF).

Webinar bertajuk “Advancing India-Indonesia Cooperation under the IPOI Marine Resources Pillar: Perspectives on the Andaman–Aceh Corridor” itu mempertemukan peneliti dan praktisi kedua negara untuk membahas pengembangan kemitraan maritim dalam kerangka Indo-Pacific Oceans Initiative (IPOI).

Direktur Jenderal NMF, VAdm Pradeep Chauhan, menekankan pentingnya melihat Koridor Andaman-Aceh sebagai penghubung geografis yang memiliki nilai strategis bagi India dan Indonesia.

Menurutnya, kawasan tersebut bukan hanya berkaitan dengan jalur perdagangan dan konektivitas maritim, tetapi juga menyangkut kepentingan strategis kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.

“Penguatan kemitraan ISI dan NMF perlu diarahkan pada pembangunan kapasitas dan kapabilitas yang lebih mendalam, bukan sekadar memperluas cakupan kerja sama,” ungkap Chauhan dalam sambutannya.

Chauhan juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Juli 2026.

Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan KSAL Kerahkan Kekuatan TNI AL Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

Dalam konteks itu, gagasan mengenai integrasi Sabang kembali disebut memiliki relevansi bagi penguatan hubungan kedua negara.

Namun, peningkatan konektivitas maritim juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan aspek keamanan.

Semakin terbukanya jalur perdagangan dan hubungan maritim, menurut Chauhan, dapat menciptakan peluang bagi aktor-aktor dengan kepentingan negatif untuk memanfaatkannya.

Maka dari itu, pengembangan koridor strategis tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan arus perdagangan.

Penguatan kapasitas kelembagaan, pertukaran informasi, serta kerja sama keamanan maritim juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas kawasan.

Pembahasan mengenai penguatan kerja sama maritim India-Indonesia berlanjut pada sesi panel pertama bertajuk “Institutionalising ‘Marine Resources’ Cooperation Through Strategic Autonomy Under The IPOI”.

Panel tersebut menghadirkan Cmde Manish Sinha (Purn), Senior Fellow NMF, dan Makmur Keliat, Senior Fellow ISI sekaligus Associate Professor Universitas Indonesia.

Baca Juga: Menko Polkam: Jangan Biarkan Warga Jayawijaya dan Lanny Jaya Menunggu Pemulihan Pascakonflik

Para pembicara menyoroti semakin kuatnya orientasi maritim India atau “Turn to the Seas”, serta relevansinya dengan visi pembangunan Indonesia Emas 2045.

Dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis di Indo-Pasifik, India dan Indonesia dinilai perlu mempertahankan otonomi strategis masing-masing.

Kerja sama kedua negara tidak harus ditempatkan dalam pilihan yang bersifat biner, melainkan dapat dikembangkan melalui berbagai konfigurasi.

Kerangka bilateral, trilateral, maupun multilateral dinilai dapat menjadi pilihan untuk memperluas kolaborasi tanpa menghilangkan kepentingan nasional masing-masing negara.

Salah satu contoh yang dibahas adalah potensi kerja sama India-Indonesia-Australia. Selain itu, kerangka MAHASAGAR dan IPOI juga dinilai dapat menjadi ruang strategis untuk mengembangkan kolaborasi maritim.

Skala aktivitas maritim di kawasan memperlihatkan besarnya kepentingan yang dipertaruhkan.

Data yang dipaparkan dalam diskusi mencatat lebih dari 150.000 entitas AIS unik melintasi kawasan tersebut sepanjang tahun lalu.
Tingginya aktivitas maritim tersebut menunjukkan bahwa stabilitas jalur Andaman dan sekitarnya memiliki kaitan langsung dengan perdagangan, energi, konektivitas, serta keamanan regional.

Baca Juga: Eskalasi Meningkat di Papua, Istana Dorong Pendekatan Kesejahteraan dan Penghormatan HAM

Empat bidang prioritas kerja sama

Sementara itu, panel kedua bertajuk “The Andaman-Aceh Corridor: Practical Opportunities For Advancing Indonesia-India Maritime Cooperation Under The IPOI” menggeser pembahasan pada peluang kerja sama yang lebih konkret.

Panel ini menghadirkan Ristian A. Supriyanto, Fellow ISI dan pengajar Universitas Indonesia, serta Kapten Ranendra S Sawan, Senior Fellow NMF.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah pembangunan kepercayaan atau trust antara Indonesia dan India. Penguatan kepercayaan dinilai penting agar hubungan maritim kedua negara tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan.

Diskusi juga menelusuri perjalanan hubungan maritim India–Indonesia melalui empat fase, mulai dari pertukaran yang berkembang secara organik hingga terbentuknya kemitraan strategis yang semakin komprehensif setelah berakhirnya Perang Dingin.

Dari pengalaman itu, sejumlah langkah dipandang relevan untuk memperkuat kerja sama ke depan.

Di antaranya memformalkan mekanisme kerja sama yang selama ini telah berjalan, memulai kolaborasi dari bidang berisiko rendah sebelum bergerak ke isu yang lebih sensitif, serta memanfaatkan forum multilateral seperti IPOI.

Keberlanjutan dialog Track 1.5 dan Track 2 juga dinilai penting untuk menjaga komunikasi antarkedua negara ketika perhatian politik sedang tidak berada pada isu yang sama.

Selain itu, kedua negara perlu membangun institutional memory agar hasil kerja sama tidak ikut hilang setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan atau pejabat.

Dalam konteks Koridor Andaman–Aceh, empat bidang utama mengemuka, yakni perdagangan dan pelabuhan, keamanan maritim, ekonomi biru, serta otonomi strategis.

Sumatra diproyeksikan menyumbang lebih dari 20% PDB Indonesia pada 2029. Dengan demikian, penguatan konektivitas dan kerja sama ekonomi di kawasan tersebut berpotensi memiliki arti yang lebih luas bagi hubungan bilateral India–Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.