Presiden Prabowo Tegaskan Pemerintah Terbuka Terhadap Bantuan Bencana

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tidak menutup diri terhadap bantuan dari masyarakat dalam penanganan bencana di wilayah Sumatra.
Pemerintah, kata Prabowo, justru membuka ruang partisipasi publik selama bantuan tersebut disalurkan melalui mekanisme yang jelas dan dilandasi ketulusan.
Baca Juga: Menko Polkam Pastikan Pergantian Tahun Berjalan Aman dan Kondusif
Hal itu disampaikan Prabowo saat rapat bersama Gubernur Aceh Muzakir Manaf, jajaran kabinet, serta pimpinan BUMN di Aceh Tamiang, Kamis (1/1).
“Kalau ada pihak yang tulus ikhlas membantu, ya kita sebagai manusia masak menolak bantuan. Asal bantuannya itu jelas,” ujar Prabowo.
Prabowo menjelaskan, pemerintah akan menyiapkan prosedur agar bantuan masyarakat dapat tersalurkan dengan tertib dan tepat sasaran.
Baca Juga: Usai Tahun Baru di Tapsel, Presiden Prabowo Tinjau Pembangunan Hunian Sementara di Aceh Tamiang
Ia mengemukakan prinsip kehati-hatian diperlukan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Kita tidak menolak bantuan, hanya mekanisme dan prosedurnya harus jelas dan harus ikhlas,” pungkas Kepala Negara. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































