Dubes Rusia di Jakarta Respons soal eks TNI AL Satria Kumbara Jadi Tentara Bayaran

Jakarta, IDM – Duta Besar Rusia di Jakarta, Sergei Tolchenov, merespons soal eks tentara Angkatan Laut TNI, Satria Kumbara, yang minta dipulangkan ke RI setelah bergabung dengan tentara Negeri Beruang Merah.
Tolchenov tak membeberkan secara detil soal keberadaan Satria yang menjadi
relawan tentara perang.
Namun, Tolchenov menuturkan seluruh warga asing bisa bergabung dengan angkatan senjata Rusia.
Baca Juga: Wamenko Polkam: Bangsa Harus Bersatu untuk Hadapi Situasi Global yang Tak Menentu
"Bagi warga negara asing yang sudah berada di wilayah Rusia dan ingin bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia, ini memungkinkan, untuk menandatangani kontrak," ujar Tolchenov, dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.
Tolchenov mengemukakan ada dua kemungkinan seseorang bisa menjadi bagian Angkatan Bersenjata Rusia.
Yang pertama, seluruh anak muda Rusia harus mengikuti wajib militer selama satu tahun.
Tolchenov menyebut orang yang bergabung di Angkatan Bersenjata Rusia adalah para profesional.
Baca Juga: Kemenko Polkam Gelar Upacara Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI
"Mereka menandatangani kontrak, dan orang-orang itu bisa jadi orang Rusia dan, dalam beberapa kasus, warga asing," tegas Tolchenov.
Terkait kasus Satria Kumbara, Tolchenov menerangkan jika melanggar aturan di Indonesia, maka sepenuhnya adalah tanggung jawab pribadi.
"Saya tidak tahu apa aturannya di sini di Indonesia, dalam konstitusi Anda, dalam undang-undang Anda. Tetapi jika Pak Kumbara melanggar aturan Indonesia, itu adalah tanggung jawab pribadinya," tandasnya.
Sebelumnya, Satria pernah memberikan pernyataan melalui video yang beredar di media sosial TikTok @zstorm689, keputusan menjadi tentara bayaran di Rusia dilandasi oleh kebutuhan ekonomi, bukan karena niat mengkhianati negara.
Baca Juga: Temui Menlu Jerman, Sugiono Tegaskan Komitmen Perdalam Kerja Sama Strategis
“Saya tidak pernah mengkhianati negara sama sekali, karena saya niatkan datang ke sini hanya untuk mencari nafkah. Wakafa billahi, dan cukuplah Allah menjadi saksi,”ungkapnya dalam video yang diunggah pada Minggu (21/7).
Satria pun meminta Presiden Prabowo Subianto hingga Menteri Luar Negeri Sugiono untuk membantu mengakhiri kontrak dengan militer Rusia dan meminta hak kewarganeraan Indonesia dikembalikan.
“Mohon izin, untuk saat ini yang bisa mengakhiri kontrak saya tersebut hanya bapak Prabowo di Kementerian Pertahanan Rusia kepada bapak Vladimir Putin, dan bantuan dari Allah. Jujur, saya tidak ingin kehilangan kewarganegaraan saya, karena kewarganegaraan Indonesia bagi saya adalah segala-galanya dan tidak pernah ternilai harganya,” ucapnya. (Ykb)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































