Lebanon-Israel Gencatan Senjata, Ini Respons Hizbullah

Jakarta, IDM - Hizbullah mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata harus mencakup penghentian total serangan oleh Israel maupun semua tindakan agresinya di Lebanon.
Baca Juga: Satgas UNIFIL TNI akan Dirotasi pada Mei
Hal itu diungkapkan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat gencatan senjata selama 10 hari. Dalam pernyataan di platform Truth Social, Trump tidak menyinggung Hizbullah. Namun, kemudian ia mendesak kelompok militan itu untuk 'bertindak dengan baik' selama periode tersebut.
"Gencatan senjata harus mencakup penghentian total terhadap serangan di seluruh wilayah Lebanon dan tanpa kebebasan bergerak bagi pasukan Israel," kata Hizbullah melansir Al Jazeera, Jumat (17/4).
Baca Juga: Sepakat Gencatan Senjata, Militer Israel Tidak Mundur dari Lebanon
Jika Israel terus menduduki wilayah Lebanon, Hizbullah menegaskan akan mempertahankan "hak untuk melawan," Hizbullah juga menyoroti jejak Israel yang beberapa kali melanggar perjanjian. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































