Pentingnya Indonesia Bersikap Tegas

Jakarta, IDM – Komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian yang sejalan dengan Undang-Undang Dasar tidak perlu dipertanyakan. Selama hampir 70 tahun, komitmen ini dijalankan dan kini Indonesia menjadi salah satu negara terbesar yang menyumbangkan pasukan penjaga perdamaian di bawah naungan PBB.
Namun, insiden gugurnya prajurit TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL menunjukkan bahwa Indonesia perlu bersikap tegas. Pengamat pertahanan dan hubungan internasional, Anton Aliabbas menilai bahwa insiden itu bukanlah collateral damage melainkan memiliki intensi.
Menimbang Berbagai Opsi
Dalam memandang insiden gugurnya prajurit TNI, perlu dipahami bahwa dinamika keamanan di Lebanon yang berbatasan langsung dengan Israel ini merupakan dampak langsung dari meletusnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Sebab, eskalasi konflik dengan Hizbullah memuncak setelah pecahnya konflik pada 28 Februari tersebut. Bahkan, beberapa jam setelah AS-Iran menyepakati gencatan senjata bersyarat selama 10 hari, Israel masih melakukan lebih dari 100 kali serangan dalam waktu 10 menit.
Insiden berulang itu pun menimbulkan kecaman keras dari pemerintah Indonesia, salah satunya Kementrian Luar Negeri (Kemlu), yang turut menuntut dilakukannya penyelidikan langsung oleh PBB secara transparan. Bahkan, terdapat tuntutan di kalangan pembuat kebijakan bahwa Indonesia patut mempertimbangkan untuk menarik diri dari misi tersebut.
Namun, Anton menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait evaluasi pemerintah atas misi UNIFIL tersebut. Pertama, misi UNIFIL akan segera berakhir. “Jadi sebenarnya tinggal menunggu waktu selesai,” katanya. Kedua, UNIFIL bertugas menjalankan mandat dari Piagam PBB yang berkaitan dengan Chapter 6 yakni menjaga perdamaian atau peacekeeping. Misi mereka bukan berdasarkan Chapter 7 berupa peace enforcement, atau penegakan perdamaian. Dengan kata lain, ketika terjadi eskalasi, sebenarnya misinya selesai karena sudah di luar mandat.
Hal itu juga yang menjadi alasan beberapa negara kontributor menarik diri dari partisipasi. “Apakah kemudian penting atau tidak Indonesia melakukan peninjauan terhadap misi ini? Bagi saya, jauh akan lebih strategis jika Indonesia membawa pesan penting. Selain tentu saja juga mengutuk keras terhadap penyerangan dan meminta investigasi,” jelasnya.Hal itu juga yang menjadi alasan beberapa negara kontributor menarik diri dari partisipasi. “Apakah kemudian penting atau tidak Indonesia melakukan peninjauan terhadap misi ini? Bagi saya, jauh akan lebih strategis jika Indonesia membawa pesan penting. Selain tentu saja juga mengutuk keras terhadap penyerangan dan meminta investigasi,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya Indonesia menyuarakan serangan berulang itu di panggung dunia, salah satunya dengan mengajak negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk mengevaluasi relevansi misi UNIFIL. Bukan memilih untuk langsung menarik diri begitu saja. “Karena khawatirnya nanti akan ada preseden ‘sedikit-dikit mundur’. Itu yang akan kita hindari,” imbuhnya.
Selain itu, mundurnya Indonesia dari UNIFIL dapat mencoret cacatan sejarah bangsa. Mundur sebelum misi berakhir pun berarti pemerintah harus siap untuk menanggung biayanya. Dengan demikian, Indonesia perlu membuka opsi yang ada mulai dari kecaman, tuntutan investigasi hingga langkah strategis berupa mengajak negara-negara Dewan Keamanan PBB.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah bersikap serius terhadap Israel misalnya meninjau ulang produk yang masuk dari negara tersebut. “Walaupun kita tidak ada kerjasama diplomatik tetapi banyak informasi yang mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah barang yang sebenarnya asal-muasal dari Israel. Yang kemudian memang tidak keluar atas nama Israel tapi keluar dari negara pihak ketiga. Bagi saya itu mungkin adalah salah satu pilihan sebagai upaya yang jauh lebih serius,” tegasnya.
Lalu, hal yang tidak kalah penting adalah pernyataan tegas yang disuarakan langsung oleh pemimpin negara. Ketika kita bicara tentang perang Iran, beberapa pemimpin negara kerap mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan posisi dan dampaknya. Anton menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto dapat melakukan hal demikian.
“Lalu, harapan saya tentu pemerintah tidak perlu sungkan, tidak perlu ragu untuk itu. Saya pribadi prefer Bapak Presiden mengeluarkan pidato kenegaraan yang isinya mengecam dan menuntut,” imbuhnya.
Alasannya adalah pernyataan langsung pemimpin negara dapat meningkatkan moral prajurit, bahwa mereka tidak ditanggalkan. Hal ini juga untuk menunjukkan bahwa diplomasi dan politik luar negeri Indonesia itu seirama antara Jakarta dengan penjuru dunia yang lain. “Itu menunjukkan wibawa kita juga,” tambahnya.
Baca Juga: Indonesia dalam Pasukan Perdamaian di Lebanon, Pasca Gugurnya Tiga Prajurit TNI
Serangan dengan Intensi
Anton menilai bahwa serangan berulang terhadap target UNIFIL bukanlah sebuah kecelakaan atau ketidaksengajaan, melainkan memiliki intensi. Menurutnya, tidak mungkin Israel buta akan posisi UNIFIL termasuk prajurit dari Indonesia. Sebab, Israel memiliki persenjataan yang canggih dan tentunya dia dapat memilah.
“Ini bukan bentuk collateral damage, ini adalah intensi target. Ini adalah bentuk disrespect-nya Israel terhadap hukum internasional, lembaga multilateral PBB dan Indonesia jadi testing water alias berani atau tidak karena Israel didukung oleh AS,” ujarnya.
Ia pun menyoroti bahwa insiden serupa juga pernah terjadi pada Oktober 2025, walaupun di titik yang berbeda di Lebanon Selatan. Insiden ini adalah bentuk ketidaktanggungjawaban pihak-pihak yang berkonflik. Prajurit Indonesia telah dibekali dengan pelatihan sebelum keberangkatan sesuai standar yang ditetapkan oleh PBB. Mereka sudah paham akan tugasnya dan bersedia mengorbankan jiwa raga. Namun, bukan berarti keselamatan mereka dapat disepelekan.
“Itulah kemudian, butuh sikap yang jauh lebih serius dari yang biasanya. Ini pentingnya menunjukkan sikap Indonesia yang tegas langsung dari presiden. Kalau dalam hubungan internasional, gestur itu penting. Dalam diplomasi pilihan kata, gestur, itu penting untuk menunjukkan kita serius atau tidak serius,” tegasnya. (Nurhidayat Nasution, Nirmala Maulana Achmad, dan Bunga Permata)
Hankam

Lagi-lagi WNA India Selundupkan Serbuk Emas Lewat Perut di Juanda, Kali Ini 2,1 Kg Disikat TNI AL
Aksi penyelundupan serbuk emas ilegal di Bandara Internasional Juanda kembali terbongkar. Kali ini, petugas gabungan TNI AL menggagalkan upaya penyelundupan seberat 2,1 kilogram yang disembunyikan di dalam perut oleh dua warga negara asing asal India.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.





























































































