Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran, Senin (2/11) malam waktu setempat. Pulau itu dilaporkan menjadi benteng yang menyimpan berbagai persenjataan Iran termasuk rudal balistik.
Komando Pusat Amerika Serikat (AS) atau CENTCOM menyatakan bahwa pihaknya telah mengawal lebih dari 3.000 kapal komersial melintasi Selat Hormuz selama enam bulan terakhir.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa negaranya akan terus perkuat kapabilitas dan telah mengantisipasi kemungkinan Amerika Serikat (AS) tidak memenuhi komitmen berdasarkan kesepakatan kerangka kerja yang dicapai pada Juni lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa pihaknya tengah meninjau proposal dari Amerika Serikat (AS), yang diterima melalui Qatar dan Pakistan selaku mediator, guna mengakhiri konflik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) melalui mediator fokus pada pengaturan Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pihaknya kembali berdiskusi dengan Qatar mengenai proposal Iran terkait Hormuz. Ia menuturkan, proposal itu akan disampaikan Qatar kepada Amerika Serikat (AS).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa jalur diplomatik untuk menyelesaikan perang akan tetapi terbuka. Namun, Iran siap untuk hadapi agresi lainnya dan berperang skala besar dengan Amerika Serikat (AS).
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolution Guards Corps/IRGC) memeringatkan bahwa Iran akan mengubah geografi perang dan senjata yang digunakan jika Amerika Serikat (AS) kembali melakukan agresi.