Presiden Prabowo Tegaskan Misi Besar Pemerintahan: Kemiskinan Dibabat, Kesejahteraan Rakyat jadi Utama

Jakarta, IDM – Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan salah satu agenda besar pemerintahannya adalah melakukan transformasi bangsa dengan mengangkat sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan.
Transformasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional melalui peningkatan kualitas hidup, dan kemandirian ekonomi.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada Penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8).
Baca Juga: APH Tak Boleh Jalan Sendiri, Kemenko Polkam Dorong Standar Kompetensi Lintas Lembaga
Prabowo mengatakan pemerintah telah menyusun strategi transformasi bangsa dengan perencanaan yang matang dan perhitungan yang terukur, termasuk dari sisi anggaran.
“Strategi transformasi bangsa yang sekarang saya pimpin dan kendalikan adalah bagaimana mengangkat sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan,” ujar Prabowo.
Presiden optimistis target dapat diwujudkan. Bahkan, ia menyebut pemerintah telah melakukan kalkulasi untuk memastikan program transformasi berjalan sesuai sasaran.
“Saya sudah hitung, dan saya yakin dan percaya kita akan berhasil. Kita akan mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan,” tegasnya.
Prabowo juga menekankan pembangunan nasional pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat harus mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang layak, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan, kepemilikan tempat tinggal yang layak hingga penghasilan yang mencukupi.
Bagi Prabowo, negara tidak boleh membiarkan masyarakat berada dalam kondisi ekonomi yang memaksa mereka mencari pinjaman kepada rentenir hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kita hanya ingin rakyat kita hidup dengan layak, hidup dengan baik, bisa makan dengan baik, punya rumah yang layak, dan punya penghasilan tiap bulan yang layak, yang cukup, sehingga tidak perlu pinjam uang dari rentenir-rentenir,” ucapnya.
Kehadiran negara, lanjut Prabowo, juga harus diwujudkan melalui pembukaan akses pembiayaan yang lebih mudah dan berpihak kepada masyarakat.
Pemerintah ingin membangun ekosistem ekonomi yang memungkinkan masyarakat mendapatkan dukungan permodalan dari kekuatan ekonomi nasional, sehingga tidak terus bergantung kepada tengkulak maupun rentenir.
“Negara akan hadir di tengah-tengah rakyat, sehingga rakyat, kalau perlu, bisa mendapatkan pinjaman lunak dari kekuatan kita sendiri. Tidak usah lagi ke tengkulak-tengkulak atau kepada siapa pun,” kata Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Minta Syarat Rekrutmen TNI untuk Suku Dayak Pedalaman Disesuaikan
Prabowo menegaskan pemerintah tengah berupaya mengelola kekayaan nasional agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Ia meyakini strategi tersebut dapat segera diwujudkan dan memberikan dampak nyata terhadap kehidupan rakyat.
“Kalau perlu dia (masyarakat) bisa dapat pinjaman lunak dari kekuatan kita sendiri. Tidak usah lagi ke tengkulak-tengkulak atau kepada siapapun. Ini strategi kita dan ini akan kita wujudkan dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































