Upaya Damai Thailand–Kamboja Kembali Gagal, Kontak Senjata Pecah di Perbatasan

Jakarta, IDM – Upaya meredakan konflik Thailand dan Kamboja yang sebelumnya disambut sebagai terobosan diplomatik kembali gagal setelah bentrokan terjadi di perbatasan pada Rabu (12/11).
Kontak senjata singkat namun mematikan itu menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya tiga warga lain.
Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah pemerintah Thailand mengumumkan penangguhan perjanjian damai yang ditandatangani akhir Oktober di Kuala Lumpur.
Keputusan tersebut dipicu ledakan ranjau darat di provinsi Sisaket yang melukai empat prajurit Thailand.
Baca Juga: Israel Hancurkan Lebih Dari 1.500 Bangunan Sejak Gencatan Senjata dengan Hamas
Bangkok menyebut Kamboja menanam ranjau baru di area sengketa. Namun pemerintah Phnom Penh menolak tegas tuduhan itu, dan mengatakan hal itu sebagai upaya Thailand menciptakan alasan untuk membatalkan kesepakatan.
Mengutip CNN, Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan pasukan Thailand menembaki warga sipil di desa perbatasan di Banteay Meanchey sekitar pukul 15.50 waktu setempat.
Juru Bicara Kementerian, Letnan Jenderal Maly Socheata mengatakan tembakan diulang dua jam kemudian, menewaskan satu warga dan melukai tiga lainnya.
Ia menuding Thailand sengaja memicu ketegangan selama beberapa hari terakhir dengan patroli agresif dan penempatan tambahan pasukan.
Militer Thailand pun membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, Juru bicara Angkatan Darat Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suwaree, menuturkan pasukan Kamboja lebih dulu menembaki personelnya di Sa Kaeo.
“Pasukan Thailand hanya membalas dengan tembakan peringatan sesuai aturan pertempuran,” tegasnya.
Thailand mengklaim tidak ada korban jiwa di pihak mereka dan menyebut kontak senjata berlangsung sekitar 10 menit.
Baca Juga: G7 Kecam Serangan Paramiliter Sudan terhadap Sipil
Padahal, deklarasi damai yang ditandatangani di Kuala Lumpur sebelumnya dipandang sebagai momentum penting setelah puluhan tahun konflik perbatasan.
Dokumen tersebut mencakup beberapa komitmen kunci, yakni penarikan senjata berat dari zona sengketa.
Kemudian pembentukan komisi bilateral penyelesaian peta kolonial dan pembersihan ranjau darat dengan dukungan tim internasional.
Deklarasi itu sempat dipuji Presiden AS Donald Trump sebagai bukti efektivitas diplomasi Washington di Asia Tenggara.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengecam keras insiden tersebut. Bahkan, Manet mengatakan aksi tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Baca Juga: 300 WNI Kelompok Rentan Berhasil Kembali dari Detensi Imigrasi Malaysia
Ia menuntut Thailand menghentikan tindakan kekerasan terhadap warga sipil serta mendesak pembentukan tim penyelidik independen dari ASEAN.
Konflik Thailand–Kamboja berakar pada peta kolonial Prancis yang sejak lama diperdebatkan. Bangkok menolak beberapa batas yang tercatat dalam arsip kolonial, sementara Kamboja menjadikannya dasar klaim sah.
Konflik Kamboja-Thailand memuncak hingga menewaskan puluhan prajurit kedua kubu dan menyebabkan sekitar 200.000 warga mengungsi, pada Juli lalu.
Meski kedua negara kerap bernegosiasi, tetapi konflik bersenjata sering kembali terjadi, khususnya di perbatasan. (ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































