Karhutla Mengintai 6 Provinsi, Menko Polkam Djamari Kerahkan Operasi Darat hingga Flexible Tank

Jakarta, IDM – Pemerintah memperketat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Ancaman kekeringan akibat perubahan cuaca hingga potensi menguatnya fenomena El Nino menjadi perhatian serius pemerintah.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan pemerintah tidak hanya mengandalkan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk mengendalikan karhutla.
Operasi darat dengan berbagai metode juga terus dilakukan, termasuk dengan mengerahkan persediaan air menggunakan flexible tank.
“Tetapi operasi darat tetap dilakukan dengan bermacam-macam cara. Sementara memang air juga sekarang sudah agak kurang di darat kita temukan,” ujar Djamari, di Gedung Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario untuk memastikan kebutuhan air bagi operasi pemadaman tetap tersedia di lokasi yang rawan kebakaran.
Salah satunya dengan menggunakan flexible tank yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
“Kita menggunakan flexible tank yang bisa dibawa, kita kedepankan, kita mundur, dan flexible tank nanti diisi dengan cara yang lain. Bahkan kita juga bisa membuat sumur di daerah-daerah itu, sumur buatan, yang saat-saat itu harus bisa mengeluarkan air,” katanya.
Djamari mengatakan pelbagai metode tersebut akan dilakukan secara simultan untuk mencegah api meluas.
“Segala cara kita lakukan,” tegasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Berani, Presiden Prabowo Ungkap “Senjata Rahasia” Pemimpin
Djamari juga membeberkan ada enam provinsi yang dinilai memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi.
Keenam provinsi tersebut, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Meski begitu, Djamari mengaku pemerintah tidak mengabaikan wilayah lain di luar enam provinsi tersebut. Sejumlah titik api di beberapa kawasan telah berhasil ditangani.
Djamari mencontohkan kebakaran di kawasan Bromo yang telah berhasil dituntaskan dan menyisakan kemungkinan satu titik api.
Penanganan juga telah dilakukan di kawasan Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, serta wilayah sekitar Rinjani.
“Kemarin terbakar di Bromo itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah tuntas mungkin tinggal satu titik api saja. Kemudian di Jawa Barat juga sudah selesai, di Gunung Gede Pangrango. Kemudian di sekitar Rinjani juga ada, itu juga sudah selesai,” jelasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Syarat Pemimpin: Berani, Bijak, dan Punya Empati
Djamari mengingatkan faktor cuaca menjadi salah satu penentu keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan karhutla.
Potensi menguatnya El Nino dinilai dapat memperpanjang periode kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran.
“Saya mengambil contoh misalnya El Nino. El Nino sampai dengan kadar terkuat akan muncul di kita, bahkan mungkin sekarang sudah ada gejala itu,” tegas Djamari.
El Nino, kata Djamari, dapat menciptakan kondisi yang sangat kering sehingga vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
“El Nino terkuat itu adalah satu keadaan kekeringan dan mudah sekali terbakar. Kemarau akan lebih panjang. Jadi cuaca ini juga sangat-sangat menentukan upaya keberhasilan upaya kita,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































