Lebanon Minta AS agar Israel Berhenti Menyerang

Jakarta, IDM – Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) agar Israel berhenti melakukan serangan terhadap negaranya.
Baca Juga: Dukung Modernisasi Pertahanan Indonesia, ISI Gandeng Mirage Defence
“Melalui serangannya, Israel menciptakan hambatan bagi implementasi Perjanjian Kerangka Kerja, mencegah tentara Lebanon untuk memperluas kedaulatan negara hingga perbatasan dan memulihkan stabilitas,” kata Aoun saat bertemu Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Irlandia Helen McEntee, melansir National News Agency Lebanon, Selasa (27/10).
Lebih lanjut, ia mendesak negara-negara sahabat termasuk Irlandia, untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel agar menghentikan serangan, menyelesaikan penarikan penuh dari Lebanon Selatan, dan mengembalikan para tawanan berdasarkan kesepakatan.
Baca Juga: Dalam Sepekan, Ranjau hingga UXO Disingkirkan di Yaman
Ia juga menyoroti misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UN Interim Force in Lebanon/UNIFIL) yang akan segera selesai di tahun ini. Ia berharap misi tersebut dalam diperpanjang atau terdapat misi alternatif lain yang dapat menggantikan UNIFIL.
Hankam

Lagi-lagi WNA India Selundupkan Serbuk Emas Lewat Perut di Juanda, Kali Ini 2,1 Kg Disikat TNI AL
Aksi penyelundupan serbuk emas ilegal di Bandara Internasional Juanda kembali terbongkar. Kali ini, petugas gabungan TNI AL menggagalkan upaya penyelundupan seberat 2,1 kilogram yang disembunyikan di dalam perut oleh dua warga negara asing asal India.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































