Ogah Dukung Perang Iran, Mengapa Denmark Tetap Buka Peluang Kirim Militer ke Hormuz?

Jakarta, IDM - Denmark mengambil sikap yang cukup mengejutkan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Meski tidak mendukung keputusan Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk berperang dengan Iran, Denmark justru memberi sinyal ingin tetap membantu mengamankan Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menegaskan Eropa harus bersikap realistis dalam memastikan kebebasan navigasi atau kelancaran lalu lintas kapal di jalur tersebut.
"Kita harus menghadapi dunia apa adanya, bukan sebagaimana kita inginkan," ujar Rasmussen kepada awak media menjelang pembicaraan dengan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, mengutip Reuters, Senin (16/3).
Baca Juga: Israel Luncurkan Serangan Darat ke Lebanon, Targetkan Hizbullah
Demi Keamanan Kapal Dagang Maersk
Alasan utama Denmark tetap membuka peluang bantuan militer adalah posisi mereka sebagai negara maritim besar. Denmark merupakan rumah bagi raksasa pelayaran Maersk. Jika Selat Hormuz tersumbat, ekonomi Denmark dan jalur logistik global akan terancam.
"Sebagai negara kecil tapi bangsa maritim yang besar, kami harus tetap terbuka terhadap pertanyaan ini (bantuan militer)," tambah Rasmussen.
Menangkal Grey Zone Warfare
Langkah ini menjadi strategi Denmark untuk menghadapi tantangan di wilayah laut yang kini menjadi zona tidak aman atau sering disebut sebagai Grey Zone Warfare, yakni aksi gangguan keamanan di laut, seperti blokade atau intimidasi kapal yang dilakukan untuk menekan lawan tanpa harus memicu perang skala besar secara terbuka.
Dengan menempatkan kekuatan militer, Denmark ingin memastikan jalur perdagangan tetap terbuka meskipun situasi sedang membara.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz untuk ‘Musuh’
Eropa Terjepit di Antara AS dan Iran
Posisi Denmark ini mencerminkan kegelisahan Uni Eropa yang terjepit. Di satu sisi, mereka tidak mendukung agresi militer yang dipicu Presiden Donald Trump. Di sisi lain, mereka sangat khawatir terhadap ancaman Iran yang mulai memblokade lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Meski hubungan Denmark dan AS sempat mendingin karena tuntutan Trump soal kendali atas Greenland, Denmark tetap memilih untuk bersikap kooperatif demi kepentingan maritim. Pada 2024 lalu, Denmark juga pernah mengirim kapal fregat ke Laut Merah untuk melindungi lalu lintas kapal dari serangan militan Houthi.
Hingga saat ini, Denmark mengaku belum menerima permintaan resmi dari AS untuk bantuan tersebut. Namun, Rasmussen menekankan Denmark akan tetap membuka peluang tersebut demi menjaga kebebasan navigasi dunia. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































