SPESIAL REPORT

Respons Sigap Tiga Matra

Personel TNI
Personel TNI Angkatan Darat (TNI AD) merampungkan pembangunan jembatan Bailey di Kuta Blang, Aceh (16 Desember). (Foto: Dok. Kodam Iskandar Muda)

Jakarta, IDM – Dalam fase tanggap darurat bencana di Aceh-Sumatra, TNI mengerahkan kekuatan tiga matra-darat, laut, dan udara dalam satu kesatuan respons yang terpadu. Di lapangan, para prajurit TNI terlibat langsung dalam mencari dan melakukan evakuasi korban, mendistribusikan bantuan, sekaligus membantu membuka kembali jalur transportasi yang tertutup akibat longsor dan banjir.

Seiring dengan itu, posko tanggap darurat turut didirikan di berbagai titik, dapur lapangan dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, dan fasilitas kesehatan darurat disiapkan guna mendukung penanganan korban. Untuk mengangkut bantuan serta menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses, TNI juga memanfaatkan berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista). Melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, dan relawan, TNI memastikan bahwa bantuan dapat bergerak lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran. Redaksi Indonesia Defense Magazine merangkum bagaimana TNI tiga matra bergerak di lapangan untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan bencana yang terjadi di berbagai wilayah terdampak.

‘Jembatan Udara’

Pengerahan unsur udara menjadi langkah awal yang krusial untuk memastikan bantuan kemanusiaan dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dapat segera menjangkau wilayah terdampak, terutama ketika akses darat masih belum memungkinkan. Sebagai respons awal pemerintah terhadap situasi darurat tersebut, unsur alutsista pertama yang dikerahkan adalah pesawat angkut strategis milik TNI Angkatan Udara (TNI AU), yakni dua unit C-130 Super Hercules, satu unit C-130 Hercules, dan satu unit A400M.

Misi bantuan perdana pemerintah dilaksanakan pada 28 November 2025, yang ditandai dengan lepas landasnya pesawat-pesawat angkut TNI AU dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh; Lanud Sutan Sjahrir, Padang, Sumatra Barat; serta Lanud Soewondo, Medan, Sumatra Utara.

Pengerahan A400M memiliki makna tersendiri. Pesawat angkut terbesar yang dimiliki oleh TNI AU tersebut merupakan alutsista baru yang tiba di tanah air pada November 2025 dan untuk pertama kalinya digunakan dalam misi kemanusiaan pemerintah Indonesia. Kehadiran A400M memperkuat kapasitas angkut strategis sekaligus mempercepat distribusi bantuan dalam skala besar.

Hingga kini, TNI AU tercatat telah menyalurkan sebanyak 600 ton bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak di tiga provinsi. Penyaluran bantuan dilakukan melalui operasi angkutan udara dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju sejumlah pangkalan udara dan bandara di wilayah terdampak, meliputi Lanud Soewondo (Medan), Lanud Sutan Sjahrir (Padang), Bandara Sibolga (Tapanuli Tengah), Lanud Roesmin Nurjadin (Pekanbaru), Bandara Lhokseumawe, serta Bandara Rembele (Aceh).

Bantuan yang tiba di masing-masing lokasi selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah terdampak banjir bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, guna memastikan bantuan dapat segera diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.

Upaya pemulihan pascabencana tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan bantuan darurat secara langsung. TNI AU juga mengerahkan alutsista terbaiknya untuk mengangkut berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memperbaiki akses transportasi, komunikasi hingga kelistrikan. Salah satunya mengirim sling jembatan dan puluhan unit generator set (genset) ke Kabupaten Bener Meriah, Aceh pada 15 Desember 2025.

Baca Juga: Operasi Militer Selain Perang: Peran Krusial TNI dalam Tanggap Bencana

Metode Airdrop dan Jangkau Wilayah Terisolir

Kesigapan TNI dalam membantu masyarakat pascabencana tidak hanya ditunjukkan melalui pengiriman bantuan menggunakan pesawat antarlanud, tetapi juga menggunakan metode airdrop payung low cost low altitude (LCLA) di berbagai titik, salah satunya yang dilakukan oleh TNI AU. Pada awal Desember 2025, sekitar 200 parasut diterjunkan dari Pesawat C-130J Super Hercules di lokasi terisolir di Tapanuli Tengah. Metode pengiriman bantuan yang pernah dicoba di Gaza ini pun dilakukan untuk membantu korban bencana di Aceh Tamiang.

Sistem LCLA dirancang untuk memungkinkan paket bantuan turun secara stabil dan aman dari ketinggian minimal, sehingga sangat efektif dalam menjangkau wilayah yang terkendala akses darat. Setiap bundel memuat kebutuhan darurat yang dibutuhkan seperti bahan makanan siap saji, perlengkapan tanggap bencana hingga keperluan lainnya. Salah satu hal krusial dalam metode ini terletak pada persiapan tali-temali atau proses rigging oleh para rigger. Sebab, kesalahan sekecil apapun dapat berdampak besar pada keamanan muatan maupun ketepatan pendaratan. Prosesnya perlu ketelitian tinggi, mulai dari pemeriksaan menyeluruh komponen hingga memastikan setiap bundel siap diterjunkan.

Selain itu, metode airdrop turut diterapkan untuk menerjunkan puluhan bundel bantuan menggunakan helibox. Perbedaannya, helibox tanpa parasut tetapi memiliki kemasan yang dirancang khusus agar dapat berputar saat dijatuhkan dari udara. Dengan demikian, kecepatan turun melambat hingga paket dapat mendarat lebih aman. Metode ini juga perlu perhitungan yang matang terkait faktor cuaca hingga kondisi lokasi pendaratan.

Untuk memperluas jangkauan distribusi, TNI tiga matra turut mengerahkan unsur helikopter. TNI AU mengoperasikan helikopter Caracal H225M yang dalam berbagai sortie penerbangan membawa ton-ton bantuan ke wilayah bermedan sulit, seperti Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Bener Meriah.

“Melalui pengoperasian helikopter Caracal, TNI Angkatan Udara memastikan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara cepat dan tepat ke daerah-daerah yang tidak memungkinkan dijangkau melalui jalur darat,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) I Nyoman Suadnyana dikutip dari siaran pers Dispenau.

Di sisi lain, TNI AD juga mengerahkan helikopter Mi-17 dan Bell 412 dari Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad). “Helikopter ini tiba di wilayah Sibolga, pada 29 November dan langsung melaksanakan misi air dropping logistik berupa makanan siap saji, beras, mie instan, biskuit, dan kebutuhan pokok lainnya untuk masyarakat yang hingga hari ini masih terputus aksesnya,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono.

Selain distribusi logistik, helikopter juga dikerahkan untuk melakukan evakuasi medis, salah satunya yang dilakukan oleh helikopter HS-1302 milik TNI Angkatan Laut. “Satu helikopter yang on board di KRI dr. Soeharso-990 melaksanakan evakuasi medis melalui jalur udara sebanyak dua pasien, satu mengalami sakit stroke, satu mengalami patah tulang di kaki. Kedua pasien tersebut saat ini sedang dilaksanakan tindakan medis lebih lanjut di atas KRI dr. Soeharso-990,” jelas Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul.

Baca Juga: Komando Terpadu di Papua: Transformasi Operasi Pasukan Khusus TNI

Pengerahan Kapal Bantu Rumah Sakit

Selain pesawat, unsur alutsista lainnya yang dikerahkan dalam operasi kemanusiaan di Aceh-Sumatra yakni kapal bantu rumah sakit milik TNI Angkatan Laut (TNI AL). Langkah awal diambil pada 30 November 2025, dimana KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali melepas KRI dr. Soeharso-990 melepas keberangkatan KRI dr. Soeharso-990 dari Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta.

bahan kontak ke daerah-daerah yang terputus komunikasi dan terisolasi akibat bencana alam,” kata Ali kepada awak media usai pelepasan, menegaskan bahwa jalur laut juga menjadi tumpuan utama ketika akses darat lumpuh.

Sehari berselang, 1 Desember 2025, TNI AL menambah unsur laut dengan memberangkatkan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, dengan membawa bantuan sekitar 900 kardus mie instan, 100 kardus air mineral, 1.000 kilogram gula, serta obat-obatan dan perlengkapan medis. Jika KRI dr. Soeharso diposisikan sebagai rumah sakit terapung, KRI dr. Radjiman menjadi simpul logistik sekaligus penguat layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Selanjutnya, KRI dr. Radjiman mulai beroperasi di Sibolga, Sumatra Utara. Kapal tersebut dibuka sebagai rumah sakit terapung bagi warga korban banjir. Dalam pelayanan kesehatan di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Madya Denih Hendrata menjelaskan tim medis dari TNI AL melakukan tindakan open reduction internal fixation (ORIF) yakni prosedur bedah ortopedi untuk menyambung tulang patah dengan penanaman plat logam hingga kondisi pasien dinyatakan stabil sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Personel TNI
Warga melintasi jembatan Bailey yang dirampungkan oleh satuan tugas TNI AD di Desa Teupin Mane, Bireuen, Aceh (14 Desember). (Foto: Dok. DISPENAD)

“Kehadiran KRI dr. Radjiman di Sibolga merupakan bagian dari komitmen TNI AL untuk memastikan percepatan penanganan darurat bagi masyarakat terdampak bencana. Pasien dengan cedera berat langsung mendapatkan tindakan operasi sebagai respons cepat di fase darurat,” ujar Denih di Jakarta, Sabtu, 6 Desember 2025.

Tak hanya itu, tim medis yang diperkuat dari Batalion Kesehatan 1 Marinir juga secara door to door di sejumlah desa terdampak memberikan pemeriksaan umum, pengobatan penyakit akibat lingkungan banjir, hingga penanganan kasus darurat.

Sekretaris Dinas Penerangan Angkatan Laut (Sekdispenal) Kolonel Laut (P) Laode Mohammad Holib secara umum menjelaskan bahwa TNI AL mengerahkan total 14 kapal perang dalam operasi kemanusiaan ini. Armada tersebut terdiri dari dua kapal bantu rumah sakit, lima kapal logistik, dan sejumlah kapal pendukung lain. Salah satu unsur krusial adalah KRI Bontang-907, kapal tanker yang membawa sekitar 2.000 ton BBM solar.

“KRI Bontang-907 membawa 2.000 ton bahan bakar (solar) ke daerah operasi. Selain untuk mendukung unsur-unsur KRI itu sendiri, juga ini bisa dikoordinasikan untuk mendukung dukungan bahan bakar untuk masyarakat setempat,” kata Laode di Jakarta, Jumat, 5 Desember 2025.

Distribusi bantuan lewat laut juga menjangkau wilayah kepulauan. KRI Banda Aceh-593 mengangkut 320 ton beras Bulog menuju Pulau Nias, wilayah yang jalur distribusi daratnya terhambat. Sementara KRI Teluk Banten-516 dikerahkan untuk memperkuat pengiriman bantuan lanjutan serta mobilisasi personel ke Aceh dan Sumatra Barat.

Tak hanya Angkatan Laut dan Angkatan Udara, TNI AD juga mengerahkan Kapal Angkatan Darat Republik Indonesia (ADRI) XVII BM pada 1 Desember 2025 untuk mengangkut bantuan dalam jumlah besar ke wilayah yang membutuhkan. Kapal berisi barang-barang yang dibutuhkan warga terdampak, yakni logistik hingga peralatan untuk membantu melakukan evakuasi dan pemulihan akses. Selain itu, kapal milik TNI AD tersebut juga digunakan untuk mengangkut tank leopard maupun kelengkapan dan personel TNI Angkatan Darat.

Baca Juga: Kogabwilhan III Harus Pimpin Operasi TNI di Papua

Pembangunan Jembatan hingga Akses Air Bersih

Memasuki satu bulan pascabencana di Sumatra, fokus TNI Angkatan Darat (TNI AD) mulai bergeser dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal. Di tengah infrastruktur yang rusak dan aktivitas masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, para prajurit TNI AD fokus membuka kembali akses dasar yang menopang kehidupan sehari-hari, mulai dari membangun akses jalan, penerangan, hingga ketersediaan air bersih.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan jembatan Bailey untuk menggantikan jembatan yang rusak akibat banjir dan longsor. Secara keseluruhan, terdapat 32 titik pembangunan jembatan Bailey di wilayah terdampak, dengan beberapa diantaranya telah rampung 100 persen dan siap digunakan oleh masyarakat.

Di Sumatra Utara, prajurit Komunikasi dan Elektronika Daerah Militer (Komlekdam) I/BB bersama Yonif 125 bergerak memulihkan penerangan melalui pemasangan ratusan lampu tenaga surya (solar light). Kapendam I/BB Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap menjelaskan bahwa pemasangan lampu tenaga surya tersebut merupakan bagian dari komitmen Kodam I/BB melalui Satgas Gulbencal untuk membantu pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana. Menurutnya, keberadaan penerangan jalan dan rumah sangat penting untuk mendukung keamanan, mobilitas, serta aktivitas warga sehari-hari.

Sementara itu, di Tapanuli Selatan, Kodim 0212/Tapanuli Selatan melalui Koramil 01/Batang Toru (BT) bersama masyarakat membuat sumur bor di sejumlah titik yang telah ditentukan guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak banjir. Sumur bor ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengungsi serta masyarakat sekitar secara berkelanjutan, tidak hanya selama masa tanggap darurat bencana.

Selain membuka akses dan mempercepat pemulihan infrastruktur, para prajurit TNI AD juga berperan penting dalam mendistribusikan bantuan ke wilayah-wilayah yang terisolir. Personel Kodim 0108/Agara dari jajaran Kodam Iskandar Muda menembus jalur pegunungan yang terputus untuk mengantarkan bantuan logistik kepada warga di Desa Rumah Bundar, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara yang terisolir setelah akses jalan putus akibat bencana alam.

Perjalanan dimulai dari Desa Simpur, titik terakhir yang masih dapat dilalui kendaraan roda empat. Dari sana, Babinsa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor hingga medan tidak lagi memungkinkan, sebelum akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri lereng dan tanjakan licin selama dua jam. Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, para personel tetap bergerak membawa berbagai kebutuhan pokok yang sangat dinantikan warga. Adapun bantuan logistik yang diangkut secara manual tersebut meliputi satu ton beras, 25 dus mie instan, 15 papan telur, 5 dus susu, 2 dus sarden, sepuluh koli pakaian, serta berbagai kebutuhan penting lainnya. Seluruh barang dipikul bergantian demi memastikan bantuan tiba dengan aman di titik-titik permukiman yang masih terisolasi.

Tidak hanya logistik, tim kesehatan dari Brigif TP 90/Yudha Giri Dhanu dan Yonif TP 854/Dharma Kersaka Kodam Iskandar Muda juga berjibaku, berjalan kaki menyalurkan obat-obatan ke wilayah terisolir di Kabupaten Aceh

Tengah, di antaranya Desa Pameu dan Desa Lut Jaya, Kecamatan Rusip Antara. Selain mendistribusikan obat, tim kesehatan juga memberikan pelayanan langsung di lokasi, mulai dari konsultasi medis, pemeriksaan kesehatan dasar, hingga edukasi pencegahan penyakit yang rentan muncul pada situasi darurat, seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit. (Aini Tartinia, Bunga Permata, Ricardo Ronald)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.