Operasi Militer Selain Perang: Peran Krusial TNI dalam Tanggap Bencana

Tiga provinsi di Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menghadapi kondisi krisis setelah tanah longsor dan banjir bandang menerjang wilayah-wilayah tersebut sejak akhir November 2025. Dampaknya meluas, mulai dari terputusnya jalur transportasi darat di sejumlah titik, rumah-rumah yang terendam, rusaknya sarana dan prasarana, hingga terputusnya komunikasi. Kondisi yang sama turut memaksa masyarakat yang terdampak bencana harus bertahan di tenda-tenda darurat pengungsian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 Desember 2025 mencatat, sebanyak 1.138 orang meninggal dunia dan 163 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Jakarta, IDM – Pemerintah bergerak cepat merespons kondisi darurat tersebut dengan mengerahkan bantuan lintas sektor, melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, kementerian/lembaga, hingga berbagai elemen lainnya. “Pemerintah bergerak cepat. Kita dari hari-hari pertama sudah bereaksi, sudah mengirim bantuan dan reaksi melalui jalur darat dan udara. Tetapi memang kondisinya sangat berat, banyak yang terputus, cuaca juga masih tidak memungkinkan, kadang-kadang juga helikopter dan pesawat kita sulit mendarat,” ungkap Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam situasi krisis tersebut, unsur militer menjadi salah satu institusi yang bergerak cepat di lapangan. Respons tersebut sejalan dengan mandat operasi militer selain perang (OSMP), salah satu tugas utama TNI di luar operasi militer perang (OMP). Mandat OMSP secara eksplisit diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang menempatkan militer sebagai bagian dari instrumen negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter, termasuk bencana alam. Di antara tugas OMSP tersebut antara lain membantu penanggulangan akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.

Baca Juga: Langkah Positif untuk Ekosistem dan Kemandirian
Dalam konteks penanggulangan bencana, OMSP tidak hanya menegaskan bagaimana TNI adaptif dalam menghadapi ancaman non-konvensional, tetapi juga merepresentasikan kehadiran negara di tengah situasi darurat. Di sisi lain, OMSP menampilkan ‘wajah’ humanis sekaligus strategis dari kekuatan militer Indonesia, yang menempatkan TNI bukan hanya sekadar benteng pertahanan, tetapi juga pelindung rakyat, mitra pembangunan, dan aktor diplomasi internasional.
Hankam

Lagi-lagi WNA India Selundupkan Serbuk Emas Lewat Perut di Juanda, Kali Ini 2,1 Kg Disikat TNI AL
Aksi penyelundupan serbuk emas ilegal di Bandara Internasional Juanda kembali terbongkar. Kali ini, petugas gabungan TNI AL menggagalkan upaya penyelundupan seberat 2,1 kilogram yang disembunyikan di dalam perut oleh dua warga negara asing asal India.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.





























































































