Menhan Sjafrie: Ada 2 Opsi Pengiriman Pasukan ke Gaza, di Bawah PBB atau Organisasi Inisiasi Trump

Jakarta, IDM - Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa rencana pengiriman pasukan ke Jalur Gaza, Palestina, masih terus digodok.
Rencana itu kembali dibahas saat Menhan Sjafrie menerima kunjungan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Yordania Mayor Jenderal Pilot Yousef Ahmed Al-Hunaity di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/11).
Sjafrie mengatakan, ada dua opsi mengirim pasukan perdamaian ke Gaza. Pertama, lewat persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua, lewat naungan organisasi internasional inisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga: Turki Sebut Pasukan Stabilisasi Gaza Harus Jamin Gencatan Senjata
Belakangan, organisasi inisiasi Trump itu diketahui bernama pasukan stabilisasi internasional (ISF).
“Nah, ini yang memerlukan pembicaraan yang tentunya tidak dalam waktu singkat, tapi memerlukan satu kesepakatan bersama,” ujar Sjafrie selepas menerima kunjungan Mayor Jenderal Pilot Yousef.
Sjafrie menyatakan, Indonesia akan terlibat dalam pasukan perdamaian atau pasukan stabilisasi apabila negara-negara yang punya kompetensi setuju atas keterlibatan RI.
Baca Juga: Upaya Damai Thailand–Kamboja Kembali Gagal, Kontak Senjata Pecah di Perbatasan
Negara-negara yang dimaksud adalah Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
“Jadi ada lima, yang kalau itu menyatakan silakan, maka Indonesia dengan senang hati akan terlibat. Tentu saja (dengan) Israel, karena Israel adalah bagian yang sangat kompeten di dalam persoalan ini,” kata Sjafrie.
Sjafrie menambahkan, pembicaraan lebih lanjut pengiriman pasukan ke Gaza akan dibahas Presiden Prabowo Subianto dengan Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada hari ini.
Indonesia menyiapkan 20.000 prajurit untuk dikirim sebagai pasukan perdamaian atau pasukan stabilisasi ke Gaza. Sjafrie mengatakan, pasukan akan didominasi korps kesehatan dan zeni.
Baca Juga: Tewas Akibat Kekerasan di Kamboja, Jenazah WNI Direpatriasi
“Indonesia mempunyai kepentingan dalam rangka perdamaian ini, baik itu di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun atas inisiatif dari Presiden Amerika Serikat. Kita tunggu apa yang akan dibahas oleh kedua pemimpin negara (Prabowo dan Abdullah II) yang akan menjadi bagian dari pedoman kita,” ujar Sjafrie.
Sjafrie menekankan bahwa Indonesia lebih condong mengirim pasukan perdamaian dengan ditandai adanya gencatan senjata di Gaza.
“Yang pasti kita akan mengirim peacekeeping operation, bukan peacemaking operation. Kalau peacekeeping itu berarti kita sudah melihat adanya suatu upaya seperti contoh gencatan senjata sudah terjadi, sehingga pasukan yang akan datang itu sifatnya untuk menjaga perdamaian,” kata Menhan RI. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































