Menko Polkam Djamari Dorong Penguatan Kemitraan Strategis Indonesia-Tiongkok

Jakarta, IDM – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan pentingnya memperkuat hubungan persahabatan dan Kemitraan Strategis Komprehensif antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Hal itu disampaikan Djamari saat menghadiri Resepsi Peringatan Hari Nasional ke-77 RRT di Dian Ballroom, Raffles Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Djamari menyampaikan ucapan selamat dan penghormatan kepada pemerintah serta rakyat Tiongkok.
Ia berharap hubungan kedua negara terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua bangsa.
“Semoga peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang bangsa Tiongkok, sekaligus meneguhkan semangat untuk terus membangun perdamaian, kemajuan, dan kesejahteraan bersama,” ujar Djamari.
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla, Korporasi Diproses Hukum
Djamari menuturkan hubungan diplomatik Indonesia dan Tiongkok telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.
Kedua negara secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada 13 April 1950, ketika negara-negara Asia tengah membangun tatanan dunia baru yang berlandaskan kemerdekaan, kedaulatan, dan persamaan derajat antarbangsa.
Menurutnya, semangat salah satunya tercermin dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Forum tersebut menunjukkan bahwa perbedaan sejarah, sistem politik, maupun kepentingan tidak menjadi penghalang bagi negara-negara untuk membangun komunikasi dan mencari titik temu.
“Bandung mengajarkan kepada kita bahwa negara-negara dengan latar belakang sejarah, sistem politik, dan kepentingan yang berbeda tetap dapat duduk bersama, membangun saling pengertian, dan mencari titik temu. Nilai-nilai inilah yang tetap relevan hingga hari ini,” katanya.
Hubungan bilateral kemudian berkembang dari Kemitraan Strategis pada 2005 menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2013. Saat ini, kerja sama kedua negara mencakup lima pilar utama, yakni politik, ekonomi, hubungan antarmasyarakat, maritim, serta keamanan.
Baca Juga: Pemerintah Konsentrasikan Kekuatan Penanganan Karhutla di Wilayah Berisiko Tinggi
Djamari menilai kelima pilar itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Tiongkok telah berkembang melampaui kerja sama perdagangan dan investasi.
“Kelima pilar menunjukkan bahwa kemitraan Indonesia dan Tiongkok tidak hanya berbicara mengenai perdagangan dan investasi. Kemitraan kita juga menyangkut bagaimana kedua negara membangun kepercayaan politik, menjaga keamanan, memperkuat konektivitas maritim, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta bersama-sama merespons tantangan yang semakin kompleks,” jelasnya.
Djamari menekankan pentingnya membangun kepercayaan strategis sebagai fondasi hubungan kedua negara.
Kepercayaan, menurut dia, tidak cukup dibangun melalui pernyataan politik, tetapi perlu diwujudkan melalui konsistensi, transparansi, komunikasi, dan kerja sama konkret.
Djamari menuturkan Indonesia terus mendorong kerja sama dalam penegakan hukum, pertukaran informasi, peningkatan kapasitas, pencegahan dan penanggulangan kejahatan transnasional, keamanan siber, kontraterorisme, serta berbagai tantangan keamanan nontradisional.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pantau Karhutla, 209,78 Hektare Masih Ditangani Tim Gabungan
“Melalui komunikasi strategis, kita dapat memperkuat saling pengertian, mengelola perbedaan secara dewasa, serta mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama baru,” ungkap Djamari.
Selain keamanan, sektor maritim menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan besar terhadap terciptanya kawasan laut yang aman, damai, stabil, dan terbuka bagi kerja sama serta pembangunan berkelanjutan.
Dalam membangun kerja sama tersebut, Indonesia tetap menempatkan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, kesetaraan, saling menguntungkan, serta nonintervensi sebagai landasan.
Stabilitas kawasan, kata Djamari, juga perlu dibangun melalui dialog, saling percaya, penghormatan terhadap hukum internasional, serta kemampuan mengelola perbedaan secara damai.
“Semoga Republik Rakyat Tiongkok terus mencapai kemajuan dan kemakmuran. Semoga persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok terus tumbuh. Dan semoga Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia dan Tiongkok senantiasa memberikan manfaat nyata bagi kedua bangsa, memperkuat perdamaian dan stabilitas kawasan, serta memberikan kontribusi bagi terciptanya dunia yang lebih damai, aman, dan sejahtera,” pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































