Latihan atau Bertempur, Menko Polkam Ingatkan Prajurit Natuna tak Boleh Lengah Sedetik Pun Jaga Perbatasan

Jakarta, IDM – Pemerintah semakin menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan utara Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, turun langsung meninjau kesiapan prajurit Yon Komposit 1/Gardapati, personel TNI-Polri, hingga unsur Gugus Tempur Laut Komando Armada I (Guspurla Koarmada I) di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Kunjungan tersebut menjadi penegasan Natuna tetap menjadi salah satu kawasan strategis nasional yang mendapat perhatian penuh pemerintah di tengah dinamika keamanan kawasan dan meningkatnya aktivitas di Laut Natuna Utara.
Di hadapan prajurit Yon Komposit 1/Gardapati, Marinir, dan personel Polri, Menko Polkam mengingatkan setiap personel yang bertugas di Natuna memikul amanah besar sebagai penjaga terdepan kedaulatan Indonesia.
"Tugasmu bukan tugas sembarangan, tidak sama dengan tugas di daerah lain. Kalian di sini menjaga kedaulatan kita. Seluruh unsur Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian harus kompak semua. Bangsa menunggu hasil dari tugasmu di sini," tegas Djamari.
Menurutnya, posisi Natuna yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara menjadikan profesionalisme, disiplin, dan soliditas lintas matra sebagai faktor utama dalam menjaga stabilitas kawasan.
Baca Juga: Sinergi Aparat Penegak Hukum Diperkuat, Kemenko Polkam Kawal Reformasi KUHAP Nasional
Pesan Khusus Presiden Prabowo
Dalam kesempatan tersebut, Menko Polkam juga menyampaikan salam sekaligus arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada seluruh prajurit yang bertugas di Natuna.
Presiden, kata Djamari, meminta seluruh personel menjaga kesehatan, memperkuat solidaritas, serta terus meningkatkan sinergi antarmatra demi menjaga kekuatan pertahanan nasional.
"Salam beliau adalah selamat bertugas, jaga kesehatan dan kekompakan kalian. Tugas kita masih belum akan selesai, ke depan mungkin akan semakin banyak," ujar Menko Polkam menyampaikan pesan Presiden.
Ia menerangkan Presiden Prabowo berulang kali mengingatkan pentingnya kekompakan TNI dan Polri sebagai fondasi utama kekuatan negara.
"Presiden berulang-ulang menyampaikan bahwa tulang punggung negara ini betul-betul tergantung kepada kekokohan dan kekompakan TNI dan Polri. Kalau dua tiang ini kokoh, negara kita menjadi kuat," katanya.
Menko Polkam juga menilai Natuna bukan hanya wilayah perbatasan, tetapi juga wajah Indonesia di mata dunia. Karena itu, setiap tindakan prajurit akan menjadi cerminan profesionalisme bangsa di hadapan negara-negara sekitar.
"Kalian yang bertugas di wilayah ini berhadapan langsung dengan negara-negara lain. Apa yang kalian perbuat di sini akan sangat berpengaruh pada pandangan negara-negara sekitar terhadap Indonesia," ujarnya.
Ia mengingatkan agar seluruh prajurit senantiasa memegang teguh sumpah prajurit, menjaga kehormatan institusi, sekaligus membawa nama baik Indonesia dalam setiap pelaksanaan tugas.
Dalam arahannya, Djamari juga menekankan kesiapan tempur tidak mungkin terbangun tanpa latihan yang konsisten.
Menurutnya, latihan merupakan ruh profesionalisme seorang prajurit sehingga kemampuan operasional harus terus diasah menghadapi berbagai kemungkinan ancaman.
"Ingat, tentara kalau tidak bertempur, ya berlatih. Tidak mungkin seorang prajurit mampu melaksanakan tugasnya tanpa latihan. Karena itu, teruslah berlatih, tingkatkan kemampuan, dan siapkan diri menghadapi setiap tantangan yang mungkin terjadi," tegasnya.
Selain menemui pasukan darat, Menko Polkam juga mengunjungi Gugus Tempur Laut Komando Armada I (Guspurla Koarmada I) di Selat Lampa.
Baca Juga: KKB Kembali Berulah! Menko Polkam Kutuk Pembakaran Pesawat AMA dan Pembunuhan Pilot
Dalam kesempatan itu, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali memaparkan kondisi keamanan maritim terkini, kesiapan operasi, hingga berbagai tantangan strategis di wilayah Laut Natuna Utara.
Menko Polkam menuturkan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar sistem pertahanan maritim berjalan semakin optimal.
Menurutnya, penguatan pengamanan wilayah perbatasan bukan hanya penting bagi tegaknya kedaulatan negara, tetapi juga menjadi fondasi keamanan jalur pelayaran, perdagangan internasional, sektor perikanan, hingga optimalisasi pemanfaatan sumber daya laut yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat perbatasan.
Guspurla Koarmada I sendiri merupakan Komando Pelaksana Operasi (Kolaksops) di bawah Panglima Koarmada I yang bermarkas di Fasilitas Pelabuhan TNI AL Selat Lampa, Natuna.
Satuan ini memiliki peran vital dalam operasi tempur laut, operasi amfibi, proyeksi kekuatan, serta penegakan hukum di laut untuk memastikan stabilitas keamanan maritim dan tegaknya kedaulatan Indonesia di Laut Natuna Utara.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Menko Polkam didampingi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura, Bupati Natuna Cen Sui Lan, Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, para deputi, serta jajaran pejabat Kemenko Polkam.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































