Sejak 2010, Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) memperkuat hubungan bilateral di sektor pertahanan melalui kerangka kerja sama pengembangan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental dan kini secara resmi bernama KF-21 Boramae. Pada 2015, proyek yang memakan anggaran mencapai 8,1 triliun won atau setara Rp95 triliun itu resmi memasuki fase pengembangan dengan skema pembiayaan yang membagi porsi Korea Selatan sebesar 60 persen, Indonesia 20 persen dan sisanya ditanggung Korean Aerospace Industries (KAI) sebagai kontraktor utama. Dengan perhitungan tersebut, Indonesia direncanakan memperoleh 48 unit KF-21 sekaligus akses transfer teknologi sebagai mitra pengembang.
Kemitraan Indonesia-Korea Selatan (Korsel) berkembang ke level yang lebih strategis melalui kolaborasi pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae, yang kerangka kerja samanya telah dimulai sejak 2010.
Barisan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara (TNI AU) bakal diperkokoh dengan hadirnya dua unit pesawat T-50i yang dijadwalkan tiba di Indonesia pada November 2025.
Pemerintah Korea Selatan (Korsel) telah sepakat untuk mengakuisisi lebih banyak jet tempur siluman generasi kelima F-35A dan rudal kendali SM-6. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pencegahan terhadap ancaman militer Korea Utara (Korut) yang semakin berkembang.