Pantau Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza, AS akan Kirim 200 Pasukan

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan sekitar 200 tentara ke Israel untuk mendukung dan memantau kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Baca Juga: Netanyahu akan Rapat Kabinet untuk Sahkan Kesepakatan Damai Gaza
Melansir AP, Jumat (10/10), seorang sumber yang mengetahui rencana itu, mengatakan bahwa Komando Pusat AS (US Centcom) akan mendirikan "pusat koordinasi sipil-militer" di Israel yang akan membantu memfasilitasi distribusi bantuan kemanusiaan serta logistik dan keamanan ke wilayah yang dilanda perang selama dua tahun tersebut.
Pusat koordinasi itu akan dikelola oleh sekitar 200 personel militer AS yang memiliki keahlian di bidang transportasi, perencanaan, keamanan, logistik, dan teknik. Namun, tidak ada tentara AS yang akan dikirim ke Gaza.
Baca Juga: Kabinet Israel Ratifikasi Gencatan Senjata dan Pertukaran Tawanan Gaza
Pejabat lainnya juga mengungkapkan, Angkatan Bersenjata Mesir, Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab akan turut dilibatkan dalam tim yang terdiri dari 200 tentara AS tersebut. AS akan mengintegrasikan pasukan multinasional dan berkoordinasi dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF). (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































