Kapal Meledak di Selat Hormuz, KBRI Abu Dhabi Upayakan Pencarian WNI yang Hilang

Jakarta, IDM - Pemerintah Indonesia melalui KBRI Abu Dhabi terus memantau secara intensif perkembangan insiden meledaknya kapal Musaffah 2 di sekitar Selat Hormuz yang mengakibatkan sejumlah awak kapal menjadi korban, termasuk warga negara Indonesia (WNI).
Melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Senin (9/3), laporan insiden itu diterima KBRI Abu Dhabi dari salah satu WNI yang selamat berinisial AEN, yang merupakan penumpang sekaligus teknisi di kapal Musaffah 2.
Insiden bermula dari kapal kontainer Safeen Prestige yang mengalami kerusakan di perairan Oman dekat Selat Hormuz. Perusahaan Safeen Provider kemudian menugaskan kapal Musaffah 2 yang membawa 7 awak kapal dan 6 teknisi untuk melakukan pemeriksaan serta upaya perbaikan. Kapal Musaffah 2 berangkat dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab pada 5 Maret 2026 sore hari dan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 waktu setempat.
Baca Juga: Target Tuntas Tahun Ini! Perundingan Kode Etik LCS Masuki Fase Krusial
Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal Safeen Prestige dinilai tidak dapat diperbaiki di lokasi karena tidak memiliki suplai listrik sehingga diputuskan untuk dilakukan penarikan (towing). Sebanyak enam teknisi, termasuk AEN, kemudian naik ke kapal Safeen Prestige untuk membantu persiapan tersebut.
Sekitar pukul 02.00 dini hari pada 6 Maret 2026, saat proses persiapan penarikan hampir selesai, kapal Musaffah 2 dilaporkan mengalami ledakan yang menyebabkan kebakaran pada kapal, termasuk pada bagian anjungan.
Penyebab pasti ledakan tersebut hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan oleh otoritas terkait. Dalam insiden tersebut, beberapa awak kapal berhasil selamat, termasuk satu WNI (YRJ), sementara tiga WNI lainnya (MP, SR, dan AS) yang merupakan awak kapal Musaffah 2, hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Selain itu, terdapat satu warga negara asing yang juga dilaporkan hilang.
Baca Juga: Konflik dengan AS-Israel Terus Berkecamuk, Iran Tunjuk Pemimpin Tertinggi Baru
Saat ini KBRI Abu Dhabi terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dengan KBRI Muskat dan otoritas setempat, guna memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyebab insiden serta perkembangan proses pencarian korban.
KBRI Abu Dhabi juga tengah memfasilitasi penanganan terhadap WNI yang menjadi korban selamat dan memastikan pemenuhan hak-hak dan perlindungan bagi WNI yang terdampak dalam insiden tersebut.
"Memperhatikan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, KBRI Abu Dhabi kembali mengimbau seluruh WNI di wilayah Uni Emirat Arab, termasuk ABK WNI yang bekerja di kapal laut, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat," tulis KBRI Abu Dhabi. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































