Kerja Sama Pesawat Tempur KF-21 Boramae Peluang, Tantangan, dan Kepentingan Nasional

Kemitraan Indonesia-Korea Selatan berkembang ke level yang lebih strategis melalui kolaborasi pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae. Kerja sama ini tidak sekadar berorientasi pada pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) modern, tetapi juga mencerminkan kepentingan strategis kedua negara dalam menghadapi tantangan pertahanan di masa depan. Bagi Indonesia, keterlibatan dalam proyek tersebut tidak hanya merepresentasikan upaya modernisasi kekuatan udara Indonesia, tetapi juga membuka peluang dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional.
oleh: Nurhidayat Nasution, Yuli Ari, dan Nirmala Maulana Achmad
Jakarta, IDM – Sejak 2010, Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) memperkuat hubungan bilateral di sektor pertahanan melalui kerangka kerja sama pengembangan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental dan kini secara resmi bernama KF-21 Boramae. Pada 2015, proyek yang memakan anggaran mencapai 8,1 triliun won atau setara Rp95 triliun itu resmi memasuki fase pengembangan dengan skema pembiayaan yang membagi porsi Korea Selatan sebesar 60 persen, Indonesia 20 persen dan sisanya ditanggung Korean Aerospace Industries (KAI) sebagai kontraktor utama. Dengan perhitungan tersebut, Indonesia direncanakan memperoleh 48 unit KF-21 sekaligus akses transfer teknologi sebagai mitra pengembang.
Namun, sejak 2019, proyek tersebut sempat mengalami perlambatan yang cukup signifikan karena pembayaran kontribusi dari pihak Indonesia yang dinilai terlambat. Hingga pertengahan 2023, realisasi pembayaran Indonesia baru mencapai 17 persen dari total kewajiban. Kondisi tersebut berdampak pada terhambatnya progres kerja sama. Indonesia kemudian mengajukan renegosiasi pada 2024 untuk mengurangi kontribusi menjadi sekitar 600 miliar won sekaligus meminta penjadwalan ulang pembayaran. Korea Selatan sepakat dengan permintaan Indonesia, tetapi konsekuensinya adalah berkurangnya akses transfer teknologi serta jumlah pesawat yang akan diterima Indonesia.

Meski diwarnai dengan beragam dinamika dan penyesuaian, proyek pengembangan KF-21 tetap memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional Indonesia. Walaupun manfaat yang diperoleh tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi awal akibat perubahan skema kontribusi, kerja sama ini tetap mendukung upaya jangka panjang Indonesia menuju kemandirian industri pertahanan nasional melalui peningkatan penguasaan teknologi alutsista TNI serta penguatan kapasitas industri pertahanan nasional dan posisi Indonesia dalam jaringan kerja sama pertahanan.
Baca Juga: Modernisasi yang Belum Menjadi Kedaulatan: Paradoks Pembangunan Kekuatan Pertahanan Indonesia
Partisipasi Pilot Uji TNI Angkatan Udara
Salah satu tonggak penting dalam pengembangan KF-21 adalah rampungnya program uji terbang pesawat tempur tersebut pada Januari lalu, setelah mencatat lebih dari 1.600 jam terbang sejak prototipe pertamanya diluncurkan pada April 2021. Bagi Indonesia, capaian tersebut memiliki arti strategis karena dua penerbang TNI Angkatan Udara (TNI AU) terlibat langsung sebagai pilot uji, bahkan menempati kursi depan (front seat) prototipe KF-21.

Keterlibatan tersebut terlihat dalam uji terbang yang digelar pada 27 Juni 2025 ketika Kolonel Pnb Ferrel “Venom” Rigonald menerbangkan prototipe KF-21 dari kursi depan, didampingi oleh pilot uji Korea Aerospace Industries (KAI) Koh Hwi Seok di kursi belakang. Pesawat yang diawaki keduanya lepas landas dari Pangkalan Udara Sacheon, Korea Selatan untuk melakukan berbagai manuver pengujian. Pesawat terbang pada ketinggian 20.000 kaki selama kurang lebih satu jam.
Tiga bulan berselang, Kolonel Pnb Mohammad “Mammoth” Sugiyanto juga menerbangkan prototipe KF-21 dari kursi depan. Dalam penerbangan berdurasi sekitar satu jam tersebut, Sugiyanto menguji performa serta aspek stability & control pada ketinggian 10.000 hingga 20.000 kaki. Dalam uji terbang tersebut, ia didampingi oleh pilot uji KAI Koh Hwi Seok. Keterlibatan para pilot uji TNI AU dalam fase uji terbang KF21 menjadi simbol kuat dari proses transfer teknologi sekaligus peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) pertahanan Indonesia.
Baca Juga: Langkah Positif untuk Ekosistem dan Kemandirian
Produksi Massal dan Sertifikat Kelayakan Tempur
Proyek pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 ini memasuki babak baru setelah unit pertama KF-21 Boramae resmi keluar dari lini produksi pada 25 Maret 2026. Pada momentum tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung turut meresmikan dimulainya produksi massal KF-21, di mana pesawat dijadwalkan akan diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Korea Selatan (ROKAF) pada tahun ini.

Pada awal Mei 2026, KF-21 Boramae telah resmi mengantongi sertifikat kelayakan tempur final, setelah sebelumnya memperoleh penilaian ‘layak tempur sementara’ pada 2023. Dengan demikian, KF-21 dinilai telah memenuhi standar kemampuan operasional yang dibutuhkan oleh Angkatan Udara Republik Korea Selatan.
Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) menyatakan bahwa varian yang mendapatkan sertifikasi ini adalah KF-21 Blok I, varian yang dioptimalkan untuk pertempuran udara ke udara atau air to air. Berdasarkan peta jalan awal, mengutip pemberitaan International Defence Analysis pada 13 Mei 2025, 40 unit KF-21 Block I dijadwalkan untuk diproduksi pada 2028. Kemudian, tambahan 80 unit KF-21 Block 2 yang direncanakan menyusul pada 2032.
Hankam

Lagi-lagi WNA India Selundupkan Serbuk Emas Lewat Perut di Juanda, Kali Ini 2,1 Kg Disikat TNI AL
Aksi penyelundupan serbuk emas ilegal di Bandara Internasional Juanda kembali terbongkar. Kali ini, petugas gabungan TNI AL menggagalkan upaya penyelundupan seberat 2,1 kilogram yang disembunyikan di dalam perut oleh dua warga negara asing asal India.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.





























































































