Indonesia Tegaskan Komitmen Perkuat Konvensi Senjata Biologi

Jakarta, IDM – Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat Konvensi Senjata Biologi. Indonesia menilai Konvensi semakin relevan di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi.
Hal itu diungkapkan Asisten Deputi Kerja Sama Multilateral Kemenko Polkam, Adi Winarso, saat menghadiri Pertemuan ke-6 Biological Weapons Convention (BWC) Working Grouponthe Strengthening of the Convention (WG) di Markas PBB Jenewa, pada 18 – 22 Agustus 2025.
Adi menekankan posisi proaktif Indonesia dalam upaya penguatan Konvensi Senjata Biologi, terutama terkait Confidence-Building Measures (CBM) dan mekanisme kepatuhan dan verifikasi (compliance and verification).
“Indonesia aktif dalam mekanisme CBM sebagai alat untuk membangun kepercayaan antar negara anggota. Meskipun demikian, Indonesia memandang bahwa CBM saja tidak cukup sebagai jaminan kepatuhan,” ungkap Adi.
Baca Juga: Temui Menlu Jerman, Sugiono Tegaskan Komitmen Perdalam Kerja Sama Strategis
“CBM dipandang sebagai langkah awal yang penting, namun harus dilengkapi dengan mekanisme yang lebih kuat, yaitu kepatuhan dan verifikasi,” kata Adi.
Sejak 2023, kata Adi, Indonesia melalui PTRI Jenewa berperan sebagai fasilitator yang membantu Ketua WG dalam mencari kesepakatan terkait isu national implementation.
Dalam kapasitas ini, Indonesia berkontribusi menyusun rekomendasi substantif yang mencakup penguatan regulasi dan kapasitas nasional, peningkatan kerja sama regional, serta dukungan teknis dan penguatan CBMs di tingkat internasional.
Selain itu, isu International Cooperation and Assistance (ICA) juga merupakan kepentingan utama Indonesia dalam penguatan BWC.
Indonesia juga secara konsisten mendukung keberlanjutan proses WG untuk membahas pembentukan mekanisme ICA, antara lain dengan bersama negara-negara ASEAN mengajukan working paper mengenai ICA sebagai wujud komitmen konstruktif.
Baca Juga: Wamenko Polkam: Bangsa Harus Bersatu untuk Hadapi Situasi Global yang Tak Menentu
Lebih lanjut, Adi menyatakan posisi Indonesia didasarkan pada pendekatan yang seimbang, yaitu mendukung upaya peningkatan transparansi melalui CBM, sambil secara tegas mendorong pembentukan mekanisme verifikasi yang kuat.
“Serta mengikat sebagai jaminan utama untuk mencegah penyalahgunaan teknologi biologi untuk tujuan yang dilarang oleh BWC,” tegasnya.
Memasuki usia lebih dari 50 tahun sejak berlaku, Konvensi Senjata Biologi terus diperkuat untuk memastikan kelembagaan, efektivitas, dan relevansinya.
Dalam kaitannya, pada tahun 2022 BWC Review Conference memandatkan pembentukan Working Group on the Strengthening of the BWC (WG) untuk bekerja selama periode 2023 – 2026 dengan mandat menyusun rekomendasi konkret penguatan Konvensi.
Baca Juga: Kemenko Polkam Matangkan Penguatan Komcad dan Komduk Hadapi Kompleksitas Ancaman Nasional
Selama pertemuan, Indonesia jadi salah satu negara yang vokal dalam mendorong pembentukan mekanisme verifikasi yang kuat, mengikat secara hukum, adil dan tidak diskriminatif, dengan mempertimbangkan perbedaan kapasitas dan tingkat perkembangan antar negara anggota.
Indonesia menekankan bahwa mekanisme verifikasi harus mampu beradaptasi dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Selama lebih dari lima dekade, isu verifikasi belum dibahas secara serius, dan hal ini kini menjadi isu krusial yang harus segera ditindaklanjuti.
Adi menambahkan partisipasi Kemenko Polkam pada pertemuan ini kembali menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat rezim perlucutan senjata, non- proliferasi, dan efektivitas Konvensi Senjata Biologi.
Pertemuan Working Group merupakan mekanisme intersesi yang dibentuk untuk memperkuat dan meningkatkan implementasi Konvensi Senjata Biologi, meliputi aspek International Cooperation and Assistance (ICA); Science and Technology (SnT) Review; Confidence Building and Transparency; Compliance and Verification (CnV); National Implementation; Assistance, Response, and Preparedness; dan Organization, Institutional, and Financial Arrangements. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































