SPESIAL REPORT

Operasi Militer Selain Perang: Peran Krusial TNI dalam Tanggap Bencana

Personel TNI AU
Personel TNI Angkatan Udara mendistribusikan heli box berisi makanan untuk pengungsi bencana alam banjir bandang menggunakan metode Container Delivery System (CDS) dengan pesawat CN 295 di wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (1/12). (Foto: Dok. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
Tiga provinsi di Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menghadapi kondisi krisis setelah tanah longsor dan banjir bandang menerjang wilayah-wilayah tersebut sejak akhir November 2025. Dampaknya meluas, mulai dari terputusnya jalur transportasi darat di sejumlah titik, rumah-rumah yang terendam, rusaknya sarana dan prasarana, hingga terputusnya komunikasi. Kondisi yang sama turut memaksa masyarakat yang terdampak bencana harus bertahan di tenda-tenda darurat pengungsian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 Desember 2025 mencatat, sebanyak 1.138 orang meninggal dunia dan 163 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Jakarta, IDM – Pemerintah bergerak cepat merespons kondisi darurat tersebut dengan mengerahkan bantuan lintas sektor, melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, kementerian/lembaga, hingga berbagai elemen lainnya. “Pemerintah bergerak cepat. Kita dari hari-hari pertama sudah bereaksi, sudah mengirim bantuan dan reaksi melalui jalur darat dan udara. Tetapi memang kondisinya sangat berat, banyak yang terputus, cuaca juga masih tidak memungkinkan, kadang-kadang juga helikopter dan pesawat kita sulit mendarat,” ungkap Presiden RI Prabowo Subianto.

Dalam situasi krisis tersebut, unsur militer menjadi salah satu institusi yang bergerak cepat di lapangan. Respons tersebut sejalan dengan mandat operasi militer selain perang (OSMP), salah satu tugas utama TNI di luar operasi militer perang (OMP). Mandat OMSP secara eksplisit diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang menempatkan militer sebagai bagian dari instrumen negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter, termasuk bencana alam. Di antara tugas OMSP tersebut antara lain membantu penanggulangan akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.

Pesawat Airbus A400M
Personel TNI Angkatan Udara mengangkut barang bantuan untuk korban bencana alam banjir bandang Sumatra ke dalam pesawat Airbus A400M di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta (28/11). (IDM/Faisal Ramadhan)

Baca Juga: Langkah Positif untuk Ekosistem dan Kemandirian

Dalam konteks penanggulangan bencana, OMSP tidak hanya menegaskan bagaimana TNI adaptif dalam menghadapi ancaman non-konvensional, tetapi juga merepresentasikan kehadiran negara di tengah situasi darurat. Di sisi lain, OMSP menampilkan ‘wajah’ humanis sekaligus strategis dari kekuatan militer Indonesia, yang menempatkan TNI bukan hanya sekadar benteng pertahanan, tetapi juga pelindung rakyat, mitra pembangunan, dan aktor diplomasi internasional.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.