Pemimpin Sudan Desak PBB Tetapkan Kelompok Militan Sebagai Teroris

Jakarta, IDM - Pemimpin Sudan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mendesak PBB untuk menetapkan kelompok militan RSF sebagai teroris karena telah melakukan kejahatan perang di negara tersebut.
Dilansir dari Un.org, Jumat (22/9), pernyataan itu ia ungkapkan saat pertemuan Majelis Umum PBB di New York pada beberapa waktu lalu. Ia mengklaim bahwa RSF telah melakukan berbagai kejahatan perang terhadap warga sipil di Sudan.
“Kelompok-kelompok ini telah melakukan pemerkosaan, menjarah harta benda, menyita rumah dan harta benda warga, menjarah bank, serta menghancurkan rumah sakit dan fasilitas umum,” kata Burhan.
Baca Juga: Sepakati Gencatan Senjata, Azerbaijan Berencana Berikan Amnesti Bagi Militan Karabakh
“Saya ingin menegaskan kembali permintaan kami kepada komunitas internasional untuk menetapkan RSF dan milisi sekutunya sebagai kelompok teroris demi melindungi rakyat Sudan dan dunia,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengklaim bahwa RSF melibatkan ribuan tentara bayaran baik dari Sudan maupun negara lain untuk terlibat dalam konflik bersenjata selama lima bulan terakhir. Ia pun menegaskan konflik yang terjadi bukanlah perang saudara.
“Ada yang menyebut perang ini sebagai perang internal antara dua pihak, namun agresi yang dilakukan RSF tidak hanya terhadap angkatan bersenjata saja, tapi meluas ke seluruh komponen negara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pihaknya telah berupaya untuk mengakhiri konflik, termasuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Arab Saudi, dengan partisipasi AS, Turki, dan Sudan Selatan. Namun, pihak disebut RSF menolak solusi damai dan tetap melakukan serangan.
Baca Juga: Jaga Stabilitas Perdamaian, Filipina-Kanada Gelar Latihan Gabungan di Laut Cina Selatan
“Sampai hari ini kami mengulurkan tangan perdamaian untuk menghentikan perang dan penderitaan rakyat Sudan,” imbuhnya.
Sebagai informasi, konflik bersenjata di Sudan pecah pada bulan April. Saat itu RSF dipimpin oleh Mohamed Hamdan Dagalo, yang sebelumnya bersekutu dengan Al-Burhan, mulai melakukan serangan untuk menguasai negara tersebut.
Hingga kini, PBB memperkirakan sekitar 5.000 orang telah terbunuh dan puluhan ribu warga Sudan terpaksa pengungsi di negara-negara tetangga. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































