INTERNASIONAL

Cina Sebut Filipina Tolak Proposal Penyelesaian Konflik di Laut Cina Selatan

Kapal perang karam
Kapal perang karam BRP Sierra Madre yang digunakan pasukan Filipina sebagai pos militer di Second Thomas Shoal. (Foto: Dok. X/Frances Mangosing)

Jakarta, IDM - Cina mengatakan Filipina mengabaikan usulan yang diajukannya untuk menangani perselisihan terkait klaim tumpang tindih di Laut Cina Selatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dilansir dari BBC, Kamis (14/3), seorang pejabat senior Cina yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Cina menawarkan proposal itu pada bulan April lalu tetapi “tidak ditanggapi dengan tidak adanya tindakan oleh pemerintahan Marcos”.

Dalam proposal tersebut, Cina disebut akan mengizinkan misi pasokan Filipina ke Second Thomas Shoal, asalkan hanya melibatkan satu kapal dan tidak mengirimkan logistik dalam skala besar. Hal ini didasarkan pada “pemahaman” yang pernah disepakati antara Cina dan dua mantan Presiden Filipina yaitu Ferdinand Marcos dan Rodrigo Duterte.

Baca Juga: Hadapi Ancaman Korut, Angkatan Udara Korsel Gelar Latihan Tempur

Misi pasokan yang dimaksud yaitu operasi pengiriman pasokan logistik yang rutin dilakukan oleh pasukan Filipina ke pos militer di atas kapal perang BRP Sierra Madre yang karam di Second Thomas Shoal, Laut Cina Selatan atau sekitar 160 kilometer dari lepas pantai Filipina. Pos militer tersebut digunakan Filipina untuk memperkuat klaim kedaulatannya yang tumpang tindih dengan Cina.

Sementara, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menegaskan pihaknya tidak menolak proposal yang diajukan Cina, namun menyebut bahwa usulan itu mengandung premis yang “dipertanyakan”.

Baca Juga: Israel Gunakan Kelaparan Sebagai Senjata di Jalur Gaza

"Kami tidak menolak usulan apa pun yang diajukan Cina kepada kami, namun premisnya adalah sesuatu yang kami pertanyakan, premis yang dibuat Cina adalah bahwa wilayah mereka mengikuti apa yang sekarang digambarkan sebagai 10 garis putus-putus," kata Marcos.

Senada, Departemen Luar Negeri Filipina juga menolak tuduhan Cina. Mereka menjelaskan, proposal Cina itu berisi beberapa poin yang dapat dilaksanakan tetapi sebagiannya “bertentangan dengan kepentingan nasional Filipina”. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.