Pengawasan Ruang Udara Indonesia Timur Perlu Diperkuat, Ancaman UAV jadi Sorotan

Jakarta, IDM – Penguatan sistem pertahanan udara di kawasan Indonesia Timur menjadi perhatian serius menyusul masih adanya celah pengawasan atau blind spot yang berpotensi dimanfaatkan pihak asing.
Kondisi tersebut dinilai perlu segera diatasi melalui modernisasi teknologi deteksi dan peringatan dini guna memastikan kedaulatan ruang udara nasional tetap terjaga.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal, saat kunjungan kerja ke Komando Operasi Udara II di Makassar.
Menurut Daeng Ical, Indonesia tidak boleh lagi memiliki wilayah pengawasan udara yang luput dari pemantauan.
Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan 554 Kg Merkuri, Perkuat Pertahanan dan Keamanan Laut Nasional
Ia mengingatkan celah tersebut dapat membuka peluang bagi pesawat asing melakukan aktivitas di wilayah udara Indonesia tanpa terdeteksi secara optimal.
"Kita tidak ingin lagi ada blind spot yang membuat bisa ada intersepsi dari warga negara lain atau dari pesawat lain," tegasnya.
Ia menilai tantangan pengamanan ruang udara semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya dinamika keamanan kawasan.
Oleh karena itu, kemampuan pengawasan udara nasional harus terus ditingkatkan agar mampu mendeteksi berbagai potensi ancaman sejak dini.
Baca Juga: Komisi I DPR Dukung Usulan Tambahan Anggaran Kemhan untuk Akselerasi Kekuatan TNI
Daeng Ical menyoroti besarnya tanggung jawab Koops Udara II yang mengawasi sekitar sepertiga wilayah Indonesia.
Dengan cakupan wilayah yang sangat luas, menurutnya diperlukan penguatan sistem pengamatan dan kendali udara yang lebih modern dibandingkan kemampuan yang tersedia saat ini.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ia mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih maju, termasuk pesawat peringatan dini dan kendali udara atau Airborne Warning and Control System (AWACS) yang memiliki jangkauan deteksi lebih luas dibandingkan sistem Ground Control Interception (GCI).
"Bukan hanya sekadar GCI, tetapi juga mungkin ada teknologi seperti AWACS atau Airborne Early Warning Control, sehingga ke depannya Indonesia Timur itu bisa menjaga Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.
Baca Juga: Sinergi TNI-Polri Dinilai Krusial Perkuat Stabilitas Keamanan Dalam Negeri
Selain ancaman dari pesawat berawak, Daeng Ical juga mengingatkan perkembangan teknologi pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) menuntut kesiapan sistem pertahanan udara yang lebih adaptif.
Kemampuan mendeteksi, mengidentifikasi, dan merespons ancaman udara modern dinilai menjadi kebutuhan mendesak dalam menjaga kedaulatan negara.
Meski berharap ancaman tersebut tidak terjadi, ia menuturkan kesiapsiagaan harus tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan kekuatan pertahanan nasional.
"Kita tidak menginginkan hal itu terjadi, tetapi kita harus bersiap," pungkasnya.
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































