Karhutla Tembus 107 Ribu Hektare, Menko Polkam: 43 Helikopter Dikerahkan, Operasi Udara Senjata Utama

Jakarta, IDM – Pemerintah meningkatkan operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hingga kini telah melanda lebih dari 107.000 hektare wilayah Indonesia.
Pelbagai kekuatan, mulai dari satuan udara hingga personel di darat, terus dikerahkan untuk menekan meluasnya titik kebakaran.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan pemerintah telah mengantisipasi agar luas wilayah terdampak tidak terus bertambah.
“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektare lebih sampai dengan hari ini. Dan semoga ke depan kita masih bisa mempertahankan itu semua,” kata Djamari di Gedung Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).
Djamari menuturkan Operasi tidak hanya dilakukan melalui pengerahan pasukan di darat, tetapi juga mengandalkan kekuatan udara untuk menjangkau wilayah terdampak secara lebih luas.
Djamari mengungkapkan dalam operasi udara yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Udara, pemerintah telah mengerahkan sekitar 43 helikopter.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Syarat Pemimpin: Berani, Bijak, dan Punya Empati
Jumlah tersebut masih diperkuat dengan pesawat bersayap tetap atau fixed-wing yang dapat dikerahkan sekitar 10 hingga 15 unit, menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
“Dalam langkah melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh Satgas Udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan,” paparnya.
Sementara itu, kekuatan Satgas Darat juga telah dipersiapkan dalam jumlah besar. Personel di lapangan memiliki peran penting untuk melakukan penanganan langsung terhadap titik api sekaligus mengantisipasi penyebaran kebakaran.
“Kalau Satgas Darat banyak sekali yang disiapkan, banyak sekali dan kekuatan yang tercantum cukup banyak di darat,” kata Djamari.
Di tengah kondisi karhutla yang masih tinggi, Djamari menilai operasi udara merupakan salah satu langkah paling efektif untuk dilakukan.
Salah satu metode yang menjadi andalan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) melalui teknologi hujan buatan.
Pelaksanaan OMC oleh BMKG dan BNPB, kata Djamari, dapat memberikan dampak signifikan karena hujan buatan mampu menjangkau wilayah yang luas dan memasok air dalam jumlah besar dari udara.
“Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya yang paling tepat, operasi yang paling tepat dilakukan adalah yang efektif. Operasi udara sebenarnya sangat efektif,” tegasnya.
“Menimbulkan hujan buatan yang dilakukan oleh BMKG dan BNPB, itu yang paling tepat, paling efektif,” tambah Djamari.
Namun, operasi tersebut punya keterbatasan. Hujan buatan tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa adanya kondisi atmosfer yang mendukung, terutama keberadaan awan hujan yang dapat menjadi target modifikasi cuaca.
“Kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” ucapnya.
Maka dari itu, pemerintah harus bergerak cepat membaca perubahan kondisi cuaca.
Baca Juga: Bukan Sekadar Berani, Presiden Prabowo Ungkap “Senjata Rahasia” Pemimpin
Sedikit saja terdapat indikasi perubahan atmosfer yang memungkinkan terbentuknya awan hujan, operasi modifikasi cuaca harus segera dilakukan.
“Untuk itu maka kita mewaspadai betul perubahan cuaca sedikit apapun yang kira-kira akan memunculkan awan hujan segera kita melakukan operasi modifikasi cuaca,” ujar Djamari.
Djamari juga menegaskan efektivitas OMC tidak berarti pemerintah dapat sepenuhnya bergantung pada operasi udara.
Kondisi cuaca yang tidak selalu menghadirkan awan hujan membuat strategi penanganan karhutla harus tetap dilakukan secara berlapis.
Ketika kondisi atmosfer memungkinkan, hujan buatan memang menjadi instrumen yang sangat membantu. Air yang dijatuhkan dari udara dapat membasahi wilayah yang luas sekaligus membantu mengendalikan titik-titik kebakaran.
“Itu yang sangat membantu karena cukup air besar jatuh dari udara kemudian dalam daerah yang sangat luas,” ujarnya.
Pemerintah kini mengandalkan kombinasi operasi udara dan darat untuk menghadapi karhutla.
Kekuatan helikopter, pesawat fixed-wing, personel Satgas Darat, serta kemampuan membaca dinamika cuaca menjadi bagian dari strategi terpadu untuk mencegah kebakaran meluas.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































